[Reader ∅1] [Ciuman, Bukanlah Takdir]

86 7 0
                                        

Hari sudah menjelang sore, terlihat di dalam Tocyn mereka berdua menghadap ke bawah menyembunyikan wajah mereka yang memerah.

Ira mencoba untuk melirik, namun tidak punya keberanian untuk melakukannya, kembali dia hanya memalingkan wajah sebelum berakhir melihat kedua kaki di bawah.

Tocyn itu terus berjalan, kali ini melewati sebuah jembatan kecil yang terdapat aliran sungai di bawahnya, tidak begitu besar. setelah melewati jembatan, akhinya mereka memasuki lahan gandum yang berwarna ungu.

Gandum yang ada di Dunia ini berwarna ungu, dan lebih besar ketimbang Gandum yang ada di Bumi

Hamparan luas lahan ini dapat terlihat di sekeliling mereka, pagar kayu yang menutupi di antara jalan dan lahan, memisahkan tanah tak berumput tempat biasa orang-orang dan kendaraan melewatinnya.

Jika sudah memasuki wilayah ini berarti mereka sudah dekat dengan Palbatas Desa.

Ira mulai membayangkan kembali kejadian yang baru saja terjadi. Sebari mempertemukan setiap jarinya Ira membangun keberanian untuk berbicara.

Ira menoleh menghadap Shinyn begitu juga sebaliknya.

"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Ira yang bingung dan kembali memalingkan wajah karena malu.

"Tidak, kau saja." Shinyn menunduk.

Dan mereka hanya mempertahankan posisi mereka tanpa bekata sepatah katapun, bahkan itu terjadi sampai Tocyn yang mereka tumpangi sampai di Palbatas Desa.

"Sudah sampai kah?" Ira memastikan.

"...."

Ira kembali menoleh menghadapkan pada Shinyn yang spontan memalingkan pandangan ke arah yang berlawanan, terlihat ia menghindar dan berpura-pura tidak tahu.

"Apa dia marah?" gumam Ira terlihat sedih.

Tocyn itu berhenti, tepat di depan papan berbentuk arah panah dengan tulisan yang tidak Ira mengerti, sepertinya itulah Palbatas Desa yang bertuliskan "Kyne" atau nama Desa tersebut.

Supir Tocyn yang telah membantu Ira menurunkan barang, menerima beberapa keping uang dari Shinyn. Setelah ia berterima kasih, Supir Tocyn itu mempersiapkan keberangkatan untuk kembali ke Kota.

Shinyn masih membisu, ia sama sekali belum bicara.

Berbeda dengan Ira yang sepertinya masih belum menyerah, kali ini dia mendekat ke arah Shinyn dan mencoba untuk meminta maaf, meskipun sebenarnya kejadian tadi murni adalah kecelakaan.

"A- Shinyn, aku-."

Belum selesai Ira menyelesaikan kalimat, Shinyn malah lebih dulu meninggalkannya, entah apa yang ia pikirkan, namun itu benar-benar membuat Ira sakit hati.

Ira mencoba meraih Shinyn yang meninggalkannya. "C-celaka."

Dengan menghela nafas, Ira mengangkat belanjaan itu sendirian, setelah berhasil mengangkat dua dus di tangan, dia menemukan kesulitan saat mencoba meraih dan menyimpan kantong-kantong belanjaan yang lain.

Dengan susah payah akhirnya Ira berhasil mengangkat semua barang belanjaan itu, walaupun dia harus merapikannya terlebih dulu sebelum mengangkatnya.

"Mungkin aku harus mengejar Shinyn, aku tidak mau ini berlangsung lama," ungkap Ira yang langsung mempercepat langkahnya dan masuk ke Desa.

Tentu saja dengan langkah yang cepat Ira berhasil menyusul Shinyn, begitu berada di sampingnya dia mulai bicara.

"Shinyn, akhirnya ...," ucap Ira sebari menyeimbangkan langkah kakinya dengan Shinyn.

Secret Gear'sStories to obsess over. Discover now