29. Berhenti Sampai Disini

2.8K 311 439
                                        

The day i met you was the beginning of everything.

Juna mengakui kutipan tersebut hanya cocok diberikan untuk Irina dari hatinya yang terdalam. Hari dimana dirinya dan Irina bertemu. 3 tahun lalu di dalam keramaian transjakarta. Disaat hanya lelah yang penumpang lain rasakan, tapi justru Juna merasakan puncak kebahagiaannya karena menunggu untuk bertemu wanita itu lagi di tempat yang sama. Dan semuanya ditakdirkan begitu mudah, mereka berpacaran, mengatur masing-masing peran untuk membentuk sebuah hubungan yang seharusnya menjadi kebahagiaan. Semenjak itu Juna selalu merasa transjakarta memberikannya kenangan terbaik untuk diingat.

Tapi kini transjakarta bukanlah hal baik lagi untuk diingat ataupun dikenang. Tempat tersebut hanya sebatas memori pahit untuk Juna yang belum menerima kenyataan bahwa kini hubungannya dan Irina berakhir secepat itu.

Iya, hari dimana dia bertemu Irina adalah hari dimana semuanya dimulai.

Dimulai untuk bahagia, dimulai untuk mengkhianati, dan dimulai untuk berakhir.

Bahagianya berakhir ketika Irina memutuskan untuk menyerah pada hubungan mereka, Juna seakan ditimpa begitu banyak beban ketika mendengar kenyataan yang lebih menyakitkan dari kolega kerja wanita itu. Menyebutkan fakta bahwa Axel adalah satu-satunya pria yang sedang dekat dengan Irina dan kemungkinan besar mereka sudah menjalin sebuah hubungan baru-baru ini. Juna enggan mempercayainya, tapi omongan Teno seakan meyakinkannya lebih dari apapun. Ditambah sore itu, dimana terjadi pertengkaran antara Axel dan dirinya, Juna dapat dengan jelas melihat kebenaran baru bahwa Axel benar-benar peduli tentang Irina.

Dan malam ini, adalah kesempatan terakhirnya untuk berbicara dengan Irina juga mempertanyakan segala kebenarannya. Wanita itu setuju dengan ajakan pertemuan dari Juna. Awalnya Juna mengirim
pesan untuk datang ke sebuah restauran fine dining yang akan pria tersebut siapkan, tapi Irina justru meminta mereka untuk bicara di sekitaran taman ibukota yang sehabis pulang kerja begini selalu ramai dihuni.

Jadi disinilah dirinya berada. Juna duduk seorang diri di atas kursi putih panjang yang menghadap ke arah air mancur luas. Menunggu kedatangan Irina yang dia harapkan dapat bertemu secepatnya. Lalu lima menit berakhir hingga kini kedua mata Juna dihadapkan dengan pemandangan cantik sosok Irina yang memakai jaket oversized berwarna putih. Sedang melangkahkan kaki ke arah Juna dengan ekspresi wajah tanpa senyum seperti dulu. Makin dekat sosok tersebut membuat Juna ikut berdiri, dan itu benar-benar Irina.

Irina yang cantik dan akan selalu cantik saat tersenyum maupun berdiam diri seperti sekarang.

Irina yang selalu kelihatan mungil dan membuatnya berhasrat untuk mendekap tubuh wanita itu ke dalam pelukan.

Irina yang dia rindukan lebih dari apapun. Sedang berdiri di hadapannya, seorang diri.

"Aku tau kamu pasti dateng Na." Juna tersenyum, lebih tepatnya kedua mata pria itu terlihat berkaca-kaca. Seperti lama tak bertemu dan mengakibatkan kerinduan yang teramat sangat besar hingga mampu membuat Juna hampir menangisi keberadaan Irina di depannya.

"Kamu bilang mau nyelesain semuanya kan?"
Irina bertanya balik, mulai duduk tepat di samping Juna dengan jarak yang cukup jauh.

"Na, aku minta maaf. Mungkin kamu muak untuk denger kata maaf yang kesekian kalinya. Tapi sumpah demi Tuhan aku tulus minta maaf sama kamu, aku mau kamu lupain-"

"Juna," Irina menoleh, memotong ucapan pria itu untuk yang pertama kalinya malam ini.

Yang Juna lihat saat itu tatapan mata Irina sudah beda dari hari terakhir mereka bertemu. Hari dimana mereka berbicara di dalam mobil dan mendengar pengakuan menyakitkan tentang fakta-fakta hubungan mereka. Waktu itu Irina menangis banyak, matanya sendu, kelopaknya membengkak, seakan Juna dapat merasakan betapa sakitnya perasaan kesayangannya itu. Tapi detik ini, entah mengapa Juna justru tak menemukan kesedihan yang sama seperti dulu. Irina terlihat seakan dia baik-baik saja dengan keadaannya sekarang. Dan sejujurnya itu membuat Juna sedikit ketakutan.

SentimentallyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang