Twenty two

19 3 0
                                        

"Anjir. Bagong. Bego. Rifky mati lo!" Maryam berusaha menarik selimut yang membuntal seluruh tubuhnya dari tangan kekar Rifky.

"Bangun, Yam. Udah siang lo masih betah aja di kasur." Rifky dengan santai nya tetap kekeh menarik paksa selimut Maryam.

"Keluar pe'a! Gue lagi gak pake busana!"

Rifky tahu, Maryam hanya berusaha membohonginya saja agar ia tidak mengganggu tidur sang ratu malas.

"Ya udah, kalo gitu gue mau lihat. Mana." sedetik itu juga Maryam berteriak kencang tak peduli jika tetangganya terganggu.

***

Setelah perdebatan tadi, Maryam akhirnya berhasil keluar kamar. Rifky tidak sekali dua kali memasuki kamar perempuan malas seperti Maryam ini, sudah setiap minggunya ia mengecek kamar berantakan dari Maryam. Mama Maryam pun tak keberatan selagi Rifky menjaga selalu hawa nafsunya.

Lagi pula, Maryam tak pernah menganggapnya sebagai teman laki-laki. Ia menganggap Rifky sebagai kakaknya saja sudah merepotkan.

Sungguh sial, di akhir minggu ini. Ia hanya ingin menghabiskan tidur dan bermanja dengan bacaan Wattpad saja. Ia lupa jika Rifky akan datang dan mengacaukan seluruh impiannya untuk bermalasan.

"Ayo! Buruan dikit dong. Lelet banget." Maryam hanya berdecak malas dan mulai menggerakkan kakinya kembali.

Lebih dari dua meter di depan Maryam, Rifky berlari santai. Dengan setelan kaos navy polos dan celana trainingnya. Dan entah mengapa Maryam baru tersadar jika dirinya pun memakai baju berwarna yang sama, hanya kaos nya berlengan panjang juga ada sedikit tulisan di bagian dadanya 'Whiskey' adalah salah satu nama minuman keras—haram— yang terkenal mahal.

Suasana pagi—menjelang siang— begitu ramai di minggu ini, karena terdapat sebuah acara besar yang tidak jauh dari tempat mereka berlari. Sebuah acara yang membuat begitu banyak manusia menjadi lautan sangat antusias mengikuti ajang lomba.

Meski begitu Maryam hanya memperhatikan sesekali dan kembali melanjutkan larinya yang sebenarnya dilakukan Maryam hanya berjalan saja. Sesekali ia menambah laju jalannya jika Rifky menoleh kebelakang mengecek dirinya. Entah mengapa Maryam berpikir kalau suara Rifky lebih nyaring dibanding suaranya jika berteriak.

"Maryam!" panggilan seseorang membuat Maryam memelankan laju kakinya dan menoleh ke sisi kanan dimana sedang berlangsung nya acara lomba tersebut.

"Arif? Kok disini?" astaga. Pertanyaan macam apa itu. Jelas, Arif memang penghuni perkomplekan daerah sini. Maryam bodoh.

Arif menyebrang dan sampai ke hadapan Maryam yang tengah menatapnya tanpa berkedip. Canggung. Malu. Tapi mau. *tampar

"Sendiri aja kesini?" Arif mengelap keringatnya dengan handuk kecil yang ia bawa sedari tadi. Dan gerakan Arif tak luput dari pandangan Maryam. Menahan nafas.

"Err.. O–oh. Iya sendiri." Seketika Maryam lupa keberadaan Rifky yang entah sudah dimana.

"Mau liat kesana?" tunjuk Arif ke acara lomba khusus olahraga tersebut.

Maryam mengangguk dan tersenyum senang. Munafik sekali. Saat Arif yang mengajak entah mengapa tidak bisa menolak. Sesaat Maryam menengok ke arah hilangnya Rifky sebelum menyebrang jalan dengan Arif.

Bodo amat lah. Batin Maryam cuek.

Berbagai pedagang memenuhi sisi jalan dekat acara lomba berlangsung. Paling banyak pedagang baju dan kerudung. Namun bukan itu yang menjadi ia begitu tertarik, melainkan Arif yang berada di hadapannya yang terlihat sangat keren, tampan, dan juga tinggi. Oh Maryam telah teracun mati saat ini. Ia bermimpi agar bisa menikah secepatnya dengan Arif sang cinta pertama.

Second Love (Slow Update) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang