Di sela-sela kesibukan, Hadja meneguk kopi yang ia pesan di kafe depan rumah sakit tempatnya bekerja sekaligus menuntut ilmu. Jalanan sore hari tampak cukup padat jika dilihat dari kaca.
Hadja menutup buku yang barusan selesai ia baca sembari menikmati minumannya. Masih ada sekitar satu jam sebelum kembali ke rumah sakit. Alasan Hadja menunggu di kafe tidak lain karena ia terlalu malas untuk memiliki obrolan panjang dengan rekannya di rumah sakit.
Tak lama berselang, seorang perempuan mengenakan apron dengan logo kafe menghampiri Hadja. "Selamat sore," sapa perempuan tersebut ramah.
Wajah perempuan itu tidak asing bagi Hadja, ia adalah orang yang mengembalikan dompetnya waktu itu. Beberapa hari lalu pun mereka bertemu di tempat ini, Hadja yakin kalau wanita ini pasti karyawan tetap.
"Iya, ada apa?" tanya Hadja dengan tatapannya yang tampak dingin.
"Maaf apabila mengganggu, tapi sepertinya Anda suka membaca buku. Di kafe ini terdapat beberapa koleksi buku yang bisa dibaca oleh pelanggan, barangkali Anda tertarik," ujar perempuan bermama Grace tersebut.
"Oh iya?"
"Iya, apakah Anda tertarik?" tanya Grace.
"Tidak juga, tapi masih ada waktu. Tolong rekomendasikan saja bukunya."
Jemari Grace menyerahkan buku setebal ratusan halaman di atas meja salah satu pelanggan restorannya yang selalu datang sendiri apabila berkunjung. Tatapan dingin Hadja membuatnya sedikit terintimidasi untuk segera mundur, tapi sifat Grace yang memang selalu ramah membuatnya tidak akan mundur hanya karena tatapan dingin tersebut.
"Apa tempat ini semacam books cafe?" tanya Hadja karena sebenarnya ia tak melihat rak buku sama sekali.
"Bukan. Ini hanya rekomendasi pribadi saja, jadi tidak semua pelanggan tahu. Biasanya saya rekomendasikan kepada orang yang sering datang kemari atau yang ke kafe untuk membaca buku," jawab Grace.
"Ini buku Haruki Murakami, salah satu penulis favorit saya. Pernah mendengar tentangnya?" Grace melanjutkan pembicaraannya tentang buku yang baru saja ia rekomendasikan.
Kepala Hadja menggeleng pelan, tangannya terulur menyentuh buku dengan judul empat huruf yang memenuhi hampir separuh sampul buku. "Aku jarang membaca buku fiksi."
"Tenang saja, ada ribuan bahkan jutaan penulis buku fiksi, masing-masing memiliki gaya penulisannya yang berbeda-beda, jadi saya rasa pasti akan ada penulis fiksi yang akan Anda sukai cara penulisannya."
"Ini bukunya bagus?"
"Kembali lagi kepada preferensi individu, saya tidak ingin mengatakan buku A lebih bagus dari buku B. Tapi bukannya justru disitu letak keindahannya? Sebuah tulisan bisa memunculkan berbagai sudut pandang yang berbeda kepada pembacanya. Tapi kalau memang tidak menyukainya, Anda bisa berhenti membacanya atau nanti bisa saya rekomendasikan buku lain kalau Anda punya waktu luang."
"Aku akan coba membacanya dulu." Jujur saja Hadja tak tertarik, tapi ia mengiyakan dengan harapan wanita itu cepat-cepat pergi dari hadapannya.
"Masih ada dua buku lainnya. Kapan pun Anda memiliki waktu luang di sini, silahkan membacanya."
Tangan Hadja membuka halaman buku tersebut, kalau sudah di tangan, sebaiknya Hadja sekalian coba membacanya. "Terima kasih."
Perempuan yang bahkan tidak Hadja ketahui namanya tersebut pergi dari hadapannya.
Walau tak terbiasa dengan buku fiksi, untungnya daya tangkap dan pemahaman Hadja tinggi sehingga ia dapat jalan cerita dengan teliti, karena penuturan penulis buku cukup sulit untuk dipahami kalau tidak fokus. Walau tak tahu apa yang seru dari tulisan fiksi, tetapi Hadja akui ia memang cukup penasaran kelanjutan alur cerita dari buku yang belum sempat ia baca hingga selesai karena harus segera kembali ke rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
[SS] Before You
RomansPerkenalkan, The Untouchable Hadja. Dokter konglomerat jenius dari keluarga Saputro. Seorang dokter unik dengan alexithymia. Diam, dingin, datar, tak bisa ditebak, dan tak menunjukkan emosi, Hadja benar-benar tak tersentuh. Jangankan mendekatinya, t...
![[SS] Before You](https://img.wattpad.com/cover/210087644-64-k691754.jpg)