Saat ini , Arga, Carla, Beta, Galih sedang berkumpul di Apartemen Carla.
Carla memang tinggal sendiri. Berjauhan dengan keluarganya. Ia jauh dari orang tuanya semenjak orang tuanya bercerai. Dan selama setahun ini orang yang bisa diandalkannya hanya teman temannya. Maka dari itu ketiga laki laki ini selalu berkunjung ke apartement Carla ketika ada waktu luang.
"Lo kok ga pernah pulang sih Ga? Waktu di rumah sakit orang tua lo juga ga muncul. Lo lagi ada masalah ya?" tanya Beta.
"Nggak, gue sekarang udah nggak tinggal sama ortu" sahut Arga.
"Lah? Lo tinggal dimana dong?" sahut Galih.
"Apart" sahut Arga.
"Kok kita ga pernah tahu sih! Maen ke apart lo yok!" sahut Carla semangat.
"Nggak, ga boleh" sahut Arga datar. Wajahnya masih saja menatap kolom chat di hpnya. Kenapa tidak ada pesan masuk?
"Ck, sejak kapan ada rahasia diantara kita?" sahut Galih dramatis.
"Bct" Arga langsung berdiri memakai jaketnya dan keluar apartement Carla.
"Elah! Lo mau kemana!?" teriak Beta.
"Pulang!" sahut Arga.
.
.
.
Archa terbangun di rumah sakit. Tidak heran, ia sudah menyangkanya.Yang tidak ia sangka adalah. Kembali bertemu dengan Dokter Rina. Dokter yang menangani dirinya sejak dahulu. Dan sekarang ia sedang di omeli sama dokter satu itu. Tentang kejiwaannya.
"Archa! Sejak kapan kamu mulai melakukan kebiasaan burukmu lagi? Saya lihat ini ada 3 sayatan baru. Kenapa lagi? Ceritakan" ucap Dokter Rina.
"Emm, masih sama. Mungkinn, sekarang ditambah dengan nafsu makan berkurang. Yahh, saya ngaku kalo udah 2 hari nggak makan" ucap Archa.
"Kalo cuma dua hari nggak mungkin kamu sampai seperti ini. Seperti seminggu lebih kamu tidak menyentuh makanan berat" ucap Dokter Rina.
"Iyaa, akhir akhir ini saya tetap makan walaupun hanya satu roti sehari. Tapi dua hari ini saya benar benar tidak memyentuh makanan" sahut Archa. Ia tak akan berbohong di depan Dokter Rina. Cuma beliau yang mengerti tentang dirinya. Cuma dia yang tahu segalanya.
Dokter Rina menghela nafas pasrah.
"Ceritakan" ucapnya lembut.
Archa mengambil buku diary nya , membukanya dilembar awal mulai ini semua. Tentang kisahnya dan Arga bermulai. Ia memberikannya pada Dokter Rina.
Dokter Rina pun dengan suka rela segera membacanya.
01/06/19
Ga ada yang nyangka bukan?
Hari ini gue udah nggak single lagi dong
Sepanjang hari ini gue nggak tahu harus gimana
Bukan nggak tahu karena bingung mau ngapain.
Tapi lebih ke... nggak tahu apa yang gue rasain
Semuanya terasa hambar
Lebih ganyangka nya lagi. Dihari pernikahan gue. Gue malah ngerasa kayak gini.
Arga dia suami gue.
Udah terlihat dia orangnya dingin.
Wajahnya pun sama sepertiku. Datar.
Astaga ketika mengingat bagaimana kita disandingkan tadi. Benar benar membuatku ingin ketawa.
Bagaimana jika dihari pernikahan. Sepasang pengantin itu terus terusan bermuka datar.18/06/19
Seperti yang udah gue perkirakan.
Kita tinggal di apartement.
Luas, tapi cuma ada satu kamar. Dan selama ini 18 hari gue tinggal sama Arga.
Kita bagaikan orang asing yang disatukan.
Semua terasa datar, hambar, aneh.
Karena ini sedang liburan sekolah. Gue juga nggak tahu mau pergi kemana. Jadi setiap hari cuma nongkrong di rumah.
Maraton drama.
Biasanya Arga selalu pergi di siang hari. Lalu kembali pada saat malam hari.
Selalu makan makanan instan. Atau nggak delivery.
Oh ya, gue mau bilang. 18 hari ini kita nggak pernah ngobrol. Benar benar nggak pernah.
Walaupun kita tidur di satu tempat tidur.
Saling memunggungi.05/07/19
Gue udah mulai sekolah.
Satu hal yang baru ku ketahui.
Arga ternyata dekat dengan perempuan. Yahh cantik, tomboy. Cocok sih. Apalagi dia cerewet kan cocok sama Arga yang dingin banget.
Gue cumaa ga nyangka aja.
Ternyata Arga udah punya sosok yang sempurna di sisinya.
Lalu, ngapain gue masih disini?16/07/19
Sial!
Gue nggak nyangka semuanya terbongkar sekarang.
Sekali liat pun tahu, Arga sangat sangat marah. Kecewa. Benci
Salah ga sih?
Kalau guee cuma pingin hidup disisinya?
Walaupun cuma pajangan.
Gue tahu, gue nggak akan pernah bisa disampingnya
Selamanya sekalipun
Penyakit inii
Tidak mungkin membuatku hidup tenang dengan siapapun itu yang ada disampingku
Bagaimana kalau tiba tiba aku melukainya?
Melukai dia yang kusayang
Astagaa aku ingin keluar
Dari semua ini
Ahh sial, akhirnya tanganku kembali terluka.
Sayatan yang indah ^.^
Oh iya, pasangan yang sempurna untukmu.
Ahh setidaknya kalau gue mati sekarang, kan lo gausah sedih.
.
.
.
"Jadi dalam waktu satu minggu kamu udah ada 3 sayatan?"
Archa mengangguk.
"Kamu tahu, kalau kamu sedih kamu bisa datang ke saya. Bukan dengan menyayat tangan kamu"
"A_aku nggak tahuu... akuu... bingung, kayak terombang ambing. Apa salah kalau aku hanya ingin punya sandaran? Akuu... merasa sendiri" Archa bergumam pelan. Wajahnya tertunduk menghadap kedua tangannya yang saling meremas. Matanya melihat kesegala arah. Terlihat linglung.Dokter Rina berdiri, berjalan kearah Archa dan memeluknya.
Tak kusangka sudah separah ini, batin Rina.
Nanti ku up lagii, tapi habis kuliah key

KAMU SEDANG MEMBACA
Make It Right (Telah Terbit)
Ficção AdolescenteBagaimana jika berada di posisinya? Ada namun, tidak dianggap. Berstatus, tapi diabaikan. Ya, itu nasibnya. Dia, Archa yg mencintai Arga. Arga Yang mencintai dunianya dan tentu saja bukan Archa dunianya, melainkan wanita lain. Dia, Arga. Makhlu...