Twenty Nine

9 2 0
                                        

Besok kita bertemu. Setelah itu tak akan ada pertemuan lagi.

-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-

Setiap orang mempunyai alasan tersendiri untuk menjaga perasaan, dan ini lah yang di rasakan Maryam. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ia tak pandai menyembunyikan sesuatu. Hatinya mudah goyah hanya karena seseorang yang begitu ia sayang. Terlampau mencintai sehingga sulit melupakan. Ingin ia tinggalkan namun semakin ia ingin peluk dengan erat. Tak rela jika perempuan lain mengambilnya. Tak rela jika kekasih hatinya menyukai perempuan lain.

Maryam mempunyai alasan kuat mengapa ia akhir-akhir ini begitu dingin sikapnya terhadap Dimas. Ia sungguh dilanda kebimbangan. Cerita dengan orang tua hingga teman-teman setianya sudah. Namun hatinya kembali sedih, yang di rasa adalah ketakutan. Ia takut kehilangan. Tapi ia tidak bisa memilih.

Sholat istikharah masih terus dijalani. Meminta petunjuk Sang Ilahi Rabbi. Memohon agar diberi kemudahan dalam segala urusannya. Dan diberi jawaban kepastian akan kebimbangannya. Sungguh Maryam telah bertengkar batin setiap hari.

Sudah tiga hari, Maryam mengabaikan Dimas yang selalu memberikan perhatian kecil. Maryam tidak tahu harus bagaimana. Ia sangat sakit menahan rindu, ia sangat ingin membalas ucapan selamat malam Dimas saat ini. Pesan yang sudah lima belas menit berlalu masih belum ia buka dan membalasnya. Ia takut hatinya akan goyah.

Dimas
(Dimas membagikan sebuah audio) 🎧
20.42

Petikan gitar mengalun beriringan dengan suara false Dimas yang begitu kecil. Terlalu kebanting dengan suara gitarnya.

Entah lagu apa yang sudah dinyanyikannya. Maryam hanya mendengar tanpa tahu artinya. Karena lagu tersebut tidak menggunakan bahasa indonesia, melainkan bahasa Jawa yang khas dengan ke medokkannya.

Maryam masih belum mau membalas. Ia putar berulang kali hingga ia sadar dirinya telah terlena dengan sisi romantis Dimas yang baru beberapa minggu belakangan ini sering bermain gitar yang ia pelajari dengan sang kakak. Tidak mudah bagi seorang Dimas yang notabene nya lebih menyukai alat musik tradisional dibanding modern seperti gitar.

Dulu saat Maryam mencoba membujuknya untuk sekali saja bermain gitar dan bawakan lagu yang disukainya, Dimas menolak mentah-mentah. Kira-kira seperti ini tanggapannya.

"Cih, main gitar. Apa bagusnya? Mending juga rampak gendang."

Dan..

"Gak ah, gak bisa. Eh, gak mau deh. Sakit jarinya. Susah mainnya."

Lihat, sekarang siapa yang sering menyanyikan lagu dengan iringan alat musik yang bernama gitar tersebut. Oh ayolah, akui saja kau Dimas bahwa gengsimu lebih tinggi dibanding dengan Maryam.

Memang kebanyakan alat musik yang ada di kamar Dimas adalah gendang, rampak, tabuh, dan karinding.

Dimas tipe anak yang tidak ingin repot. Alis simple. A.ka. praktis. Namun Maryam dibuat takjub dengan hasil permainan gitar yang di petik secara amatir oleh Dimas. Memang tidak sebagus seperti orang pada umumnya. Kegigihan Dimas dalam membawakan sebuah lagu dan menyambung ke lagu berikutnya membuat Maryam meringis sedih dan bahagia sekaligus.

Dimas pernah mengadu sakit pada jari-jarinya yang sering memindahkan kunci gitar, sedikit kemerahan dan bengkak. Maryam merasa bersalah, namun ia tidak meminta maaf sebab Maryam tidak pernah menyuruh Dimas melakukan hal nekat begitu. Ia suka dengan Dimas yang apa adanya. Ia sangat suka Dimas yang romantis dengan caranya. Salahkan saja Dimas yang terlalu bawa perasaan ketika Maryam pernah bilang jika dirinya suka dengan laki-laki yang sedang memainkan gitar, sangat romantis dan begitu menawan.

Second Love (Slow Update) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang