26. I Hate You (2)🍎

366 31 6
                                        

"Argh! Please, jangan sekarang.." lirih Jeno ketika ia merasakan sesak di dadanya.

"KAK JENO!!" Jeno menoleh ke belakang dan melihat Nadia yang berlari ke arahnya. "Hidung kakak berdarah!" seru Nadia.

Jeno memejamkan matanya sejenak. Tolong.. kenapa sakitnya harus kambuh disaat genting seperti ini?

"N-Nadia, kamu bisa bantu kakak?"

"Apa, Kak?"

"T-tolong cari penjaga sekolah. Minta.. minta kunci ruang tari."

"Tapi-"

"Tolong.. Kakak minta tolong.. sekali ini aja," mohon Jeno.

Nadia mengangguk, dengan berat hati gadis itu meninggalkan kakaknya sendirian.

Dengan tertatih, Jeno duduk di emperan ruang tari. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan sembari mencubit cuping hidungnya, persis seperti yang dilakukannya tempo hari. Setelah dirasa darahnya sudah berhenti keluar, ia mengeluarkan sebotol air dari dalam tas dan membasuh wajahnya menggunakan air itu.

Jeno terdiam sebentar kemudian meminum obat yang selalu ia bawa kemana-mana, berharap rasa sesaknya akan berkurang.

"Tenang Jeno, jangan panik. Semua pasti baik-baik aja," gumam Jeno sembari mengusap dadanya.

"Kak Jeno, ini kuncinya!"

Jeno tersenyum dan mengambil kunci itu dari tangan sang adik, "Makasih ya, Nad."

Nadia mengangguk, "Tapi kakak nggak apa-apa kan?"

"Nggak apa-apa kok," balas Jeno kemudian bangkit dari tempat duduknya.

Tak ingin membuang waktu, lelaki itu segera membuka pintu ruang tari dan mencari pakaian yang dimaksud Nancy.

"Kakak nyari apaan sih?" tanya Nadia.

"Bantuin kakak nyari baju tari, Nad."

Nadia mengangguk kemudian membantu sang kakak untuk mencari pakaian tari.

"Kak Jeno, coba cek yang di atas lemari," ucap Nadia.

Jeno sedikit berjinjit untuk meraih tas besar yang disimpan di atas lemari.

"Yes!" Jeno berseru ketika melihat pakaian tari yang disimpan di dalam tas tersebut.

"Kakak pergi dulu ya, Nad," ucap Jeno.

"Kemana kak?"

"Ke GOR, bawa baju tari."

"Nadia ikut!"

"Loh, jangan dong. Masa kamu mau bolos?"

"Tapi, gimana nanti kalo Kakak mimisan lagi?"

"Enggak kok. Percaya sama kakak."

"Kak Jeno.."

"Kakak nggak apa-apa," ucap Jeno meyakinkan adiknya.

"Yaudah, Kak Jeno hati-hati ya."

Jeno mengangguk kemudian segera beranjak dari sana.

Pemuda itu mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi. Sumpah serapah terdengar jelas ketika Jeno dengan nekat menerobos lampu merah.

"DASAR ORANG NGGAK PUNYA OTAK!!"

Jeno tak menghiraukan umpatan-umpatan itu, yang terpikirkan di benaknya hanyalah segera sampai ke GOR, itu saja.

Motor Jeno terparkir di parkiran GOR, lantas lelaki itu berlari dengan menenteng tas besar.

"Nancy!" seru Jeno dengan napas terengah-engah. "Ini-"

Sweet AppleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang