60. Ijin

1K 81 11
                                        

Karena sejujurnya
tidak ada pengorbanan yang tidak meninggalkan luka, mau itu diterima oleh kedua pihak sekaligus atau pihak disekitar nya.

🍁🍁🍁


Malam harinya seperti biasa, rutinitas Anggota keluarga Martadinata untuk meluangkan waktu bersama di ruang keluarga setelah Makan malam.

"Jadi kalian kalian berenam mau kuliah dimana nanti?" tanya Opa Hardi membuat mereka semua yang sedang mengobrol mengalihkan tatapannya kearah Opa Hardi.

"Aku ngikut Kak Helen, Varro sama Jordi" ucap Gracie menjawab dahulu.

"Aku juga"

"Aku juga"

"Aku juga"

"Aku juga" jawab Joshua.

"Kamu Tiffany?" tanya Ronald yang melihat keponakan nya itu hanya diam.

"Aku pengen ngomong sesuatu" ucap Tiffany menegakkan tubuhnya dan mengeluarkan sebuah berkas yang sedari tadi ia genggam dia balik punggung nya dan mengulurkan kearah Ronald membuat Pria itu bingung begitupun Keluarga nya yang lain.

"Wah.. Congrats sayang. Om gak nyangka" seru Ronald tiba tiba dengan mata berbinar membuat Arnold langsung mengambil alih dokumen itu dan membacanya bersama Mario, Hendra dan Harry disamping nya.

Tubuh Arnold menegang membaca itu dan itu semua tak luput dari pandangan Tiffany yang mulai was was dengan apa yang akan diucapkan Arnold selanjutnya.

"Kamu yakin?" itulah kata yang keluar dari mulut Arnold setelah sekian lama.

"Yakin!" jawab Tiffany tegas membuat Arnold mendengkus kesal.

"Ini Amerika loh Tiffany! Sedangkan umur kamu baru aja 18" ujar Arnold membuat semua orang yang disana bingung, Arkam langsung menarik Dokumen yang ada di tangan Arnold dan membacanya.

"Beasiswa?" cengo Rafael yang membaca surat itu.

"Kenapa sejauh itu?" tanya Arkam saat selesai membaca.

"Beasiswa nya di terima di dua tempat, di Amerika sama di Inggris" ucap Tiffany membuat Arkam memutar bola matanya malas.

"Sama sama jauh Afrea Tiffany! Gak bisa disini aja?" tanya Arkam membuat Tiffany terdiam sambil menunduk memainkan ujung hoodie nya.

"Kalo itu udah jadi mimpi nya kenapa kalian tentang. Biarin dia kejar mimpi nya." ucap Opa Hardi tiba tiba membuat mereka semua kaget.

"Aku setuju sama Opa, biarin Tiffany kejar mimpi nya. Aku cuma mau yang terbaik buat dia" timpal Jordi mendapat tatapan tajam dari Saudara saudara nya yang lain.

"Kamu butuh berapa tahun buat kuliah?" tanya Mario membuat Tiffany mendongak.

"6 tahun"

"Kenapa lama banget?!" protes Rendra dan Rafael berbarengan.

"Mau ambil dua jurusan" ujar Tiffany pelan tapi masih bisa di denger oleh orang orang disana.

"Apa aja?" tanya Helen penasaran.

"Kedokteran sama Bisnis"

"Kuliah cepat?" tanya Hendra dan dijawab anggukan oleh Tiffany.

"Di satu tempat?"

"Nggak. Di dua tempat, Di London dulu baru ke Amerika buat ambil kuliah Bisnis" jelas Tiffany membuat para Om nya mengangguk.

"Kamu yakin? Ini jauh dan kamu pasti tau resikonya" ujar Harry menatap serius kearah Tiffany tanpa memperdulikan protesan keponakan serta anak anaknya.

La Vida [Completed✅]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang