Seorang Franda Andara dipertemukan kembali dengan sang mantan kekasih, Fajar Alfian. Ini adalah pertemuan kembali setelah enam tahun lamanya. Pertemuan yang tidak diinginkan oleh Franda Andara namun sangat disenangkan oleh Fajar Alfian.
Lalu apa yan...
"Kak bangunn..." tidur gue sangat amat terganggu. Sebel banget sama si Indah, pagi-pagi udah berisik.
"Apa sih Ndah?" ucap gue malas.
"Bangun cepetan. A Fajar nunggu daritadi di depan pintu!" ucap Indah keras.
Seketika mata gue langsung terbuka. Posisi tidur gue jadi duduk.
"Loh kok bisa?" tanya gue bingung.
"Ya ga tau. Makanya sana tanya sendiri. Bangunin kakak nyusahin. Kebo banget sih!" bodoamat Indah mau ngomel gimana.
Gue segera cuci muka cepetan dan keluar dari kamar.
Fajar lagi main hp sambil berdiri tepat disamping pintu depan asrama.
"Kenapa Jar?" tanya gue.
Dia langsung taruh hp nya di saku. "Nepatin janji." kata dia tersenyum manis.
"Haa? Janji apa?" tanya gue bingung.
"Yaelah. Kamu mah! Lupa ya? Kan aku bilang weekend ajak kamu beli eskrim." ucap dia bawel.
"Kalo gak mau gimana?" tantang gue sambil bersedekap dada.
"Kamu yang dapet dosa." kata dia mukul hidung gue pake jari telunjuknya.
"Ish.. Tangan lo jar!" gue udah melotot maksimal sama tingkah dia. "Kenapa jadi gue yang dapet dosa idih?" tanya gue.
"Kan aku udah janji weekend beliin eskrim coklat buat kamu. Kamu gak mau, aku langgar janji. Jadi kamu dapet dosanya." kata dia panjang lebar.
"Heh kutil kuda! Gue gak nge iyain omongan lo ya! Kalo mau beli eskrim tinggal beliin aja sih apa susahnya." ucap gue malas. "Udah ah, mau lanjut tidur!" udah mau balik ke kamar, Fajar malah mencengkram tangan gue. Sehingga gue jadi balik badan.
"Oke. Gampang Panda! Kalo kamu gak mau, aku bakal proklamirkan kalo hari ini detik ini kita pacaran sama anak pelatnas. Gak tanggung-tanggung bakal aku update ke ig story." kata dia ngancem.
Waduh. Kok jadi gini sih? Aelaahh... Kalo sampe dia update story, gue yang kena duh. Gak mau, huhuhu..
"Lo ngancem gue?"
"Terserah kamu mau mikirnya gimana. Aku tunggu loh ya." kata dia tersenyum senang.
"iya iya." ucap gue terpaksa.
"Bentar, kamu belum mandi?" tanya dia.
"Lo pikir aja sendiri." jawab gue cuek.
"Ihh... Panda belum mandi aja masih cantik. Kalo udah mandi pasti bakal lebih cantik. Apalagi bersanding bersama aa Fajar di pelaminan dan punya anak-anak yang imut-imut pasti lebih tambah cantik." ucap Fajar cengengesan.
Astaghfirullah selamatkan hamba dari makhluk seperti ini ya allah.
Tanpa jawab ocehan dia, gue langsung balik badan dan masuk ke kamar buat siap-siap pergi sama si kutil kuda.
------
"Kamu kok cantik banget Panda!" kata Fajar yang lagi nyetir sambil godain gue.
"Hm"
"Kamu tau gak? Bedanya raket sama kamu?" kata Fajar mengawali.
"Gak." singkat, padat dan sangat jelas. Satu kata dengan artian super malas dari gue.
"Kalo raket itu aku genggam tapi ada kalanya aku lepasin. Kalo kamu, aku genggam tapi gak akan aku lepasin. Mau tau kenapa?" tanya dia.
Hening.
Gue gak tertarik sama ocehan dan gombalan dia.
"Karena aku gak mau ngulangin kejadian enam tahun lalu, dimana aku udah genggam kamu tapi aku lepasin kamu juga." kata dia sambil tersenyum getir.
Gue yang lihat pun jadi nengok sepenuhnya ke arah dia. Tapi gue juga gak begitu paham dengan yang dia maksud.
"Emmm... oke lupakan. Jangan itu gombalannya." kata dia sambil tertawa ceria lagi.