Jangan Ada Mantan di Antara Kita.
.
.
.
Biasakan setelah memegang sesuatu lakukan cuci tangan agar bakteri ataupun virus menghilang dan mati. Biasakan pula jika sudah menjadi mantan hilangkanlah kontaknya dan hapus semua foto-foto yang ada di galerimu. Itu akan menjadi penyebab hancurnya sebuah hubungan. Menuhin memori aja. Mending kalau buat takut-takutin tikus di dapur.
Sudah lebih dari puluhan kali sang gadis meminta agar si pemilik ponsel mau menghapus foto mantannya dan memblokir nomornya. Banyak sekali pesan masuk datang dari mantannya. Tak ada satupun yang dibalas. Lantas untuk apa masih menyimpannya. Bikin darting aja. Darah tinggi maksudnya.
Dibaca dan dibiarkan menumpuk seperti sampah. Pesan itu sudah lama sejak terakhir mereka putus katanya. Itu sudah lumayan lama sekali, sudah dua tahun semenjak Dimas putus dengan mantannya itu. Gerah sekali Maryam lihatnya.
"Aku aja deh ya, yang hapus." Maryam menggulir kebawah isi pesan yang sungguh mengganggu sekali.
Isinya seperti..
Dim, udah makan?
Hari ini kamu latihan sanggar kan? Aku boleh kan lihat kamu latihan?
Besok anter aku mau gak?
Dim, jangan cuek gitu dong. Aku kan udah minta maaf, kamu bales dong pesan aku.
Buka blokiran di WA kamu.
Aku cuma punya kamu tau, Dim.
Maryam menahan gejolak api yang barang kali memuntahkan lahar panasnya. Sungguh keterlaluan yang namanya mantan itu.
"Ih, enak aja. Gak. Gak boleh." Dimas merebut ponselnya. Ia menyimpan kembali kedalam tas sekolahnya.
"Buat apa kamu nunjukkin isi pesan mantan kamu itu, kalau ujung-ujungnya aku dilarang hapus isi pesannya?" Kata mantan sengaja ia ucapkan dengan keras dan penuh penekanan.
"Ya, kan aku mau kasih tau aja. Ini loh mantan aku sampe sekarang masih kirim pesan. Bukan berarti aku minta kamu buat hapus isinya." Dengan santainya Dimas mengucapkan bahwa mantannya terus mengirimkan pesan.
"Kamu tau gak, setelah kamu kasih lihat isi pesan mantan kamu itu perasaan aku gimana sekarang?" Kata mantan masih diucapkan dengan nada tidak suka oleh Maryam.
"Enggak."
Seenggak peka itu? What the?!
"Aku marah, loh."
"Cuma marah?"
"Cuma?!" Maryam teriak, bahkan Dimas refleks menutup telinganya saking melengkingnya suara Maryam.
Dimas tertawa, ia berhasil mempermainkan perasaan Maryam. Niatnya hanya ingin menunjukkan kalau mantannya masih mengirim pesan kepadanya, yang ternyata malah aksi ngambeknya Maryam.
"Udah mau maghrib, kamu silahkan pulang."
"Ngusir halus ya, neng."
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Love (Slow Update)
Sonstiges"Jika kamu mencintai dua orang, pilihlah yang kedua, karena jika kamu mencintai yg pertama dengan tulus, kamu tidak akan mencintai yang ke dua." Seorang perempuan yang bimbang memilih laki-laki yang pantas untuknya, membuat pikiran buruk dari siapa...
