Duapuluh Empat

14 6 1
                                    

Davira menyisir rambut menggunakan jari dengan kaca spion mobil sebagai acuan. Archer kembali mengajak Davira pergi, namun kali ini dia tidak memberitahukan tujuannya.

Tidak lama kemudian Archer membuka pintu mobil dan memberi Davira sebotol air mineral. Tanpa bertanya, Davira mengambil botol tersebut dan memegangnya selama perjalanan.

Archer memilih melewati jalan-jalan kecil yang tampak tidak sepadan dengan mobil angkuhnya. Namun saat berhasil keluar, mata Davira membulat. Pekarangan sebuah pekuburan.

"Kita mau ngapain Archer? Kita mau kemana?"

"Kita mau ketemu Amanda,"

Mobil berhenti di depan gapura pemakaman tersebut. Archer menggenggam tangan Davira lalu menyusuri jalan-jalan kecil hingga akhirnya sampai pada sebuah makam putih sederhana namun lumayan terawat.

'Amanda Clairin Hill' begitu nama yang tertera pada nisan. Kelahiran lima belas tahun lalu, berarti selisih dua tahun jika dengan Archer dan satu tahun jika dengan Davira.

Davira berdiri di sebelah Archer. Cowok itu berjongkok, Davira mengikuti langkahnya walau agak kesusahan. Keheningan memerangkap mereka selama beberapa saat. Davira menggenggam tangan Archer saat cowok itu menghela napas berat.

"Hai Manda, kakak bawa cewek yang waktu itu kakak bilang mirip kamu," kata Archer. "Namanya Davira,"

"Halo Manda," Davira mengelus pelan nisan Amanda.

"Dia ngandung keponakan Manda, kayak yang kakak bilang waktu itu. Kalau Manda ada di sini, pasti Manda bakal gemes sendiri dan enggak sabar nunggu kelahiran bayinya,"

Archer terdiam. Davira mengelus pelan punggung Archer yang melengkung sedu. Archer membiarkan lukanya menganga secara transparan, membiarkan Davira melihat bagaimana ia menyayangi dan merindukan Amanda.

"Berdoa dulu Dav, habis itu kita pulang,"

oOoOo

Sebuah mobil asing terparkir di halaman rumah Davira, pintu depan pun ikut terbuka. Sama seperti Davira, Archer juga sama sekali tidak tahu dengan pemilik mobil tersebut.

Untuk membunuh rasa penasaran, mereka segera turun dan mendapati Pak Ramli yang tengah berbicara dengan Fadli. Sadar akan keberadaan mereka berdua, Fadli malah memanggil Archer dan Davira.

"Ke sini kalian," panggil Fadli.

Archer dan Davira duduk bersebelahan. Pak Ramli mengulas senyum. Dia memutar tubuhnya menghadap Archer dan Davira. Mata Davira melirik kertas-kertas yang berserakan begitu saja di atas meja.

"Untuk masalah sekolah, setiap senin sampai Jumat akan guru yang bakal kesini dari mulai jam tujuh sampai jam sebelas untuk mengajar Davira. Tapi saat ulangan kenaikan nanti, kamu harus ikut ulangan di sekolah. Mengerti?" Jelas Pak Ramli.

Davira tersenyum lebar. Matanya berbinar, "Makasih banyak Pak, makasih banget,"

"Sama-sama, kamu bisa tanda tangan dulu di sini," Pak Ramli menunjuk sebuah materai yang tertempel di atas sebuah kertas.

Sebuah surat perjanjian. Surat perjanjian bahwa Davira bersedia mengikuti dan mengerjakan semua tugas-tugas yang diberikan gurunya nanti saat bersekolah di rumah. Tanpa pikir panjang Davira meraih pulpen yang disodorkan Pak Ramli dan menandatangani surat tersebut.

Sepulang Pak Ramli, Davira kembali ke kamar dan membereskan buku-buku pelajarannya. Pak Ramli tidak membicarakan detail tentang kegiatan belajar mengajar yang akan berlangsung, tapi Davira tidak peduli, dia sudah kepalang senang masih diizinkan bersekolah walau di rumah sendiri.

Tidak lupa, Davira mengabari Kiana tentang hal ini. Kiana turut senang walau dia juga mengakatan jika dia kesepian di sekolah. Kiana memang memiliki banyak teman, tapi sahabat, hanya Davira sahabatnya.

Terakhir Davira menatap ke arah kalender. Ulangan kenaikan kelas akan berlangsung sekitar dua bulan lagi, dan dua bulan lagi usia kandungan Davira menginjak angka delapan bulan.

"Lagi ngapain Dav?" Archer duduk di tepi ranjang, berseberangan dengan Davira yang duduk di kursi belajar.

"Cuma ngitungin tanggal,"

"Tanggal?"

Davira mengangguk, "Aku ulangan kenaikan di sekolah, dan waktu ulangan kenaikan dede bayinya udah delapan bulan,"

Archer diam, matanya ikut menatap kalender. Dia mengerti akan apa yang Davira khawatirkan, tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada yang bisa dia lakukan selain memberi semangat dan ide-ide bagaimana cara menutupi perut Davira yang makin membesar setiap harinya.

"Cher aku takut deh," Davira berpindah posisi menjadi di sebelah Archer.

"Takut kenapa?"

"Aku khawatir gimana kalau aku dibully pas nanti sekolah, aku baru kelas sebelas Cher. Masih ada jatah satu tahun lagi,"

Archer menatap manik Davira, kekhawatiran tergambar jelas di sana. "Dav, jangan pernah punya pikiran kalau aku bakal diem aja pas tahu kamu di bully. Just tell me and i'll do anything for you,"

"Makasih Archer,"

"Jangan makasih Dav, itu kewajiban,"

Tidak mau berada lebih lama dalam suasana melankolis, Davira membalikkan topik percakapan. "Boleh pinjam kuku?"

Tanpa menunggu persetujuan si empunya kuku, Davira menarik tangan Archer dan mengambil beberapa peralatan kecantikan dari meja belajarnya.

Davira mengoleskan kutex berwarna abu-abu metalic ke kuku Archer. Archer yang awalnya menurut tentu saja langsung protes.

"Kok dipakein kutex sih Dav?" Protes Archer.

"Gak apa-apa, soalnya aku kan gak boleh pake yang macam-macam jadi aku pakein ke kamu. Lagian ini warnanya macho kok!" Sahut Davira.

Archer diam saja merelakan kukunya berubah warna sembari menyiapkan mental. Entah apa yang akan dikatakan temannya besok ketika melihat perubahan warna pada kukunya itu. Belum berhenti sampai di situ, Davira bahkan berpesan agar Archer jangan menghapus kutexnya atau mereka akan berhenti berbicara selama satu minggu.

Daripada Davira mendiaminya selama satu minggu lebih baik ia menurut. Tidak ada pilihan lain, kan?

TwitterpatedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang