05. Hangout🍎

447 46 21
                                        

"Untung aja Kak Jeno udah sembuh, jadi aku nggak makan sendirian lagi."

Jeno tersenyum, "Gara-gara kamu kan yang ngerawat Kakak."

"Jangan sakit lagi ya, Kak."

Jeno mengangguk lalu melanjutkan kembali kegiatan makannya.

Kedua kakak beradik itu tengah menikmati makan siang di kantin sekolah. Suasana kantin hari ini terlihat ramai dan sesak, tapi dunia seakan milik berdua jika mereka sudah bersama.

"Mau tambah lagi?" tanya Jeno ketika melihat makanan adiknya telah habis.

Nadia menggeleng, "Udah kenyang."

"Oke."

"Kakak jangan lupa minum obat," ucap Nadia.

Jeno mengeluarkan obat dari saku celananya, "Yang ini kan, Bos?"

"Yup! Benar sekali!"

Jeno tersenyum kemudian menelan pil itu, ia sedikit bergidik karena terasa pahit di mulut.

"Hihi, lucu banget muka Kak Jeno kalo lagi minum obat," ucap Nadia.

"Lucu kenapa?" tanya Jeno.

"Lucu aja, imutt!!"

Jeno tersenyum dan menatap adiknya lamat-lamat. Kemudian tangan kanannya bergerak menyentuh pipi adiknya, diusapnya dengan lembut menggunakan jari jempol. "Maafin kakak ya."

Nadia meraih tangan Jeno kemudian digenggamnya dengan erat. "Udahan dong minta maafnya, Kak. Nadia capek dengernya."

Perlahan kepala Jeno tertunduk, "Kakak udah gagal."

"Enggak, Kak. Lagian Yujin memang ngeselin banget. Masa cuma gara-gara Kala doang dia sampe nampar aku."

Jeno mendecak kemudian bangkit dari tempat duduknya.

"Kak! Kak Jeno mau kemana?!" tanya Nadia.

Tak mempedulikan sang adik yang terus meneriaki namanya, lelaki itu terus berjalan hingga langkahnya terhenti di segerombolan gadis yang sedang asik bergosip.

"Yujin!"

Yang disebut pun menoleh dan tersenyum manis, "Eh, Kak Jeno. Ada apa, Kak?"

"Sekali lagi lo berani nyentuh Nadia, jangan harap lo bisa hidup tenang," tajam Jeno tanpa basa-basi.

Yujin menunduk, "I-iya Kak. Yujin minta maaf soal yang kemarin."

"Kalo lo mau Kala, ambil aja. Nadia nggak butuh cowok kayak gitu," ucap Jeno.

"Udah, Kak. Ayo pergi aja." Nadia menarik lengan sang kakak.

"Inget, siapapun yang nyari gara-gara sama Nadia, langsung berurusan sama gue," ucap Jeno lalu mengajak Nadia pergi.




"Harusnya kakak nggak usah bahas masalah itu lagi," pelan Nadia.

"Kenapa sih? Kakak cuma nggak mau kamu digangguin lagi sama mereka."

"Iya, Nadia tau. Tapi-"

"Sana masuk ke kelas," potong Jeno.

"Kak.."

"Masuk!"

Nadia menghela napas kemudian dengan lesu masuk ke dalam kelasnya.

Jeno pun segera pergi dari sana dan lebih memilih menenangkan dirinya di taman belakang sekolah sendirian.

Lelaki itu duduk di bawah pohon rindang, pandangannya terlihat kosong lurus ke depan. Entah apa yang sedang dipikirkan, tapi sorot matanya menyiratkan bahwa ada banyak beban yang ditanggungnya.

Sweet AppleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang