PART. 8

30K 1.3K 3
                                        

Maaf lama nggak update ya🥰

Jangan lupa vote and comen sebanyak-banyaknya😁

Sesampainya di rumah, Stevani langsung merebahkan dirinya diatas kasur king sizenya. Tanpa sadarpun akhirnya Stevani tertidur.

Jam menunjukkan pukul 5, Stevani langsung beranjak dari tempat tidur menuju ke kamara mandi. Setelah itu dia langsung menuju dapur.

“Yah, kok bahan-bahan makanan udah abis ya, gimana ya, kalau aku pergi sendiri aku takut, tapi kalo nggak pergi nanti aku sama Vano makan apa. ” piker Stevani.
Akhirnya Stevani terpaksa pergi sendiri, padahal hari sudah menjelang magrib.

Saat Stevani kelua dari supermarket, tidak ada ojek ataupun taxi lewat padahal langit sudah semakin gelap.

Akhirnya Stevani terpaksa pulang
dengan berjalan kaki, walaupun jarak antara rumahnya dan supermarket lumayan jauh. Tiba-tiba hujanpu turun, Stevani langsung berlari untuk berteduh di depan sebuah toko. Stevani langsung menepuk jidatnya, dia lupa dia tidak membawa hp sama sekali.

Dirumah, Devano terus mencari keberadaan Stevani, khawatir. Iya, itulah yang ada dalam hati Devano.

“ Kenapa Vani nggak pulang-pulang sih, kemana cobak dia. Pergi nggak pamit.” Kesal Devano dalam hati.
Tiba-tiba ada suara ketukan diluar, Devano berharap itu adalah Stevani. Saat membuka pintu Devano kaget, karena Stevani pulang dengan keadaaan basah, dengan kantong kresek yang Vani genggam.

“ Darimana?” Tanya Devanio dengan dingin.

“Maaf van, aku tadi dari supermarket beli bahan makanan, soalnya bahan makanan dirumah udah abis.” Jawab Stevani dengan lirih.

“Kenapa lo nggak minta dianterin.”

“Maaf, kamu tadikan masih tidur, aku takut mau ngebanunin.” Ucap Stevani dengan kepala yang masih menunduk.

Devanopun hanya bias menghela napasnya berat.

-Keesokan harinya,-

Saat Stevani ingin beranjak dari kasur, kepalanya terasa sangat pusing, diapun tetap nekat untuk berangkat sekolah. Seperti biasa Stevani berangkat bersama Devano.
Sesampainya di kelas, Stevani langsung merebahkan kepalanya di atas meja,

“ Lo kenapa dah van, lo sakit. Muka lo pucet banget.” Tanya Stella.

“Hmm, enggak kok, cuman sedikit pusing aja.” Jawab Stevani.

Pelajaranpun dimulai, Stevani hanya tidur terus di atas meja.

“Stevani” Panggil Pak Marta.

“ ahh, iya pak” Jawab Stevani dengan spontan.

“ Kenapa kamu tidur dijam pelajaran saya, jika kamu tidak berniat sekolah kenapa kamu sekolah hah” Bentak Pak Marta. Semua pun langsung tertuju ke Stevani

“Maaf pak”

“Sekarang kamu keluar, kamu hormat di bawah tiang bendera sampai jam istirahat.” Ujar Pak Marta.

“iy-iya pak”

Stevani langsung keluar, dia menuju ke lapagan upacara. Dan tepat saja, ada kelas yang lagi olahraga, saat Stevani memincingkan matanya, ternya itu adalah seklesnya Devano. Stevani langsung hormat di tiang  bendera. Terik matahari semakin menyengat. Stevani sudah tidak dapat lagi menahan keseimbangan tubunya, akhirnya dia pun ambruk,sebelum dia menyampai ke tanah ternyata ada sebuah tangan yang menopangnya. Tapi Stevani hanya samar-samar melihat orang itu, akhirnya Stevani langsung pingsan.
Di UKS,

“Gue  dimana,? Tanya Stevani setelah membuka matanya, dengan memegang kepalnya yang sangat pusing.

“ UKS,” jawab seseorang.
Stevani langsung kaget, “ Vano, kamu disini”

“ Hm, kenapa lo nggak bilang kalo lo sakit” Tanya Devano dengan dingin seperti biasa.

My Husband Is DEVANO (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang