12. Antara Kamu dan Dia

1.9K 276 308
                                        

Harapan.

Apa sih yang kebanyakan orang tahu tentang kata itu?

Juna sendiri berpikir dari dulu dia tidak terlalu banyak menaruh harapan pada siapapun, dirinya sendiri maupun orang lain. Yang dia tahu, keberuntungan selalu berjalan mengikutinya disaat dia tidak meminta satu pun hal sempurna yang belum ada pada hidupnya.

Juna tidak pernah berharap bahwa dirinya dapat diterima semudah itu di kantor konsultan pajak yang katanya terdengat sulit untuk dijelajah, ditambah mendapatkan posisi sempurna karena masuk kategori orang-orang yang dihormati dan disegani karyawan lain.

Kala itu, Juna juga tidak pernah berharap bisa mendapatkan seorang wanita yang menjadi tipe ideal bagi semua pria. Irina muncul begitu saja dan semuanya terlihat mudah digapai oleh dirinya waktu itu. Singkatnya Juna memiliki apapun, tanpa harapan dan perjuangan berlebihan. Dan sejujurnya dia senang.

Namun kadang bukankah saat semuanya terlalu sempurna kita sibuk mencari celah seolah-olah banyak hal-hal buruk terlewati?

Bagi Juna, Irina sempurna. Wanita paling sempurna yang pernah ditemuinya selama 27 tahun ia hidup. Kalau kalian bertanya apa yang menjadi sebab Irina dipandang sempurna jawabannya ada banyak dan Juna sudah terlalu sering menyebutkan hal itu di hadapan teman-temannya dulu.

"Liat deh No, Nana kemarin masakin gue ini."

"Cantik gak? Cantik ya, cewek gue nih. Nananya Juna, hehehe."

"Cewek gue jurnalis wanita pertama di Indonesia yang secara langsung wawancarain presiden Korea Utara waktu itu."

"Duh... Nana kalau gue bilangin nurut banget, makin sayang gue."

"Kesukaan gue sama dengan kesukaan Nana juga. Dimana lagi coba gue bisa nemu yang se klop itu?"

Mungkin kalau Juna menyebutkan lebih banyak pujiannya tentang Irina kepada Byuno, pria konyol itu bisa jadi juga terpesona dalam segala kelebihan yang Irina miliki. Bahkan kadang kala, Byuno ikut-ikutan tersenyum saat mendengar Juna bercerita panjang lebar tentang betapa indahnya segala hal yang berkecimpungan dengan dunia Irina.

"Untuk sementara... bisa gak kasih saya kesempatan?"

Sore dini hari, disaat harusnya Juna menyelesaikan banyak hal di kantor pajak, pria itu lebih memilih berada dalam sebuah restauran yang menjual banyak kue-kue manis. Bersama seorang wanita, berdua dan duduk berhadapan menikmati banyaknya manisan yang tertera di atas meja.

"Kesempatan apa?" Juna balik bertanya seraya melihat wanita di depannya mulai menyeka noda selai coklat yang teroles di telapak tangannya dengan lembut.

"Kesempatan buat bikin perasaan Kak Juna bimbang."

Jinan berada di sana. Memakai gaun biru dongker cantik yang beberapa hari lalu Juna sempat belikan saat pria itu melewati toko-toko baju daerah Kemang. Ucapan yang Jinan katakan sebelumnya membuat kening Juna mengkerut, dia berpikir mungkin Jinan salah bicara, namun sayangnya Juna tak melihat sedikitpun tanda-tanda bahwa Jinan akan menarik perkataannya kembali.

"Jinan, saya gak ngerti."

"Iya, biar ka Juna bisa mikir dua kali untuk naruh dimana perasaan yang tepat. Kasih aku waktu untuk ngebuat Kak Juna ngerasain pengalaman bahagia sama Jinan, biar Kak Juna tahu bahwa masih ada yang lebih cocok sama hati kakak." Jinan membuang pandangannya ke segala arah, kedua pipinya memerah saat mengungkapkan kata-kata barusan.

SentimentallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang