Arc Spesial [Another] Page -03- [Kemalangan]

27 1 0
                                        

Note; Setiap Page dari Arc ini akan berbeda dengan yang lain. Aku harap siapa 'pun bisa lebih bijak sebelum membacanya.

+Violence +Dark

Pandangan Bun semakin menajam saat seseorang berada di depannya. Ia menghindari pukulan, dengan bergeser ke samping sebari memegang pergelangan tangan si pemukul. Bun melesatkan siku kakinya tepat ke arah perut orang itu, membuatnya terangkat ke atas untuk beberapa saat.

Lirikan matanya mengarah ke tempat lain, Bun melihat pergerakan di sampingnya. Sadar akan seseorang yang mendekatinya, Bun lantas memberikan hadiah berupa tendangan mendatar. Nampak tendangan itu membuat targetnya terputar dan mendarat dengan wajah di permukaan salju.

"Hajar mereka Bun!!" sorak Ariyn, mengangkat tangan kanannya.

"Diam dasar jalang, apa kau pikir—," ucapan dari seorang Boss tapi ucapannya terpotong.

Lulu menarik kaki kanannya, ia melesatkan kaki ke wajah orang di atas tubuhnya. Seorang Boss itu terhempas mundur, terduduk di sekitar salju.

"Sialan!" ucapnya kesal.

Ia menatap ke atas, menatap seorang Perempuan yang kini tengah murka. Wajahnya yang panik terlihat berkeringat. Ia sekarang sedang dalam posisi yang kurang menguntungkan.

"B-bagaimana kau masih bisa bergerak?" tanyanya dengan senyuman kecut.

Dengan tangan kiri Lulu menarik kaos bagian leher orang itu dan mengangkatnya ke atas. Mereka saling menatap untuk beberapa detik, sampai pada akhirnya Lulu memberikan pukulan tepat ke hidungnya.

"Guhkk!" Orang itu tubang dan tidak bisa berdiri, ia hanya memegangi hidungnya.

""Boss!!"" Kedua anak buahnya yang lain hanya berseru khawatir.

Sementara itu, Bun mendorong tubuh seseorang ke arah mereka. Ia kemudian berlari, dan melesatkan tandangan menyilang ke atas dengan kaki kanannya. Tidak hanya itu, Bun juga memberikan tendangan pada yang lain, saat pandangan mereka tengah teralihkan.

Dua orang dari mereka bangkit, menyiapkan tongkat bambu yang diarahkan pada Bun, mereka meniup bagian ujungnya. Dari lubang tongkat itu nampak anak panah yang melesat ke arah Bun.

Dengan cepat Bun mengambil sesuatu dari belakang pinggangnya. Sebuah Pedang berukuran pendek ia tarik dari belakang pinggagnya. Tanpa berpikir panjang, Bun menebaskan pedangnya.

*CETAK!*

Bun berhasil menangkis anak panah yang hendak mengenainya. Kelihatannya ia telah menangkis keduanya dengan satu tebasan.

"Yang benar saja!?" Mereka terheran.

"Ayolah hanya itu kemampuan kalian?" tanya Bun dengan pandangan acuh.

Salah satu dari mereka sepertinya tersadar, seperti tengah teringat dengan sesuatu. Terlihat ia hanya menatap Bun dengan wajah yang penuh keringat, bola matanya tidak berhenti memelototinya.

"Beraninya kau—," ucap seorang yang terlihat kesal, ia hendak maju akan tetapi dihalangi temannya yang lain.

"Tunggu! Aku tahu orang ini, dia ... Bun Fenix!" seru orang itu, suaranya agak gentar.

"Apa maksudmu!?" tanyanya dengan nada keras.

"Dia seorang Petuaang ... tetapi dia bukan Petualang biasa, tapi petualang dengan Ranting A!!"

"Petualang Senior!?" Orang yang lain ikut terkejut.

Mendengar percakapan itu Bun hanya cengingisan, ia tersenyum dengan pandangan menunduk. Bun spontan menaikan pandangan itu, menatap mereka dengan senyum percaya diri.

Secret Gear'sStories to obsess over. Discover now