Arc Special [Another] Page -07- [Duka]

29 1 3
                                        

Note; Setiap Page dari Arc ini akan berbeda dengan yang lain. Aku harap siapa 'pun bisa lebih bijak sebelum membacanya.

+Violence +Dark

Ariyn tersentak, bangun dengan keadaan berdiri di tengah perumahan desa. dia tidak yakin dengan apa yang terjadi. Ariyn melihat sekeliling dengan wajah kebingungan.

"Apa aku tidur sambil berjalan?" tanya Ariyn dalam hati.

Senja datang dengan tidak biasanya, entah mengapa Ariyn merasakan asmosfer yang berbeda dengan tempatnya berdiri. Warna jingga di langit seakan-akan tidak ingin berganti begitu saja, sepertinya ada hal luar biasa yang akan terjadi.

"Apa yang terjadi dengan langitnya?" Ariyn tidak berhenti menghadap ke atas.

Ariyn menyusuri jalan berniat untuk pulang ke rumah, dia kembali merasakan kejanggalan seiring dengan perjalanannya. Tidak ada siapapun di sekitar sana, tempat itu seperti desa mati yang kosong.

Langit mulai tertutup awan yang bergerak dari satu arah dengan cepat, menghapus sore hari dan menggantinya dengan kegelapan. Matahari terbenam begitu saja, dan diganti dengan cahaya bulan.

Semuanya begitu asing, seharusnya Ariyn tahu betul tempat ini, tapi dia merasa bahwa ini bukanlah tempat yang seharusnya dia berada. Rumah-rumah sekitar nampak berbeda, bahkan rumahnya yang sekarang ada di depan mata, seperti bukan miliknya.

"Perasaan apa ini ... kenapa aku merasa...." Ariyn menunduk kebingungan.

Sekali lagi Ariyn memandangi sekitarnya, kali ini ada beberapa orang yang tengah beraktivitas, membersihkan salju sekitar latar rumah mereka. Salah satu dari orang itu berada dekat dengan Ariyn, ia menusukan sekop ke salju yang dalam dan membuangnya ke tempat lain.

Entah mengapa, Ariyn tidak ingin menyapa orang itu, dia kembali merasakan hawa yang tidak enak, perasaan yang tidak nyaman.

"Oh mereka tetap bekerja di malam hari...."

Ariyn masuk ke dalam rumahnya, dia berjalan perlahan melewati ruangn tengah, menuju ke sebuah ruangan tempat dia dan adiknya tidur. Ada yang aneh, dia melihat seseorang berdiri menghadap kasur tempatnya biasa melepas penat.

Orang itu mengenakan jaket abu-abu dan celana biru yang terlihat asing, pakaian yang belum pernah Ariyn lihat sebelumnya.

Tatapan orang itu tidak begitu jelas, ia seperti menghadap ke kasur tempat Ariyn tidur, tapi entah bagaimana ia juga tidak melihat ke arahnya. Semuanya terlihat semakin aneh saat Ariyn berusaha berpikir.

"Aku merasa pusing...." Ariyn melemaskan tubuhnya.

"Kau sudah bangun rupanya...," ucap Emeliyn yang duduk di samping kasur tempat Ariyn tidur.

"Ah, ya...." Ariyn mulai tersadar.

Desa Ecwess.

[07.45].

"Aku kesiangan...." Ariyn nampak lesu.

"Tidak perlu dipikirkan, kau harus istirahat sampai lukamu sembuh!" sahut Emeliyn, menasehati.

Ariyn melihat sekeliling, lebih tepatnya ke arah di mana adiknya tidur. Dia kemudian merasakan nyeri di tangan kanannya.

Wajahnya terlihat kecut menahan sakit yang berpusat di lengan kanan yang sudah diperban. Luka itu adalah luka yang dia dapatkan kemarin, Ariyn tidak begitu ingat dengan kejadian itu, yang muncul di kepalanya hanyalah kenyataan bahwa dia diserang.

"Dasar, kau benar-benar keras kepala," ucap Emeliyn melipat tangannya. "Sejak tadi malam kau menderita demam tinggi, adikmu sampai khawatir dan hampir melompat dari kasurnya."

Secret Gear'sStories to obsess over. Discover now