Dua Puluh Dua

2.2K 155 5
                                        

Aku memandang diriku di cermin dengan air mata yang sudah menumpuk.

"Jangan hancurkan make up mu!"

Aku tertawa mendengar Grace di belakangku dan Ibuku sudah mengambil tisu lagi untuk dirinya.

"kau cantik sekali" ucap Ibuku memelukku.

"terimakasih Mom, untuk segalanya"

Ibuku makin terisak lagi yang membuat Grace memutar matanya.

"Jangan lupakan ini" Grace membawa cincin pertunangan ku.

"something bule"

"apa kita akan melakukan tradisi ini?"

"kau bahkan tidak bertemu Blake selama seminggu jadi tentu saja kita melakukan tradisi lainnya"

Aku terkekeh mendengarnya mengingat Blake yang marah-marah saat tahu kami tidak boleh bertemu seminggu, untung saja kami masih bisa telfon dan mengirim pesan yang kami lakukan setiap hari.

"dan ini untukmu dariku" Ibuku membuka sebuah kotak dengan anting berlian bening yang sangat indah.

"Papamu membelikan ku ini saat tahu aku mengandung mu jadi aku rasa ini memang untukmu"

"ini sangat cantik mom "

"It's just something old"

Aku tersenyum lebar saat ayahku mengetuk pintu perlahan dan masuk dengan senyum lebar.

"oh... malaikatku" Mata papaku mulai meneteskan air matanya membuatku sudah tidak bisa membendungnya lagi.

"oh sudahlah, keluarkan saja biar nanti di rapikan lagi" Grace berkata cepat sebelum menarik kami semua dalam pelukan.

Ini adalah keluarga terbaik yang bisa aku minta, aku di besarkan dengan cinta dan kasih sayang yang melimpah dan aku berjanji aku akan membuat keluargaku sendiri dengan cinta dan kasih sayang yang sama.

"aku benci memisahkan kalian tapi..." Julian berbisik di depan pintu dengan senyum bersalah. "... Blake sudah menunggumu Gaby"

Aku menarik nafas dalam sebelum mengangguk mantap.

"tunggu dulu, Grace kau bilang kau yang akan memberikan barang pinjaman untuk Gaby" Ibuku bertanya dengan alis bertaut.

"memang"

"well dimanakah itu?"

"nanti mom, jika aku memberikannya sekarang papa bisa kena serangan jantung" bisik Grace dengan mata jahil yang membuat Ibuku terkekeh kecil.

"aku apa?" Tanya Papaku tidak mendengar semua kalimatnya.

"ayo Pa" Aku menarik Papaku keluar menyelamatkan Grace dalam prosesnya.

Saat langkah ke tiga aku sudah melihat Papaku mengusap matanya lagi.

"Pa...." Rengek ku karena tahu sebentar lagi aku pasti akan menangis juga.

"Aku hanya bahagia akhirnya kedua putriku sudah menemukan orang yang akan menjaganya, Papa jadi bisa tenang"

"Jangan bicara yang aneh"

"ini tidak aneh, aku juga tidak akan kemana-mana sebelum aku menggendong anakmu"

Aku tersenyum kecil dan mengecup pipi Papaku.

"Kau tetap cinta pertamaku Pa"

"dan kau adalah malaikatku, selamanya"

Aku tersenyum kecil dan bersiap di depan pintu besar yang akan terbelah dua saat di buka dari dalam. Suara piano mulai terdengar dengan nada khasnya.

BE MINE!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang