PART. 15

26.3K 953 34
                                        

Update lagi nih...
Jangan lupa vote dan comen dong, biar author lebih semangat ngetiknya...

(๑˙❥˙๑)

Setelah mereka dari taman, mereka langsung memutuskan untuk pulang kerumah. Mereka langsung pergi ke kamar masing-masing.

Setelah Stevani selesai melakukan ritual mandinya, dia langsung berjalan menuju arah dapur untuk memasak makan malam. Tanpa disadari Stevani, ternyata ada seseorang yang tengah menatapnya tanpa berkedip. Ya dia adalah Devano, seseorang yang telah membuat hatinya berdetak tak beraturan hari ini.

Setelah semua masakan Stevani selesai, saat dia ingin pergi memanggil Devano, iapun terkejut dengan seseorang yang telah duduk di tempat makan.

"Dev, kok ngagetin sih" kesal Stevani.

"Kok nggak bilang kalo disini" lanjutnya

"Hehehe, maaf Van" ucap Devani dengan cengirannya.

"Em, yaudah sekarang kita makan ya". Devanopun langsung mengangguk mengiyakan.

Hanya ada keheningan seperti biasa. Tidak ada yang ingin memulai percakapan. Setelah mereka menyelesaikan makan malamnya. Mereka langsung beranjak menuju runag tv. Tetap tidak ada yang memulai berbicara, Stevani langsung membuka suara, karena tidak tahan dengan keheningan ini.

"Em, Van kamu ada hubungan ya sama Nimara?" Tanya Stevani dengan. Hati-hati. Devano hanya memincingkan sebelah alisnya.

"Kenapa Lo tanya gitu" tanya Devano balik

"Ya kan aku cuman tanya Van"

"Gue gak ada hubungan apa-apa sama dia. Lo nggak usah khawatir." Ucap Devano dengan tersenyum dan mengusap kepala Stevani lembut.

"Em, aku boleh tanya lagi nggak Van"

"Apa"

"Kamu pernah pacaran belum sih sebelumnya"

Deg

Devano terdiam dan langsung menundukkan kepalanya. Diapun menghembuskan nafasnya kasar.

"Sebenarnya gue udah pernah punya seseorang yang berarti buat gue." Ucap Devano dengan kepala yang masih menunduk.

"Tapi, sekarang gue nggak tau dia kemana. Gue udah pernah cari dia. Tapi itu semua sia-sia. Dia udah buat gue kecewa dengan perbuatan dia."

Air mata Stevani hampir lolos, tapi dia langsung menutupinya. Stevani hanya diam, dan mencerna kata-kata yang diucapkan Devano.

"Tapi Lo nggak usah khawatir Van, perasaan gue ke dia udah mulai menghilang. Itu semua karena Lo."

Terlihat semburat dipipinya. Stevani sangat malu. Apa yang harus ia katakan.

"Gue nggak akan tinggalin Lo kok Van, kecuali Lo sendiri yang menyuruh gue buat pergi" ucap Devano tulus.

"Gue juga nggak akan tinggalin kamu kok Van." Ucap Stevani, dan senyumnyapun akhirnya mengembang.

"Yaudah, sekarang Lo tidur. Udah malem. Besok sekolahkan, jangan bangun kesiangan. Besok bareng gue berangkatnya" kata Devani dengan mengusap Kepala Stevani.

"Iya, yaudah aku ke kaamr dulu ya, kamu juga tidur ya Van. Goog night "

"Too"

Stevani langsung beranjak dari duduknya menuju ke kamar untuk merebahkan tubuhnya.

Devano masih terdiam ditempat duduknya.
"Maaf Van, gue emang belum sepenuhnya cinta sama Lo. Tapi gue bakal usahain. Gue akan berusaha untuk buat Lo bahagia. Gue sayang Lo Van" gumam Devano.

Keesokan harinya, Devano bangun lebih pagi. Dia langsung beranjak dari kamar tidurnya dan langsung melakukan ritual paginya. Setelah semua selesai, Devano langsung mengetuk pintu kamar Stevani.

10 menit Devano berdiri didepan kamar Stevani dengan mengetuk pintu tersebut, tapi tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar. Devano langsung memutar kenop pintu, dan ternyata pintunya tidak dikunci. Akhirnya devano langsung memasuii kamar Stevani, dan terlihat sang pemilik kamar masih bergelut dengan selimutnya. Devano terkekeh dengan keadaan Stevani yang menurutnya lucu.

Devano mengusap pipi sang empu dengan lembut.

"Van, hei bangun dong. Udah siang nih. Kamu nggak sekolah emangnya" masih tidak ada sahutan dari sang pemilik kamar. Akhirnya Devano membiarkan Stevani tidur pulas dengan memeluk boneka keroppinya.

Jam menunjukkan pukul 08.00 Stevani menggeliat dan terkejut karena Devano telah duduk ditepi ranjangnya dengan menatapnya tajam. Akhirnya stevani langsung duduk dan mengumpulkan nyawanya .

"Loh Dev, tumbeh kamu udah siap." Ucap Stevani dengan suara khas bangun tidurnya.

"Tumben, kamu tuh yang tumben bangun siang"

Stevani terkejut dengan penuturan Devano yang memanggilnya dengan sebutan 'kamu'. Stevani langsung melihat jam yang ada di atas nakasnya. Diapun terkejut

"Hah, jam 8, kok kamu nggak bangunin aku sih Van. Kan kita jadi telat. Pasti gerbang sekolah udah ditutup. Kita pasti nanti dihukum sama guru BK . " Ucap Stevani dengan sedikit teriak.

"Aku udah bangunin kamu Lo Van dari tadi. Jamunya aja yang tidurnya kayak kebo, susah banget dibangunin." Kata devani dengan terkekeh.

" Yaampun maaf ya Dev. Kamu nggak berangkat sekolah." Tanya Stevani

"Enggak lah. Kan kamu belum bangun. Yaudah sekarang kita bolos aja" ucap Devano enteng.

"Hah" teriak Stevani.

"Ish nggak usah teriak-terika juga kali Van. Yaudah sekarang kamu mandi gih. Baik tauk"

Stevani langsung melorotkan matanya, dan langsung memukul Devano dengan bantalnya.

"Yaudah aku mandi dulu"

Setelah Stevani selesai mandi, Devano masih setia menunggun Stevani. Terlihat Devano yang duduk diatas sofa kamar Stevani dmyang sedang bermain hp.

"Udah?" Tanya Devano. Stevani langsung menganggukkan kepalanya.

"Em, Van aku keluar dulu ya. " Ucap Devano.

"Mau kemana Van"

" Bentar kok" terlihat wajah Devano yang terlihat tidak senang dan khawatir. Devano langsung keluar dari kamar Stevani.

"Dia kemana ya" gumam Stevani..







Prett prett prett....

Next part ya ....

Salam manis dari author nih😘😘







My Husband Is DEVANO (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang