25. Merah, Hangat, dan Manis

2.8K 322 287
                                        

Lalu buram,

semuanya buram di pandangan Axel ketika Irina pada akhirnya mau memajukan wajah dan menaruh tepat bibirnya yang dingin pada permukaan bibir hangat Axel yang didominasi dengan aroma manis pahitnya anggur.

Kedua mata Axel tetap terbuka, menatap lekat kelopak mata Irina yang tertutup tenang dengan jarak sedekat ini. Axel dapat merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, ia bahkan takut kalau saja Irina dapat mendengar detakan jantungnya dan merasa terganggu. Penglihatannya makin lama makin jelas. Irina memang menciumnya, entah mengapa mau menuruti permintaan konyolnya tadi.

Tak ada lagi rasa mabuk yang memenuhi tubuh pria itu. Selama beberapa detik Irina menempelkan bibirnya, kemudian wanita tersebut membuka matanya perlahan dan memberi sedikit jarak. Tersenyum dengan kedua mata sayunya dan menatap Axel lekat lalu tertawa pelan sampai membuat sebagian rambutnya terjuntai halus di atas permukaan wajah Axel.

"Udah saya cium. Permintaan kamu tinggal satu ya." Ujar wanita itu asal. Sayangnya Axel mulai sadar ketika dia melihat wajah Irina memerah. Sadar akan kenyataan bahwa Irina mungkin sedang dibawah pengaruh alkohol saat ini.

Tapi tak bisa dipungkiri egonya terlalu besar untuk menahan gejolak merasakan manis dan dinginnya bibir merah wanita itu. Tak sampai beberapa detik setelah Irina membuka mulutnya untuk berkomentar, Axel membalas ucapannya cepat diiringi dengan kedua tangannya yang memegang dua sisi pipi Irina.

"Tadi bukan ciuman." Komentar Axel serius sebelum melanjutkan kata-katanya kembali. "Kalau ini baru bisa lo sebut ciuman." Ucapnya lagi seraya menyatukan kembali bibir Irina dengan bibirnya.

Aroma anggur yang menyengat kembali terkuak ketika bibir Axel mulai dengan lihai mengecupnya lembut. Ciumannya terkesan lambat namun intens. Seakan mengajarkan Irina bahwa definisi sesungguhnya ciuman adalah apa yang mereka lakukan saat ini, bukan hanya sentuhan bibir seperti sebelumnya. Kedua mata mereka tertutup rapat seiring dengan sebelah tangan Axel yang berpindah ke belakang tengkuk leher Irina. Mendorong kepala wanita itu lebih dekat disaat Irina mulai ikut larut dalam ciumannya. Awalnya Irina enggan bergerak mengikuti tempo yang Axel mainkan, namun karena ciuman Axel semakin dalam dan terkesan meminta untuk dibalas, Irina tergerak membalasnya.

Walaupun sebenarnya Axel paham bahwa Irina hanya mengasal saat melakukannya. Axel tidak peduli, dia terlalu dibutakan dengan hasrat memabukkan yang sedang mengelilingi dirinya detik ini. Irina sempurna dan rasa bibirnya lebih manis dari apapun, melebihi ekspektasi yang pernah Axel bayangkan. Dan pria itu menyukainya, sangat menyukainya sampai dia tak ingin waktu berakhir lebih cepat.

Tempo lambat yang awalnya Axel lakukan, kini perlahan mulai berubah menjadi lebih cepat. Napas mereka saling memburu. Membalas masing-masing kecupan bibir tak kalah cepat.

Pelan-pelan Axel mulai membawa lidahnya untuk menyapu halus disetiap sudut mulut Irina yang terbuka sedikit. Menikmati setiap inci rasa dan lembutnya permukaan bibir Irina dengan geloranya yang membuncah tinggi. Dengan lembut dan penuh hasrat, Axel berganti menghisap bibir bawah wanita itu berkali-kali. Menggigitnya pelan sesekali disaat Irina ikut membalas ciumannya tak kalah intens. Bibir mereka saling beradu panas, memberikan kehangatan lebih lewat ciuman memabukkan yang Axel pimpin saat ini.

Axel tau sebenarnya ini ilegal, dia tak boleh mencium Irina disaat wanita itu setengah sadar karena mabuk. Tapi bagaimanapun juga Irina yang memulainya lebih dulu, memancing hasrat Axel yang selama ini dia pertahankan baik-baik. Sampai pada beberapa menit setelah Axel terus-terusan menciumnya, pria itu tiba-tiba berhenti. Mengambil jeda agar Irina dapat menetralkan napasnya yang mulai tak teratur. Pelan-pelan kedua matanya terbuka. Melihat kedua mata sayu Irina yang juga ikut terbuka saat ini.

SentimentallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang