Happy Reading
Stevani memasuki kelasnya dengan mata yang memerah.
"Van Lo kenapa" Tanya Stella. Keisya yang mendengarnya, menolehkan kepalanya ke belakang.
"Dia kenapa" tanyanya ke Stella
Stella mengangkat bahunya tidak tahu.
"Baiklah semua sudah mendapatkan bukunya satu satu kan" tanya bu Silla
"Sudah Bu"
"Sekarang buka halaman 175. Kerjakan dikertas, setelah jam terakhir biologi kumpulkan dimeja saya. Sekarang saya tinggal dulu karena ada urusan"
"Iya"
Murid-murid pun mengerjakan tugasnya dengan tenang.
Tak terasa jam istirahat sudah berbunyi.
"Kantin yuk" ajak Keisya.
"Yuk, Ayuk Van" ajak Stella.
"Kalian duluan aja. Gue nggak laper"
"Beneran nih. Apa gue beliin ntar"
"Nggak usah. Sana gih"
"Oke. Kita tinggal ya" Stevani mengangguk.
Stevani menelungsupkan kepalanya, menangis dalam diam. Dia teringat akan ucapan Devano. Dalam suatu hubungan memang harus memiliki rasa kepercayaan. Tapi Stevani memang memiliki sifat cemburuan tinggi.
Tiba-tiba Stevani terkejut, karena ada yang mengelus rambut kepalanya.
Stevani mendongakkan kepalanya, dan terlihat seseorang yang telah membuatnya menangis.
"Kenapa hm?" Tanya Devano
Stevani menggeleng, kemudian tersenyum.
"Kalo ada masalah cerita. Karena tadi ya? Kamu salah paham kok".
Kenapa Devano bisa tau kalo Stevani mengetahuinya, karena Dava memberitahu Devano.
"Tadi? Emng ada apa?" Tanya Stevani seolah-olah tidak mengetahui.
"Aku tau, kamu tadi liat kan. Tadi itu Zea cuman mau pamit. Dia mau ke luar negeri. Terus dia minta pelukan terkahir. Yaudah aku kasih aja. Lagipula kan terkahir" Jelas Devano lembut.
Jadi, Stevani hanya salah paham disini.
Stevani langsung memeluk Devano erat. Untung saja kelas sudah sepi.
Devano membalas pelukan Stevani tak kalah eratnya. Dan dia mengecup puncak kepala Stevani lembut.
"Kenapa nggak ke kantin?"
Stevani menggeleng, "males. Nggak mood"
Devano menghela nafasnya, "sekarang kita makan yuk. " Stevani hanya pasrah, lagipula sebenarnya perut Stevani sudah meronta-ronta sejak tadi.
Sesampainya dikantin, Stevani dipanggil oleh kedua sahabatnya.
"Stevani sini, " teriak Keisya.
Stevani menghampiri kedua sahabatnya, tapi langkahnya di cegah oleh Devano.
"Kita ke tempat yang pojok aja"
"Yaudah deh" Stevani mengisyaratkan ke kedua Sahabatnya, merekapun mengangguk paham.
"Kamu pesen apa" tanya Devano setelah mendapatkan tempat duduk pojok.
"Bakso sama Es jeruk aja" Devano mengangguk, dan berjalan menuju tempat penjual bakso.
"Nih" Stevani menerimanya dengan tersenyum.
"Makasih" Devano mengangguk.
"Oiya bentar lagi ada Ujian Akhir semester ganjil kan" ucap Devano. Stevani mengangguk.
"Setelah ujian nanti mau nggak liburan?" Tanya Devano.
Stevani hampir tersedak, "beneran?"
Devano mengangguk, "mau nggak"
Stevani mengangguk kan kepalanya cepat. "Ya maulah"
"Buat tujuan nya kita pikirkan nanti aja ya" Stevani mengangguk sambil tersenyum.
"Udahkan. Yuk aku anterin ke kelas"
Saat akan keluar dari kantin, Stevani disenggol oleh seseorang
"Aduh" pekik Stevani, sambil memegangi bahunya yang sakit.
"Eh sorry. Makanya jalan tuh liat-liat" sindir Nimara.
Devano geram, "Lo tu yang harusnya jalan pakek mata."
"Kok kamu malah belain dia sih Dev" ucap Nimara dengan nada lembut dibuat-buat sambil bergelayutan dibahu Devano.
Devano langsung menghempaskan tangannya, "Lo kenapa sih Ra, gue eneg tau nggak liat muka Lo" sentak Devano
"Ayo Van"
"Liat aja nanti" bisik Nimara disebelah telinga Stevani.
Jam sudah menunjukkan waktu pulang.
"Kei, La gue duluan ya" ucap Stevani.
"Tumben Lo buru-buru. Nggak nungguin pangeran Lo?" Tanya Keisya
"Gue mau nyamperin dia duluan. Sekali-kali" Keisya manggut-manggut.
Stevani berjalan menuju kelas Devano. Banyak murid-murid yang keluar dari kelas Devano. Zea. Dia sudah pindah hari ini. Padahal Stevani belum mengucapkan sepatah kata apapun.
Saat ingin memasuki kelas Devano, Stevani berhenti, terlihat Nimara dan Devano sedang berbicara berdua. Nimara memang sekelas sama Devano. Dengan keberanian, Stevani berjalan menuju kedua orang itu
" Ekhm, Dev kita pulang yuk" Ucap Stevani dengan nada manja dibuat-buat.
"Oke yuk" Devano meninggalkan Nimara sendiri.
"Liat aja Van. Lo udah berani bermain-main sama gue. Gue nggak akan tinggal diam" ucap Nimara dengan seringainya.
Hai, I'm comeback.
Giamana part kali ini. Maaf ya baru update, author sibuk banget ini. Jangan males buat vote comen ya sebanyak-banyaknya.
Love you Readres😘❣️
KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Is DEVANO (SUDAH TERBIT)
Teen Fiction- - - - - - - Seorang cewek yang memiliki paras cantik, dan memiliki sifat ceria dipertemukan dengan seorang cowok tampan yang memiliki sifat dingin bagaikan es balok. Mereka dijodohkan dengan tiba-tiba dengan orang tuanya. "Jika kamu mau bersa...
