02 - Perempuan Di Kafe

10.4K 593 8
                                        

"Dari mana saja kamu?" Seorang pria sebaya Grace menghadang langkahnya tepat di depan pintu masuk, membuat Grace harus menghentikan langkah sesaat.

"Balikin dompet salah satu pelanggan, bagian dari pelayanan." Grace mendorong tubuh temannya memasuki restoran. "Kamu sendiri gak kerja?"

"Ini kan akhir pekan, Grace." Pria bernama Leo mencoba melepaskan tubuhnya yang didorong paksa oleh Grace, kemudian berjalan beriringan menuju coffe space mini di restoran.

"Meja lima, espreso satu." Seorang pramusaji berjalan ke arah dapur, tetapi sebelumnya ia berhenti di tempat pembuatan kopi.

Grace menahan lengan seorang karyawan yang bertugas membuat beraneka kopi. "Aku aja."

Tangan Grace dengan cekatan mengambil piring kecil dan cangkir dari rak di bawah. Menuangkan kopi pekat dari mesin pembuat kopi secukupnya.

"Tapi Grace, sepertinya kamu udah harus berpikir tentang menikah." Leo mengikuti setiap langkah yang Grace ambil, meski jelas-jelas Grace tengan sibuk membuat kopi.

"Iya, nanti juga aku menikah kalau udah bertemu jodohku," kata Grace tanpa ada niatan menatap wajah Leo, sibuk mondar-mandir.

"Usiamu kan dua enam, bukannya perempuan di keluarga besarmu sebelum dua enam pun udah menikah semua?"

Grace mengambil gula saset yang terletak di atas meja panjang mirip bar. "Berisik, Leo. Aku belum setua itu. Lagipula itu keluarga besarku, aku nggak harus begitu juga. Aku akan menikah kalau udah siap."

Leo mencondongkan tubuhnya untuk berbisik sejajar di samping telinga Grace. "Kalau sampai saat itu kamu belum menemukan jodohmu, menikah denganku saja, ya. Siapa tahu aku memang jodohmu."

Grace melotot tajam beberapa detik tepat di kedua iris mata Leo, membuat Leo refleks mundur beberapa langkah. Grace menyerahkan espreso di sampingnya kepada seorang pramusaji.

"Aku serius loh, kalau saja kamu gak punya kontribusi di sini, detik ini juga, aku bakal nendang kamu keluar." Grace mengepalkan tangannya tepat di antara kedua mata Leo.

"Nanti pantat aku sakit, Grace."

Grace bergidik ngeri, kemudian segera berjalan menuju dapur utama. "Justru bgus kalau begitu."

***

Hadja melangkahkan kakinya keluar dari lorong ruang operasi, membuang masker dan sarung tangan yang tadi ia gunakan. Sembari mencuci tangan, Hadja menatap pantulan dirinya di cermin.

Meskipun belum memiliki kendali dalam melakukan operasi, Hadja terhitung sering menjadi asister para dokter senior. Bukan rahasia lagi kalau Hadja adalah dokter residen kesayangan Dokter Amri—dokter bedah paling senior di rumah sakit.

Hadja membuka loker miliknya, segera mengganti baju yang ia kenakan ketika operasi dengan baju biasa untuk jaga. Ketika keluar dari ruang ganti, Hadja bertemu dengan salah seorang senior yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya.

"Hadja, jadwal jagamu jam berapa?"

"Jam delapan nanti, Dok."

"Kalau begitu gantikan aku sebentar ya, jam lima cek ke kamar B105 dan B108, aku ada urusan mendesak di luar. Nanti aku kembali sebelum absen." Senior tersebut menepuk pundak Hadja kemudian melenggang pergi begitu saja.

Hal seperti ini bukanlah hal aneh baginya, juga para dokter residen yang lain. Bahkah lebih baik daripada saat masih menjadi co-ass. Tapi tetap saja para senior yang menyuruh hal tersebut takut apabila perilaku seperti itu sampai ke telinga para dokter dan kepala perawat yang jauh lebih senior.

Berhubung masih ada jeda sekitar satu jam, Hadja memilih untuk pergi meminum segelas smoothie atau kopi. Kafe dan resto tempatnya makan siang tadi yang terletak di depan rumah sakit adalah yang paling dekat dan lengkap.

Setelah beberapa menit berjalan, Hadja akhirnya tiba di Glece Caffe and Resto. Glece, nama yang dirasa Hadja cukup unik untuk dijadikan nama sebuah tempat makan yang terasa cozy.

"Segelas smoothie stroberi."

Pramusaji tersebut kemudian mengangguk dan berjalan meninggalkan Hadja. Pilihan menu yang terdengar cukup feminim untuk seorang pria bertubuh atletis seperti Hadja. Semua itu karena adik bungsunya Sueny sangat menyukai minuman tersebut. Tidak salah, rasanya memang menyegarkan.

Perhatian Hadja teralihkan kepada seorang perempuan yang memakai celemek bertuliskan nama restoran. Tangannya memegang sebuah nampan yang membawa segelas minuman berwarna merah muda, pasti berjalan menuju mejanya.

"Segelas smoothie stroberi—oh, pemilik dompet."

"Terima kasih sudah mengembalikan dompetku," kata Hadja.

Perempuan tersebut tersenyum, "Sama-sama. Yang tadi, saya mengerti. Nyawa seseorang lebih penting dari apa pun. Ngomong-ngomong, apakah Anda sering kemari?" tanya Grace.

"Di sini yang terdekat." Hadja segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Dokter, perawat, pegawai rumah sakit memang sering kemari semenjak pembukaan perdana kami beberapa minggu lalu, saya senang sekali."

Hadja terdiam, ia hanya bermaksud berterima kasih karena tadi tidak sempat, tidak di sangka perempuan di hadapannya ini justru mengajaknya berbincang lebih lama. Tanpa Hadja sadari, ka melempar tatapan tajam dan mengintimidasi kepada wanita di hadapannya ini. 

"Ah, kalau begitu selamat menikmati."

Seakan bisa menangkap tetapan yang seolah berkata 'cepatlah pergi' Hadja, Grace segera menghilang dari hadapan Hadja. Memang ya, manusia itu diciptakan dengan karakter yang beragam.

Tak lama, ponsel Hadja yang tergeletak di atas meja berdering. "Halo Sueny."

"Kak Hadja, pulang kapan?" Sebuah suara bersemangat terdengar dari speaker ponsel hadja.

"Besok pagi aja."

"Kakak jaga tengah malam?"

"Nggak sampai larut. Hanya sedang malas aja. Lagipula besok kakak libur."

"Kalau begitu temani Sueny ke Singapura, yuk? Ada peluncuran tas edisi terbatas. Sekalian main aja, Sueny udah pesan dua tiket."

"Dengan yang lain saja, Sueny."

"Kak Serren menemani Leo yang ingin liburan, Kak Hendji perjalanan bisnis, Kak Ai kan di Prancis."

"Gak bisa, Sueny."

"Ya sudah sama teman aja. Menyedihkan banget jadi anak bungsu yang kakaknya sibuk semua." Tanpa mendengar kata-kata lain dari Hadja, Sueny memutus sambungan telepon secara sepihak.

Hadja membenarkan perkataan Sueny bahwa kakak-kakaknya memang sibuk. Tak terkecuali dirinya yang selalu menghabiskan waktunya untuk belajar dan berada di rumah sakit. Seperti itulah hari-hari Hadja selama dua tahun ini, belajar dan belajar.

***

Stay tuned!
See U^^

[SS] Before You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang