Seperti ini lah hidup. Pertemuan awal seseorang tidak menjamin akan menjadi ia yang terakhir.
"Aku ingin mengubah takdir jikalau Tuhan memberi izin."
-Maryam.
_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
"Urusan lo sama dia udah beres?" Rifky menelepon setelah Maryam mengirim pesan bahwa ia akan menuju ke pertemuan yang dijanjikan sebelumnya.
Maryam sudah membuat rencana pertemuannya dengan Dimas dan Rifky di hari yang sama namun ditempat yang berbeda.
"Kalau boleh jujur, gue lebih milih mati dari pada harus tersiksa." Ketus Maryam.
"Lo udah dimana? Harus gue jemput keberadaan lo?" Rifky tidak ingin membahasnya di telepon. Ia akan menunggu dan membicarakan secara langsung.
"Gak perlu, gue udah mau sampe. Tunggu aja."
Begitu sambungan terputus, terlihat Maryam sedang berjalan menghampiri mobilnya dari arah belakang. Rifky memperhatikan bagaimana wajah gadis itu, mata yang sedikit menyisakan linangan air dan wajahnya yang tertekuk. Sedih sekali rasanya melihat orang yang kau sayang menderita. Namun ini memang sudah jalannya. Cepat atau lambat, mereka akan merasakannya.
"Bagi tisu." Begitu Maryam masuk ke sisi samping kemudi Rifky memperhatikannya, mengelap sisa ingusnya dan menghela nafas. Pasti berat sekali.
"Mau makan es krim?" Tanya Rifky setelah dirasa Maryam sedikit tenang.
What the?! Bulan puasa coeg.
"Gila! Lo mau bikin gue tambah dosa?!"
"Siapa tau es krim bisa bikin lo jadi lebih enakan?" Rifky tidak yakin ia akan baik-baik saja setelah ini.
Dan benar saja, detik itu juga Maryam memukul kepala Rizky kencang sekali. Sampai yang empunya kepala mengaduh kesakitan.
Sumpah, sakit sekali. Ini tidak main-main. Maryam seperti melampiaskan sesuatu yang membuatnya mengorbankan kepalanya yang sempurna.
"Belum apa-apa udah KDRT." Rifky hanya bisa bermisuh-misuh. Ia kesakitan dan pelakunya tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kapan nih berangkatnya? Gue turun aja nih kalau lama!" Ck, ya elah baru kena pukul udah di semprot pake omelan. Rifky menuruti saja. Ia segera menyalakan mesin dan melaju dengan kecepatan sedang.
Diperjalanan mereka masih terdiam cukup lama. Membutuhkan waktu dua jam untuk sampai pada tujuan mereka. Maryam yang dari semalam belum tidur nyenyak, kini memposisikan tubuhnya dan menurunkan sedikit kursinya agar nyaman saat ia tertidur.
"Berapa lama?"
"Apanya?"
"Sama Dimas?"
"Entah."
"Lah? Gimana sih?"
"Kepo banget, sih lo?"
"Cuma tanya."
Setelah itu hening kembali.
Maryam melepas kerudung, ia merasa gerah dan emosi saat membahas persoalan hubungannya dengan Dimas. Ia tidak ingin menangis lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Love (Slow Update)
Acak"Jika kamu mencintai dua orang, pilihlah yang kedua, karena jika kamu mencintai yg pertama dengan tulus, kamu tidak akan mencintai yang ke dua." Seorang perempuan yang bimbang memilih laki-laki yang pantas untuknya, membuat pikiran buruk dari siapa...
