Dua Puluh Delapan

230 29 4
                                        

Lagi rajin update nihh, happy reading✨✨

🔸🔸🔸🔸🔸🔸

Di atas rooftop sekolah, aku diapit oleh dua orang laki-laki yang dengan sabar memberi arahan. Masih soal gitar, yang sudah menginjak H-13. Memang, secara perkembangan kemampuan, aku perlu berbangga diri. Mengingat, seorang Nada Melodia adalah orang yang membenci musik. Tapi kali ini, aku berhasil mengiringi lagu "Mother How Are You Today" dengan lancar. Meskipun sejujurnya, untuk kategori yang dilombakan nanti, aku belum memenuhi kriteria.

"Kayaknya untuk hari ini udah cukup." Delvin menyudahi petikan gitar yang random dia mainkan.

"Buat menuju fingerstyle, kayaknya masih jauh, ya?" Aku ingin bertanya dengan suara biasa saja, namun yang keluar malah sebuah nada pesimis menyedihkan.

Delvin menghembuskan napas. "Lumayan. Tapi dengan perkembangan lo yang cepet kayak gini, gue yakin lo pasti bisa."

Semoga.

"Semangat, ya," bisik Ares.

Aku jelas merona. Begitu menoleh, kutemukan dia yang sedang tersenyum manis. Tatapannya intens dan menyuntikan semangat dalam kadar besar.

"Ok, daripada jadi nyamuk, gue mendingan cabut aja," ujar Delvin sambil berdiri. Dia menyerahkan gitar kepadaku lantas melambai sambil berjalan menjauh.

"Thanks, Vin!" teriakku sebelum dia mencapai tangga.

"OK!" balas Delvin tak kalah berteriak.

Kini, tinggal kami berdua. Aku kembali melihat Ares, "Semangatin lagi dong, Res."

Dia tersenyum jahil, "Memangnya semangat dari aku ngaruh gitu?"

Aku menyibakkan rambut yang beterbangan akibat tertiup angin. "Ngaruh. Makanya, ayo semangatin lagi."

Sekonyong-konyong Ares berdiri, melipat kedua tangannya pada tembok rooftop. Aku menyandarkan gitar sebelum ikut berdiri di sebelahnya.

"SEMANGAT NADA! KAMU PASTI BISA!" Ares berteriak kencang.

Suara-suara di sekitar seolah menjadi senyap. Bahkan awan hitam yang sejak tadi mendekat ditiup angin pun seperti berhenti sejenak. Aku terngaga, namun tak urung tergelak juga. "Kenapa harus teriak?"

"BIAR DUNIA IKUT NYEMANGATIN KAMU JUGA!" lagi-lagi Ares menjawab dengan teriakan, yang kemudian menjelma gaung.

Aku tertawa.

"NADA,"

"ARES," balasku.

"KAMU PASTI BISA."

"TAPI AKU TAKUT!" Meskipun tidak mengerti mengapa kami harus berteriak dalam jarak sangat dekat, namun ini semua cukup menyenangkan.

"KAMU HEBAT, NAD. PERCAYA SAMA KEKUATAN ITU!"

"KALAU AKU KALAH GIMANA?"

"KAMU PASTI MENANG!"

"AKU AKAN BERUSAHA!"

"SEMANGAT!"

Aku mencintaimu, Ares -996.

Napasku terengah-engah. Jadi ketika membalasnya, aku memilih menoleh kemudian berkata, "Makasih."

Ares juga nampak kecapekan. Dia berbalik, untuk bersandar pada tembok rooftop. "Cape, ya?"

"He-eh." Aku nyengir.

"Gak usah lagi deh teriak-teriak kayak tadi," ujarnya, masih ngos-ngosan.

Halaman Terakhir [Telah Terbit]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang