Desa Kyne.
04.15 // 2339-01-01.
Pagi ini udaranya begitu dingin, hawa yang dapat menusuk menmbus kulit itu bisa saja membuat siapapun menggigil. namun hal itu tidak menghalangi Ira untuk mulai berkemas. Sepertinya dia tidak ingin membuang banyak waktu.
Terlihat, Ira mulai merapikan barang-barangnya, beberapa keperluan yang mungkin dia butuhkan saat mulai berlatih nanti. Tas jinjing yang cukup besar itu, mulai terisi dan memperlihatkan bentuk sebenarnya dari persegi panjang yang berwarna hitam keabu-abuan.
Di samping kasur, Ibu dari Shinyn terlihat merapikan selimut yang tidak lagi dipakai, terlihat sedikit kotor. Dari arah lain, ia memperhatikan Ira yang masih mengemasi barang-barangnya.
"Kau berangkat pagi sekali?" tanyanya pada Ira.
"Ya, aku sedikit kawatir dengan keadaan Miren. Kemarin dia tidak menepati janjinya, dan juga...."
"Padahal kau sudah tidak tidur semalaman," ungkapnya, sebari melipat seprai kasur yang sepertinya akan ia cuci. "apa tidak apa-apa?"
"Tidak, tidak apa ... sampaikan saja salamku pada paman." Ira tersenyum.
"Ya...."
Setelahnya Ira pamit, Ira 'pun keluar dari ruangan itu, dia langsung melangkahkan menuruni tangga menuju ruang tamu. Untuk beberapa alasan, Ira menengok ke arah kanan, sepertinya dia mengharapkan sesuatu.
Ira berhenti setelah menuruni tangga, kali ini matanya tertuju pada pintu depan kamar Shinyn. Rasa harap yang ada di hatinya itu membuatnya dilema. Ingin sekali dirinya untuk bertemu Shinyn, paling tidak untuk mengucapkan selamat tinggal.
"...." Ira terdiam, setelahnya dia merunduk dan membuang nafas lesu.
"Shinyn masih belum keluar dari kamarnya," ucap seseorang yang menuruni tangga, itu adalah Ibu dari Shinyn.
Spontan Ira menengok ke belakang. "Aku...."
Setelah Ibu dari Shinyn menuruni tangga, ia kemudian berdiri sejenak di samping Ira. Mereka tidak saling menoleh satu sama lain. "Aku hanya berharap dia tidak apa-apa," ucapnya, kemudian pergi ke dapur membawa beberapa cucian.
Ira terdiam lagi untuk sesaat, sepertinya dia tengah berpikir. Ira menghela nafasnya, melemaskan kedua lengan dan juga tubuhnya, membuang perasaan ragu yang ada di hatinya.
Dengan menutup mata Ira mencoba untuk membuat pikirannya jernih. Dia melepaskan gengaman tangan kanan yang membawa tas jinjing, yang kemudian jatuh tepat di sampingnya.
Langkah kakinya itu berjalan menuju ke depan pintu masuk kamar Shinyn, Ira juga terus menatapnya. Tatapan mata yang tajam itu sama sekali tidak berkedip. Dengan tangan kanannya, Ira mengetuk pintu beberapa kali.
Tok Tok
"Shinyn, boleh aku masuk?" tanya Ira, namun tidak ada balasan.
Ira kembali terdiam untuk sesaat, dia menunggu Shinyn untuk memberikan balasan. Sayanganya ia tidak merespon.
"Aku tahu kau disana, dan ... kau tidak harus menjawabnya."
Dari dapur, nampak kedua Orang Tua Shinyn memperhatikan Ira. Mereka menyembunyikan tubuhnya sementara kepala mereka berdua mengintip dari balik pintu yang setengah tertutup.
"Aku hanya ingin kau tahu kalau, aku ... minta maaf atas semua yang terjadi, aku merasa bersalah," ungkap Ira.
Ira menopangkan tubuhnya dengan meletakan pergelangan tangan di puntu kamar tepat di depannya. pandangannya semakin menunduk, hingga wajahnya benar-benar menghadap ke bawah.
YOU ARE READING
Secret Gear's
Fantasía(On-going) (R15+) Genre : Fantasy, Action, Romance, Magic, Isekai. Seorang pemuda, yang di panggil dari Bumi ke Dunia yang disebut Ventuse. Ira terbangun, untuk melihat langit yang berbeda. Ira yakin bahwa dia belum mati, hanya saja ... ingatan...
