Karena sampai kapanpun nggak akan
perna ada kata 'melupakan' dalam sebuah persahabatan.
🍁🍁🍁
Senja mulai menghilang pertanda akan berganti tempat dengan sang cahaya rembulan ditengah kelamnya malam, membawa semilir angin sejuk untuk mengimbangi malam purnama ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam dan hari ini Tiffany tidak berangkat ke restauran tempatnya bekerja karena dia sudah Resign dari pekerjaan nya itu, begitupun dengan Studio Foto tempat kerjanya.
Alasannya hanya satu. Dalam waktu seminggu ini dia diberi kesempatan untuk berpamitan kepada teman temannya yang ada di bandung karena dia akan ikut ke Jakarta dimana keluarga nya tinggal.
Bahagia sekaligus sedih.
Bahagia karena akan berkumpul dengan keluarganya walau apapun yang akan terjadi nanti dan sedih karena meninggalkan teman temannya apalagi meninggalkan kota tempat dimana dia dibesarkan, Kota yang sudah menjadi sebagian dirinya selama hampir 17 tahun hidupnya ini.
Suara deruh motor mengalihkan Atensi nya dari layar Televisi yang menyala. Dia berjalan kearah teras rumahnya. Mereka datang. Teman temanya sudah datang, seperti perjanjian sepulang sekolah tadi.
"Weh.. Lo semua dateng ternyata, ayo masuk" sapa nya pada teman temannya.
"Tumben nggak kerja, kenapa?" tanya Brian.
"Nanti gue ceritain, ayok masuk dulu" ajaknya.
Denis dan kawan kawan langsung masuk kedalam rumah Tiffany, rumah yang ia dan kawan kawan sudah menganggap rumah sendiri karena itu yang Tiffany mau. Tidak ada rasa canggung antara mereka dan dengan yang lain pun, walau Tiffany menolak setiap ajakan untuk mengikat sebuah hubungan dengan mereka. Dan besoknya sikap mereka seperti tidak terjadi apa apa kemarin nya padahal dia baru ditembak teman laki lakinya.
"Nggak ada makanan re?" tanya Rendi.
"Ambil aja di kulkas, sekalian bawa banyak ya!" pintnya dan dijawab acungan jempol oleh rendi.
"Makan mulu pikiran lu ren" kata sinta.
"Kebutuhan manusia beb" jawabnya sambil menteng beberapa snack dan minuman.
"Padahal tadi lu baru makan bakso gue liat" kata sinta membuat Rendi cengengesan.
"Diabet tau rasa lu!" kata Fabian.
"Eh! Jangan nge-doain dong!" kesalnya yang dijawab juluran lidah oleh Sinta maupun Fabian membuat rendi kesal dan melempar snack yang ada ditangan nya kearah keduanya.
"Heh! Itu makan mubazir ntar bego!" kata Tiffany.
"Hehehe maaf buk ketua" jawabnya dengan cengiran polos.
"Eh ree! Motor lu dimana? Tumben biasanya di parkir di depan rumah" kata Aji.
"Oh itu! Motor gue lagi di bawa ama Bimo" kata Tiffany sekarang sudah duduk diruang tamu bersama yang lainnya.
"Kenapa dibawa sama Bimo?" tanya Denis.
"Gue suruh dia perbaik keknya ada Beberapa yang bermasalah. Soalnya akhir akhir ini motor gue rada rewel. sering mogok males gue"
"Sejak kapan motor bisa rewel re?"
"Nggak tau! Tapi motor gue iya awokawokawok" kata Tiffany diakhiri kekehannya.
"Rendi lu nggak bisa diem apa!? Rempong banget sih! Dari tadi juga!" kata sinta.
"Heheheh.. Sayang nya gue diem aja, bentar lagi selesai nih" katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
La Vida [Completed✅]
Novela JuvenilSomeone said : "everything will change, just a matter of time" Kalian percaya dengan kalimat itu? "Semuanya akan berubah, hanya tinggal menunggu waktu" Hm.. Entahlah menurutku itu tidak hanya sebuah kalimat penyemangat belaka tapi sebuah harap...
![La Vida [Completed✅]](https://img.wattpad.com/cover/192963610-64-k102225.jpg)