19. Sleep Well🍎

450 40 21
                                        

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, tapi Jeno masih saja terjaga di meja belajarnya. Lelaki itu membenarkan posisi kacamatanya yang melorot kemudian menghembuskan napas berat. Rasa pusing mulai menghampiri kepalanya hingga memaksa lelaki itu untuk berbaring di tempat tidur.

Jeno memejamkan mata sembari memijit pelipisnya. Dengan napas yang teratur ia mensugesti dirinya sendiri agar rasa sakit itu segera menghilang.

"Jeno kuat, jangan mau kalah sama penyakit." Kalimat itu berulang kali diucapkan Jeno hingga pusingnya mereda.

Lelaki itu mengambil segelas air putih di atas nakas dan meminumnya sampai habis. Ia menatap dirinya melalui pantulan cermin yang ada di hadapannya. Semakin hari tubuhnya terlihat semakin kurus dan matanya terlihat sayu.

Jeno bangkit dari tempat tidur kemudian membasuh wajahnya dengan air untuk menghilangkan rasa kantuknya. Ia harus belajar lebih giat jika ingin mempersembahkan emas untuk sang ayah.

Jeno kembali duduk di meja belajarnya, tapi ternyata reaksi tubuhnya berbanding terbalik dengan keinginannya. Baru beberapa menit ia membaca, kepalanya sudah merunduk hingga bertumpu di atas meja. Perlahan ia memejamkan matanya dan membiarkan rasa kantuk menguasai dirinya.

Sudah cukup untuk hari ini. Selamat malam Jeno, tidur yang nyenyak, lupakan semua masalahmu, biarkan dirimu terlelap dalam indahnya mimpi.





🍎🍎🍎





Perlahan Jeno membuka mata, kepalanya terasa sakit sekali. Samar-samar ia melihat Nadia menangis di sebelahnya. Lelaki itu juga terlihat kebingungan mendapati dirinya sedang berbaring di ranjang rumah sakit, padahal semalam rasanya ia ketiduran di meja belajar. Dan masker oksigen ini lagi-lagi menyiksa dirinya.

"Kak Jeno udah bangun!!" seru Nadia.

Jeno dapat melihat Hanna dan Jeff berjalan menghampirinya.

"Sayang? Bisa dengar suara Mama?" tanya Hanna.

Jeno hanya diam saja, ia bahkan tidak tau apa yang terjadi kepadanya.

"Kalo masih lemes, istirahat aja," ucap Jeff.

Jeno masih menatap bingung orang-orang yang ada di sekelilingnya. "Sebenarnya Jeno kenapa?" tanyanya pelan.

"KAK JENO KOMA SELAMA SEMINGGU!!" seru Nadia.

Jeff mengusap punggung adik perempuannya, "Sabar Nadia, ini rumah sakit, jangan teriak-teriak."

Nadia masih menangis sesenggukan, "M-maaf Kak."

Jeno menatap adiknya yang terus-menerus menangis di sebelahnya. "Nadia kenapa nangis?" tanyanya dengan polos.

"NADIA TAKUT KAKAK NGGAK BANGUN-BANGUN!!"

"Nad.."

"Maaf Kak Jeff, habisnya Nadia kesel."

"Kakak nggak apa-apa kok," ucap Jeno menenangkan adiknya.

"Padahal Nadia udah beli apel yang banyak, tapi Kakak lama banget bangunnya. Liat tuh apelnya sampe mengkerut gitu."

Jeno menatap sedih apel-apel yang ada di atas nakas. "Apelku.." lirihnya.

Sweet AppleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang