Berapa lama NaRes ga update? Jangan sebut aku author php tolongggg.. Semoga belum pada lupa sama ceritanya ya. Kalo lupa baca ulang aja hehee✌✌
Happy reading!
-------------------------------
Fei masih belum memaafkanku. Bahkan, dia pindah duduk bersama Kinan- cewek paling pendiam di kelas yang biasanya duduk sendirian. Hal itu makin memperjelas ketidaksehatan hubungan kami, memuaskan rasa penasaran orang-orang bahwa aku dan Fei terbukti memang sedang tidak beres.
Pagi ini kuketahui Fei putus dengan Pandu. Kabar itu menyebar dari mulut ke mulut dengan cepat. Beriringan dengan dugaan penyebab putusnya, yaitu aku. Meski Ares bilang aku adalah korban dan tidak bersalah sedikitpun atas rusaknya percintaan mereka, tetap saja aku merasa jadi tersangka. Begitu juga orang-orang yang tak pernah absen melemparkan tatapan sinisnya.
Bel istirahat kedua menjadi hal yang melegakan. Aku menghambur keluar kelas, menuju kantin. Ares sudah menunggu di sana, di bangku paling pojok dekat konter roti bakar. Sejak Fei tak mau berbicara denganku, Ares memang dengan sukarela menemani jam-jam istirahat. Dia tersenyum saat aku mendekat.
"Roti selai kacang, seperti biasa." Ares memamerkan roti bakar dimeja.
"Makasih," balasku sambil duduk. Ternyata dia memang sudah memesannya sebelum aku datang.
Ares mendorong piringnya agar lebih dekat. "Besok aku pesenin rasa lain, ya? Terlalu sering makan kacang juga gak bagus."
Aku mengangguk lantas mulai mengunyah. Rasa khas selai kacang pun menguasai mulutku.
"Kamu gak makan?" Tanyaku di sela-sela mengunyah.
"Udah."
"Kapan?"
"Kemarin," cengirnya.
"Res, jangan bercanda. Kamu harus makan," aku memperingatkan. Seenaknya saja dia menyuruhku makan, padahal dia sendiri malas-malasan.
Ares mendesah, "Iya." Lantas dia mengacungkan tangan dan berseru, "Bu, nasi gorengnya satu.". Seseorang di balik konter mengacungkan jempol sebagai respons.
"Tiga minggu lagi festival musik," aku mengumumkan. Separuh pada Ares, separuh pada diriku sendiri.
"Kamu takut?" Ares bertanya tanpa sorot mengintimidasi.
Aku menunduk, memainkan potongan roti bakar di piring. "Aku takut untuk hasilnya."
"Selama kamu masih mau bertahan dan berjuang, aku yakin kamu bisa menang. Tapi aku juga gak mau memaksa, kamu boleh berhenti kapan aja, Nad."
Berhenti artinya menyerah. Dan aku tidak suka membawa-bawa kata itu dalam perjuangan konyol ini. Terlebih Delvin juga sudah ikut bersusah payah melatihku. Namun, kejujuran saat bersama Ares rasanya lebih ringan untuk dibicarakan.
"Aku yang mulai, jadi aku yang harus menyelesaikannya," ujarku pelan.
"Kalo kamu mulai merasa tersiksa, bilang, Nad. Dan kita akan berhenti. Soal Aldo, nanti aku yang urus."
Aku menaikkan pandangan dan langsung mendapat tatapan Ares. Ternyata sejak tadi matanya menatapku lurus. Aku menarik napas dalam-dalam. "Asalkan kamu selalu nemenin aku, gak akan pernah ada kata berhenti, Res."
Ares mengangguk. Meski dia tidak berikrar, dapat kutangkap kesungguhan dari anggukannya. Lalu dia menyodorkan milkshake yang ternyata sejak tadi ada bersama roti bakar juga. Bersamaan dengan itu, nasi goreng pesanan Ares datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halaman Terakhir [Telah Terbit]
RomansaCover by @achielll Sebagian part dihapus untuk keperluan penerbitan. __________________ Ares adalah temanku dan aku mencintainya! Yang bisa kulakukan selama ini hanyalah menulis kalimat 'Aku mencintaimu, Ares.' di diary. Jika kalimat itu sudah men...
![Halaman Terakhir [Telah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/172578576-64-k867201.jpg)