"Hadja, udah makan siang?"
"Belum." Hadja melepaskan jas putih lengan pendeknya kemudian meletakkan di sebuah gantungan baju.
"Gimana kalau kita pergi ke restoran Italia? Cuma lima belas menit. Selagi istirahatnya cukup, aku udah lama nggak ke sana."
"Aku gak ikut." Tanpa memusingkan kata-kata rekan perempuannya, Hadja melenggang begitu saja dari ruangan tempat para dokter residen beristirahat sejenak.
"Hadja tunggu! Ya udah, terserah kamu aja, tapi ayo pergi bareng." Perempuan tersebut mencoba mengejar langkah Hadja yang sama sekali tidak menoleh padanya.
Baru saja menyejajarkan langkahnya, tiba-tiba lengan perempuan tersebut ditarik oleh salah satu teman perempuannya yang juga tengah menempuh program pendidikan dokter spesialis.
"Pergi bersamaku aja, Calyn. Percuma mengajak manusia batu seperti Hadja."
Calyn mendengus kesal, Hadja memang orang yang cuek, dan bahkan terkadang bisa lebih dingin dari pendingin ruangan. Tapi tenang saja, ia bukan orang jahat dan. Pertama mengenal Hadja saat pendidikan strata satu kedokteran, hingga masa residen, tak banyak perubahan dari seorang Hadja.
Sedangkan itu Hadja terus berjalan keluar dari ruangan berbau kimia tersebut, tanpa peduli Calyn yang tiba-tiba menghilang dari sisinya. Hadja berhenti sejenak di pintu masuk rumah sakit untuk mencuci tangannya, sembari menjawab beberapa junior yang menyapanya ramah.
Langkah kaki Hadja terhenti di sebuah kafe dan restoran di seberang rumah sakit. Tempat makan yang baru buka sekitar dua minggu ini sudah mampu menyita perhatian Hadja dengan menunya yang bercita rasa lezat.
"Salmon Scrambled, Buttery Mustard Salad medium, jus mangga, dan juga air putih." Hadja menyebutkan menu yang ia pesan kepada seorang pramusaji yang menghampirinya. Tak lupa, menyebutkan Buttery Mustard Salad yang menjadi salah satu menu favoritnya.
***
Seorang perempuan dengan surai panjang berjalan memasuki restoran dengan interior kayu yang terasa nyaman. Ia menghampiri seorang pekerja yang bertugas di meja kasir.
"Selamat siang, Kak."
"Selamat siang." Perempuan tersebut membalas sapaan kemudian berjalan menuju dapur.
"Oh iya Kak Grace, ada karyawan yang nemuin dompet ini di salah satu meja pelanggan."
Grace berhenti, mengurungkan langkahnya menuju dapur, kembali ke tempat kasir. "Udah ada yang ke sini mencari dompet ini? Kapan ditemukannya?" Grace meraih dompet tersebut kemudian melihat kartu identitas.
"Belum ada Kak. Aku nemuin ini beberapa jam lalu, waktu jam makan siang."
Hadja Aldio Marji Saputro, nama pemilik dompet tersebut. Sejumlah uang tunai yang tidak terlalu banyak, tapi terdapat tiga kartu ATM. Grace saja sampai heran, isi apa saja kartu ATM sebanyak itu. Sisanya kartu-kartu entah apa itu, seperti SIM dan yang lainnya.
Untungnya ada sebuah kartu yang menunjukkan siapa orang tersebut. Kartu identitas dokter, rumah sakit tempat bekerjanya berada tepat sekali di seberang restoran.
"Sepertinya lebih baik kalau aku kembalikan langsung ke orangnya." Ucap Grace.
"Kakak tahu siapa pemiliknya?"
"Nggak tahu, tapi dari kartu ini menandakan kalau dia dokter di rumah sakit seberang."
"Kakak mau mengantarnya langsung? Bukannya orang itu nanti pasti akan ke sini?"
Grace menggeleng, tangannya masih memegang kartu identitas khusus tersebut. "Dokter kan sibuk, mungkin dia tidak bisa mengambilnya sekarang. Tapi sepertinya kartu ini penting—itu loh, kalau ingin mengakses ruangan tertentu, harus menggunakan kartu ini. Anggap saja ini bagian dari pelayanan restoran."
Pekerja paruh waktu tersebut mengangguk mengerti. Grace segera megembalikkan tatanan kartu-kartu seperti semula, lalu beranjak meninggalkan restoran.
"Hadja apa tadi, Hadja Aldio, ya?" Grace berbicara dengan dirinya sendiri sembari berjalan menuju rumah sakit.
***
"Permisi, di departemen ini, apa ada dokter bernama Hadja?" tanya Grace kepada salah seorang di pusat informasi bagian bedah.
"Oh, Dokter Hadja, ya? Ada," jawab resepsionis perempuan berpakaian rapi.
"Iya itu. Saya ingin mengembalikan sesuatu."
"Apakah mendesak? Kalau tidak bisa dititipkan, tapi kalau mendesak lebih baik Mbak menunggu sebentar. Beberapa waktu lalu Dokter Hadja lewat bersama dokter yang lain ke arah kamar pasien, sepertinya sebentar lagi juga selesai."
"Saya menunggu di mana baiknya?" tanya Grace dengan wajah bingung.
"Oh tunggu di situ saja, Mbak."
Sebenarnya Grace juga tak mampu memutuskan apakah hal ini mendesak atau tidak. Mana Grace tahu apakah dokter itu membutuhkan dompetnya dengan segera atau tidak. Akhirnya Grace memilih untuk menunggu dan menyerahkan secara langsung saja, setidaknya ia lebih tenang jika seperti itu.
Grace mengikuti arahan dan menunggu di dekat pusat informasi seperti yang diintruksikan. Banyak lalu-lalang para dokter dan perawat yang sama sekali tidak Grace kenal. Termasuk orang yang tengah ia tunggu, Grace malah lupa melihat wajah orang tersebut sehingga ia menunggu tanpa arah yang jelas.
"Ada yang berkata kalau Anda mencari saya, ada apa?" Seorang dengan jas putih berkata tepat di hadapan Grace.
Mendengar ada yang berbicara dengannya, Grace segera bangkit, menatap seorang dokter dengan perawakan yang sepertinya hampir dua puluh sentimeter lebih tinggi darinya. Orang ini tampan! Tidak, bukannya ada ketertarikan khusus, itu hanyalah refleks Grace ketika bertemu pria tampan, tidak ada yang istimewa, wajar karena umumnya manusia senang melihat hal-hal indah. Pasti orang di hadapannya adalah Hadja, sang pemilik dompet.
"Saya hanya ingin mengembalikan dompet anda yang tertinggal di restoran." Grace mengulurkan dompet hitam kepada Hadja. "Silahkan dicek dulu apakah ada kehilangan."
Hadja segera meraih dompet miliknya, melihat sekilas isinya. "Yang penting kartunya—"
"Hadja, blue code di kamar 21, ayo!" teriak senior Hadja yang tengah berlari tergesa-gesa.
Seingatnya, Hadja tak mendengar suara peringatan apapun. Namun tanpa pikir panjang, ia segera berlari mengikuti beberapa dokter serta perawat yang berlari mendahuluinya. Hadja langsung meletakkan dompetnya di saku, tidak berkata apa pun lagi kepada Grace, meninggalkan wanita itu dengan raut wajah kebingungan.
"O-oke, gak apa-apa, nggak bilang terima kasih juga gak apa-apa. Ingat Grace, nyawa orang jauh lebih penting," ujar Grace pelan pada dirinya sendiri.
Pria itu menyeramkan. Maksudnya bukan seram seperti hantu, tapi dia memancarkan aura yang membuat orang lain takut--tepatnya Grace--takut untuk mendekatinya. Tampak ketus juga dan seperti agak sombong? Entahlah mungkin Grace terlalu jauh saja berpikirnya, mungkin pria itu hanya sedang sibuk dan terburu-buru, walau sampai tidak sempat berterima kasih sedikit pun.
Lagi pula dia hanya orang asing. Tidak penting. Hanya saja, Grace salah fokus mengenai satu hal, yaitu fakta bahwa pria itu benar-benar tampan! Kau tahu, ketampanan yang seperti biasa kau lihat di film-film Eropa dan Hollywood. Sudah lama Grace tak pernah melihat orang dengan wajah seindah itu. Grace jadi penasaran apa yang harus dimakan untuk memiliki visual semenawan itu.
***
Kalian tim yang lebih seneng mana?
1 chapter 500-1500 kata
1 chapter 1500-2500 kata
Stay tuned:)
See u on the next chapter^^
KAMU SEDANG MEMBACA
[SS] Before You
RomancePerkenalkan, The Untouchable Hadja. Dokter konglomerat jenius dari keluarga Saputro. Seorang dokter unik dengan alexithymia. Diam, dingin, datar, tak bisa ditebak, dan tak menunjukkan emosi, Hadja benar-benar tak tersentuh. Jangankan mendekatinya, t...
![[SS] Before You](https://img.wattpad.com/cover/210087644-64-k691754.jpg)