22. Pengakuan Kedua Axel + (Trailer)

2.5K 310 339
                                        

Dua insan yang saat ini berada di dalam mobil tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Baik Irina maupun Axel sama-sama diam untuk sementara. Sejujurnya, Axel hanya mendengar Irina sesekali menarik napas untuk menetralkan sesenggukannya. Bahkan Irina tidak menolehkan kepala ke arah Axel. Wanita itu sibuk menyembunyikan raut wajahnya dengan cara menghadap ke arah kaca mobil. Menatap jalanan lenggang yang sedari tadi Axel lewati. Sampai tiba di pertengahan jalan, Axel mengambil jalur kiri.

Memberhentikan mobilnya dalam keadaan mesin menyala. Lalu pria itu menoleh ke samping dengan ekspresinya yang sulit untuk dibaca. Menatap Irina serius walaupun wajah wanita itu sepenuhnya tidak tertoleh ke arahnya.

"Gue gak tau harus mulai dari mana." Buka Axel dengan suara beratnya yang mendominasi keheningan di dalam mobil.

"Kalau gue tanya 'lo gak apa-apa' jawabannya udah di depan mata." Yang Axel maksudkan adalah Irina jelas tidak sedang baik-baik saja detik ini. Pria itu kemudian menekan tombol agar kaca mobil terbuka. Memberikan akses lebih banyak bagi udara malam untuk mengisi kepengapan dalam situasi begini.

"Saya mau pulang." Jawaban singkat Irina membuat pria itu membuang napas pelan.

"Look at me." Axel bersuara lagi. Tapi Irina tak kunjung membalas ataupun menuruti apa yang pria itu minta.

"Irina, lihat ke gue." Setelah kata-kata tadi keluar, Axel langsung mencondongkan tubuh ke posisi dekat kursi Irina. Membuat sabuk pengaman miliknya tertarik cukup kuat hingga mampu mendekat ke Irina.

"Let me see your face for a while." Saat mengucapkannya, Axel mengulurkan tangan untuk menyentuh dagu runcing Irina. Memaksanya secara lembut agar kepala Irina bergeser menghadap ke arahnya. Dan hal itu berhasil. Mereka berhadapan dalam jarak yang lumayan dekat saat waktu masih berjalan.

"Shit."

Tapi begitu wajahnya bertemu dengan wajah Irina, yang Axel langsung tangkap sekaligus sadari adalah luka di bagian bibir tengah wanita itu. Terluka cukup merah dan bengkak hingga sorot mata Axel hanya mampu fokus kesana. Makiannya terdengar kasar, namun itu sepenuhnya terjadi karena emosi dia yang memuncak mengingat seberapa brengseknya Juna mencium wanita ini hingga menyebabkan luka pada bibir Irina.

Irina menolak untuk menjawab. Hanya balas menatap mata pria itu sendu. Malam ini, seolah binar-binar bahagia yang biasanya muncul pada gemerlap iris mata coklat Irina, hilang untuk sementara. Axel membenci fakta itu lebih dari apapun.

"Udah tukang selingkuh, tolol, kasar lagi. Gak bisa nyium cewek secara baik-baik." Axel memaki lagi, berbicara spontan karena terlalu kesal dengan situasi saat ini.

Pria itu menarik tangannya dan melepaskan sentuhan pada dagu Irina untuk kembali memundurkan tubuhnya. Kemudian Axel menjalankan mobilnya kembali sekitar tiga meter dari jaraknya saat ini. Berhenti di lahan parkir minimarket terdekat dan berniat turun sebelum Irina menegurnya untuk bertanya.

"Kamu mau ngapain?"

"Tunggu aja disini. Gue ke minimarket sebentar doang. Jangan keluar dari mobil." Axel memberikan perintah pada kalimat terakhirnya yang hanya dapat Irina turuti secara diam-diam.

Lima menit berakhir semenjak kepergian Axel ke minimarket di depan, pria itu akhirnya selesai berbelanja dan masuk sambil membawa kantung plastik kecil yang tidak diketahui isinya apa saja. Begitu Axel duduk, hal pertama yang dilakukannya adalah merogoh kantung plastik tersebut untuk mengambil botol air mineral yang dibuka terlebih dahulu. Siap memberikan kepada Irina agar wanita itu bisa langsung meneguknya.

SentimentallyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang