Chapter 27 : She's in Dangerous

174 23 0
                                        

Gwen's POV

Madam Maurice banyak menceritakan bagaimana aku saat dulu masih tinggal di panti asuhan ini.

Aku ditemukan Madam Maurice tepat di depan pintu panti asuhan. Saat tengah malam, saat hujan deras.

Saat itu, aku adalah bayi baru lahir karena tali pusat masih belum dipotong, dan kulitku masih berwarna merah muda khas bayi baru lahir.

Lalu aku dirawat sampai usia 7 bulan, dan akhirnya diadopsi oleh kedua orang tuaku saat ini. Artinya, mereka orang tua angkatku.

Menurut informasi yang didapat Madam Maurice dari seseorang, orang tua angkatku dulu memiliki seorang anak perempuan berusia 9 tahun.

Namun tepat dihari ulang tahunnya yang ke 10, anak perempuan itu meninggal.

Aku sangat yakin, anak perempuan ini lah yang selalu mengganggu hidupku sampai sekarang. Dia tidak terima aku menjadi anak angkat orang tuanya.

Ternyata ini rahasia orang tuaku yang mereka tutup dan kemas dengan rapi selama 18 tahun.

Handphone-ku berdering, Alana menelfon.

"Ada apa Al?" tanyaku.

"Gwen aku takut," ucapnya lirih.

"Takut? Ada apa? Ayo cerita," balasku.

"Aku dihantui. Seorang perempuan, ada darah keluar dari mulutnya. Dia ada di langit-langit kamarku tadi," ucapnya ketakutan.

Aku terdiam. Apakah bayangan itu sampai menghantui Alana? Bahkan sampai menampakan dirinya.

"Gwen? Kau dengar aku kan?" tanya Alana dengan panik.

"Iya Al, aku dengar. Tenangkan dirimu dulu Al. Malam ini kau tidurlah dengan orangtuamu dulu ya," jawabku.

"Baik Gwen, terimakasih. Aku akan ke kamar orangtuaku, sampai jumpa."

"Sampai jumpa."

Panggilan pun terputus.

Aku terdiam lagi. Aku berfirasat, Alana dalam bahaya.

"Ada apa Gwenny?" tanya Madam Maurice.

Aku menoleh padanya. "Temanku dalam bahaya. Dia dihantui."

"Oleh siapa?" sambungnya.

"Kau pasti tidak akan percaya," jawabku.

"Kau pasti tidak akan percaya," jawabku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Author's POV

Matanya terbelalak, sampai-sampai iris matanya terlihat jelas. Perempuan itu masih berdiri di sana, menyeringai, menakutkan.


"Alana? Kau kenapa sayang?" panggil wanita yang sedang memeluknya.

Alana hanya diam, mulutnya terkunci.

Tidak lama kemudian, ia berteriak, meronta. Kedua orang tuanya berusaha menenangkannya.

Karena tidak membuahkan hasil, Ayahnya pun kembali meminta dokter pribadinya untuk ke rumah.

"Kau sudah membuat janji," suara perempuan itu. Seketika napas Alana tercekat.

Tubuhnya meronta, matanya membelalak, dan mulutnya terbuka seperti sedang dicekik.

Alana berteriak hingga terdengar suara kaca pecah di dalam kamar orang tuanya. Lampu kemudian padam seketika.

Alana tidak sadarkan diri. Lampu kembali menyala.

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya dokter pun tiba di rumah mereka. Ia sedikit terkejut saat melihat kondisi kamar saat itu.

"Dok, cepat tolong anak saya!" perintah Ayah Alana.

Tanpa bicara lagi, dokter segera menghampiri dan memeriksa Alana.

"Detak jantungnya terdengar lemah, nadinya juga teraba lemah. Tekanan darah masih rendah, kulitnya dingin. Ini tanda-tanda syok, harus segera dibawa ke IGD," ucap dokter setelah melakukan pemeriksaan.

Mereka pun bergegas menuju rumah sakit terdekat agar Alana mendapatkan pertolongan pertama.

Mereka pun bergegas menuju rumah sakit terdekat agar Alana mendapatkan pertolongan pertama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gwen's POV

"Mungkin kita bisa bicara lain kali lagi, kami harus pulang sekarang," ucapku pada Madam Maurice.

Ia mengangguk. "Baiklah, kau boleh datang ke sini kapan pun kau mau."

Kami bertiga pun berpamitan dengan Madam Maurice setelah mendapatkan cukup banyak informasi mengenai aku dan keluarga angkatku.

Karena kami tidak kunjung menemukan titik terang dimana orang tua angkatku, kami pun memutuskan untuk kembali ke Selma malam ini.

Sesampainya kami di rumahku, kami berkemas.

Selagi berkemas, aku mendapatkan sebuah gambaran yang memperlihatkan kedua orang tua angkatku sedang berada di sebuah ruangan, menangis di depan sebuah... makam.

"Gwen?" panggil Tom.

Aku menoleh. "Tom aku melihat orang tuaku," ucapku.

"Dimana?" tanya Tom bingung, Greyson pun menghampiri kami berdua.

"Tiba-tiba saja aku melihat gambaran mereka di dalam kepalaku tadi, mereka seperti berada dalam sebuah ruangan dan di sana ada sebuah makam." Aku menggigit ujung kukuku.

"Apa kau tahu dimana tempatnya?" tanya Tom.

Aku menggeleng sebagai jawaban.

"Ekhm, maaf menyela. Tapi aku baru saja dapat kabar, Alana masuk rumah sakit," ucap Greyson.

Aku menghampiri Greyson. "Alana sakit apa?"

"Tidak tahu. Tapi kabar terakhirnya, dia sedang koma," jawab Greyson. "Jason mengabariku tadi," sambungnya.

Benar, kita harus segera pulang ke Selma.

Alana dalam bahaya.

Alana dalam bahaya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
INDIGOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang