Seminggu setelah OSP
Aku terbangun di pagi hari. Ada yang aneh. Biasanya, ketika aku bangun, langit masih gelap. Tapi, ini kok sudah terang?
Aku memandang jam. "Hah, jam 6??" teriakku kaget.
Aku mulai panik, bergegas ke kamar mandi. Salat subuh terburu-buru–meskipun waktunya telah habis, mandi secepat kilat, memakai seragam asal-asalan. Baju keluar, ikat pinggang entah kemana. Tak seperti biasanya yang rapi.
Aku tak sarapan, pun nebulizer. Hanya membawa alat dan obat-obatan, memasukkannya sembarangan ke dalam tas. Berlari menuju teras. Menghidupkan motor, dan aku sedang tidak beruntung. Ban motorku bocor.
Aku semakin panik. Aku pesan ojek online menggunakan ponsel. Beruntung, driver cepat datang. Dengan rasa cemas takut terlambat, aku menaiki motor driver.
Sudah di atas motor pun masalah timbul lagi. Jalanan macet. Aku semakin cemas tak terkendali. Keringat dingin bercucuran.
"Duh Mas, kayaknya ini akan telat deh," ujarku.
"Ya gimana, macet. Lain kali jangan bangun kesiangan,"
Setelah terbebas dari kemacetan, kami akhirnya sampai di pagar sekolah. Pagar SMA Cahaya Bangsa tidak pernah tutup, meskipun siswa-siswinya terlambat. Aku turun, membayar tarif, lalu buru-buru berlari menuju kelas. Tiba-tiba, seseorang mencegatku.
"Dik, kamu terlambat," ujarnya. Seorang kakak kelas berjas OSIS, berambut panjang diikat yang mencegatku. "Nama lengkap, kelas, alasan terlambat,"
"Zaky Adrian, 10 IPA 1, bangun kesiangan," jawabku malu.
Aku dan siswa-siswi lainnya dikumpulkan di lapangan. "Sekarang, kalian yang telat, push up 50 kali!"
Dengan malas, aku berjalan menuju lapangan.
"Mulai!"
Kami pun push-up. Ah, 50 kali? Menyebalkan.
"20...21...22...hh...hh..." Aku mulai terengah-engah.
Waktu berjalan sangat lama. Aku mulai kelelahan. Apakah aku selemah ini?
"Capek, Kak!" ujarku.
"Makanya, jangan telat," ujar sang kakak kelas dengan santai.
Matahari semakin terik menyengat. Kulitku yang pucat menjadi kemerahan. Ah, tidak apa-apa lah. Setidaknya, aku akan kurang pucat setelah ini.
"Ya ampun Adrian, lo kayak kepiting rebus gitu, hahaha," ledek Kevin yang juga terlambat. Aku mengabaikannya.
Setelah sekian lama hukuman push-up yang membuatku kelelahan, akhirnya berhenti juga.
"Selesai. Nah, sekarang kalian pakai kalung ini. Nggak boleh dilepas, kecuali ke kamar mandi. Terus, jam istirahat dan pulang, kalian nggak istirahat, tapi membuang sampah seluruh ruangan sekolah. Nanti akan dibagi-bagi."
Kakak itu menunjukkan kalung tali rafia, dengan kardus bertuliskan berbagai macam ledekan untuk siswa-siswi yang telat.
Kami berbaris, menunggu dikalungkan kardus menyebalkan itu. Akhirnya, punyaku dipakaikan. Tulisannya, "Kepiting Rebus Kesiangan." Keren sih, gaya tulisannya, ala lettering. Tapi, tetap saja yang namanya hukuman membuat malu!
Aku pun berjalan menuju kelas. Sesampainya di kelas, aku disambut berbagai macam ledekan.
"Eh, ada kepiting rebus kesiangan!"
"Kok Adrian telat? Tumben..."
"Guys, juara olimpiade barusan jadi kepiting rebus! Lihat tuh, muka dan kalungnya. Kesiangan pula,"
"Kasihan, tapi ngakak lihat Adrian gitu....Hahaha...."
Kelas menjadi ricuh. Guru belum datang, sepertinya jam kosong.
"Eh, Kepiting Rebus! Kebanyakan mimpi sih, jadi kesiangan," ujar Aldo. "Btw, sudah ada pengumuman hasil OSP kemarin. Gue sih lulus. Lo...Liat aja,"
Aku yang awalnya tersinggung dengan ucapan Aldo, menjadi penasaran dengan pengumuman yang dimaksud. Aku melirik Wahyu, ketua kelas.
"Izin lihat pengumuman," ujarku.
"Ok"
Aku pun keluar kelas, melihat pengumuman di Mading. Bibirku tersenyum lebar. Namaku di urutan kedua, Alden pertama, dan Aldo ketiga. Urutan 4,5, dan 6 aku tidak kenal. Mungkin anak kabupaten.
Tidak hanya pengumuman di Provinsi Jambi, ada juga dari provinsi lain. Kevin terlihat memandangi pengumuman, sama sepertiku. Ia tersenyum pula. Ada apa? Ia kan, bukan peserta olimpiade.
"Kenapa, Vin?" Tanyaku.
"Gue senang, Dri. Dua orang terdekat gue juara di tingkat provinsi, dan akan mewakili daerah masing-masing ke tingkat nasional," jawabnya.
"Dua orang terdekat? Siapa?"
"Lo dan sepupu gue. Dia dari Bandung, Jawa Barat. Sama-sama ikut fisika,"
"Siapa namanya?" Tanyaku. Mungkin, aku bisa menjadi temannya di OSN nanti.
"Gavin Muhammad Angkasa," Kevin menunjuk kolom nama sepupunya. Seketika aku melihat nilainya. Wow.
Ia berada dalam urutan pertama. Nilanya tinggi, jauh lebih tinggi dibandingkan aku, bahkan Alden. Melihat nilainya, aku yakin, pasti ia belajar lebih keras dariku. Atau, ia punya otak segenius BJ Habibie.
Saingan berat. Akankah ia membullyku? Berdasarkan pengalaman, orang-orang yang lebih pintar dariku cenderung berbuat seperti itu.
"Nggak usah khawatir, Dri. Gavin memang genius. IQ-nya 200. Tapi, dia baik kok. Ia ramah, periang, bersahabat. Kalau kamu nggak ngerti materi fisika, ia akan dengan senang hati ngajarin lo.
Dia nggak menganggap sesama peserta olimpiade sebagai saingan. Tapi justru sebagai teman akrab...." Ujar Kevin, seolah tahu kekhawatiranku.
"Oh, begitu ya..." Aku sebenarnya tak terlalu mempercayai ucapan Kevin. Aku ingin membuktikannya terlebih dahulu.
Ah, apa salahnya berprasangka baik?
Aku dan Kevin kembali ke kelas masing-masing.
~Story of Two Dreams~
Jam pulang telah tiba.
Aku tidak langsung pulang, tapi memungut sampah dari berbagai kelas terlebih dahulu. Mengerjakan hukuman karena terlambat tadi.
Aku kebagian membuang sampah seluruh kelas 10 IPA. 10 IPA 1, 2, dan 3. Cukup banyak.
Aku memindahkan sampah di tong ke kantong plastik, mengikatnya, lalu membawanya ke truk sampah. Setelah itu, kembali ke koridor lagi. Lakukan hal yang sama, hingga tugasku selesai. Melelahkan memang.
Setelah hukumanku selesai, aku pulang, menumpang motor Kevin. Kami saling bercerita. Aku bercerita tentang bagaimana aku bisa terlambat tadi pagi. Sementara Kevin, menceritakan Gavin, sepupunya yang genius itu. Sepertinya mereka akrab, namun sering bertengkar karena hal sepele.
Kevin menghentikan motornya di depan rumahku. Aku pun turun.
"Makasih, Vin," kataku.
"Sama-sama. Gue pergi dulu, ya,"
Motor Kevin pun berlalu. Aku memasuki rumah setelah dibukakan pintu.
Hari ini, menyebalkan sekaligus menyenangkan. Aku memang dihukum, tapi disisi lain, aku senang karena juara di tingkat provinsi.
~Story of Two Dreams~
Hai!
Sudah lama nih, nggak update. Maaf ya!
Kalau suka, jangan lupa vote dan komentar!
Terima kasih telah membaca!
See you!
