Listen to New Empire - A Little Braver when it goes to Irina and Axel scene.
•••••
3 Biggest wish this year.
Mengingatnya, Samantha terdiam. Pertanyaan yang beberapa hari lalu Chandra tanyakan padanya membuat Samantha terpaku. Kadang kala dia suka bertanya juga apa keinginan terbesarnya, tapi semua orang juga punya hal yang sama untuk jawaban pertama.
Bahagia.
Kalau ditanya sudah atau belum dia bahagia, jawabannya sudah. Samantha punya segalanya, walaupun dia bukan merupakan deretan anak berdarah biru yang punya keturunan terkenal dan dipandang, nyatanya hidupnya lebih untuk dikatakan cukup. Ayahnya bekerja sebagai seorang psikologi, ibunya merupakan jebolan penyanyi lawas yang sampai sekarang karya-karyanya masih sering dikenang. Jadi kalau bertanya perihal harta dan tahta, Samantha sebenarnya sudah memilikinya.
Hanya saja rasa bahagianya terasa belum lengkap karena salah satu permintaan orang tuanya yang menuntutnya untuk sesuatu. Zaman sekarang siapa juga yang masih percaya dengan perjodohan? Rasanya lucu membayangkan atau mengatakan kepada teman-temannya bahwa Samantha sudah sering bahkan berkali-kali ditentukan dalam memilih pasangan hidup. Tapi kenyataannya masih ada. Masih ada pemikiran kolot orang tua yang memaksa anaknya untuk memilih pria tepat menurut mereka.
Makanya saat Chandra bertanya mengenai 3 keinginan terbesarnya tahun ini, dan pria itu bilang tentang bertemu jodoh, Samantha menolak keras. Bertemu jodoh adalah hal yang memuakkan baginya, dia masih mau hidup tanpa aturan ketat yang ibu dan ayahnya paksakan. Samantha masih mau banyak belajar tentang apa yang belum diketahuinya, bukan menikah dengan pria-pria pilihan yang mempunyai kasta sederajat dengan keluarganya.
"Besok ya, jam 3 sore, di restauran yang kemarin mama kasih tau. Pakai pakaian bagus. Andri itu dokter spesialis tulang. Keluarganya terpandang, mama berdoa kamu sama dia jadinya."
"Mama denger kamu berantem sama Andri? Turun di tengah jalan dan nolak buat ikut bareng dia lagi? Kamu tuh... kenapa sih, susah banget diaturnya?"
"Anaknya Bu Wijaya kemarin baru pulang dari koasnya di Singapore, dia liat foto kamu terus nanyain tentang kamu. Coba gih, siapa tau cocok."
Berkali-kali Samantha menolak, berkali-kali Samantha semakin disodorkan. Karena itu setiap kali dia berdoa, Samantha selalu minta untuk lepas dari tuntutan yang orang tuanya mau. Lepas dari perkara perjodohan yang selalu orang tuanya ingat. Bahkan saking frustasinya dijodohkan dengan beberapa pria, Samantha sampai ingin menyewa pacar bohongan. Namun sadar kalau hal itu tidak mungkin dan terdengar konyol, ia menolak untuk melakukannya.
Lamunannya hilang begitu suara bel pintu luar rumahnya berbunyi. Samantha berada di area dapur dan menyadari kalau saat ini dia sedang berada di rumah seorang diri, Samantha jadi was-was. Takut kalau tiba-tiba saja Chandra kesini. Masalahnya, keadaan Samantha sama sekali tidak terlihat baik hari ini. Dia izin tidak masuk kantor karena tadi sempat tidak enak badan. Dan kini tubuhnya sudah berjalan ke arah pintu utama. Mengintip lewat gorden siapa yang membunyikan bel rumahnya dan buru-buru membuka pintu menuju gerbang saat melihat seorang kurir menunggunya.
"Mbak Wedney?" Kurir tersebut memastikan. Bertanya sambil menyerahkan secarik kertas yang harus ditandatangani sebelum memberikan sebuah paket kepadanya.
"Iya." Samantha mengangguk dan segera menandatangani lembaran tersebut. Mengambil paket yang terbungkus rapi dan berdiri di dekat gerbang rumahnya sambil menatap bungkusan tersebut bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sentimentally
General FictionPsychology says, you realize you love someone when you want them to be happy, even when it's not with you. Tapi tidak untuk Axelio. Kalau dia sadar sedang berada dalam fase mencintai seseorang, maka dia tidak akan rela membiarkan orang yang dicintai...
