Dua Puluh

16 5 0
                                    

Kiana:
Dav, lo dmn?
Pas lo udh d sekolah lgsg ke mading!

Davira mengerutkan kening begitu membaca Line dari Kiana. Saat mobil berhenti di lampu merah, Davira memberikan ponselnya kepada Archer. Sama seperti Davira, Archer juga mengerutkan kening pertanda kebingungan.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Archer menaikkan kecepatan mobil. Sesampainya di sekolah, dia segera menarik tangan Davira menuju mading. Di sana, ada banyak sekali orang yang mengurubungi mading. Beberapa di antaranya menatap Davira dengan tatapan menghakimi.

"Dav!" Davira menoleh. Kiana, raut wajahnya kusut.

"Kia ada apa sih?"

"Ada baiknya Davira jangan lihat!" Sambung Ghiza. Archer menoleh.

"Kenapa sih Ghiz?"

"Cher... DAV!" Dovi spontan berteriak saat melihat Davira dengan nekat menerobos kerumunan.

Mata Archer membelalak, dia menyusul Davira dan membelah kerumunan tanpa ampun. Keduanya berhenti tepat di depan mading. Dua buah karton besar tertempel di sana, hampir enam puluh persen isinya berupa makian terhadap Davira.

CEWEK INI TAMPANGNYA AJA POLOS ASLINYA LACUR!

DIA NGERUSAK NAMA BAIK SMA BAKTI NEGARA! HAMIL DILUAR NIKAH NIH PEREK!

GAK TANGGUNG-TANGGUNG ARCHER LANGSUNG YANG HAMILIN DIA! GILA GAK?

DAVIRA BUSUK! PEREK! MATI AJA LO SAMA BAYI LO!

GAK PANTES LO HIDUP DI TENGAH-TENGAH KITA! KITA GAK BUTUH MUKA DUA LO DAV!

Poster sebelahnya berisikan foto-foto Davira yang telah dicoret, foto pernikahan Davira dan Archer, bahkan foto hasil USG kemarin. Air mata Davira jatuh tanpa bisa dicegah. Dia tidak marah atas hujatan yang diterimanya, dia memang pantas dihujat, dia hanya kecewa. Kecewa karena ada pihak yang dengan kejinya menyuruh bayi ini mati.

"NGAKU SIAPA YANG UDAH NEMPEL INI!" Archer berteriak menunjuk mading. Tatapan matanya berubah sadis, siap membunuh siapapun pelakunya.

"Archer gak usah begitu, kita buang aja madingnya," berusaha kuat, tapi getar dalam suara dan wajah pucat Davira berhasil mengoyak jantung Archer.

Dengan tangan gemetar, Davira berusaha mencabut mading tersebut. Namun, usahanya di cegah Archer. Cowok itu menahan tangan Davira agar dia berhenti dari kegiatannya.

"Jangan di cabut!" Kata Archer.

"Nanti guru-guru lihat," Davira kembali berusaha mencabut poster tersebut.

"Dav aku bilang jangan! Ini bisa jadi bukti–"

"Bukti apa? Bukti kalau kata-kata di sini benar semua? Udah lah Archer," Davira yang putus harapan kembali melepas poster tersebut.

"Dav, sini yuk sama gue," ajak Kiana. Dia berusaha keras agar air matanya tidak jatuh dan ikut mematahkan Davira.

Archer menghela nafasnya perlahan. Dia lantas membaca deret kata-kata makian terhadap Davira. Berhasil menemukan sebuah keanehan, emosi Archer kembali mencapai ubun-ubun.

"MANA CHIKO?! DOVI, GHIZA MANA CHIKO?!"

"Gue disini Cher, kenapa?" Chiko tiba-tiba muncul dari balik kerumunan yang masih betah menonton.

Bugh!

Sebuah bogem mentah mendarat mulus di wajah Chiko. Melihat hal ini, Dovi dan Ghiza langsung memisahkan dua sahabat mereka. Dovi membantu Chiko agar bangun, sementara Ghiza mati-matian menahan Archer.

"Lo kenapa sih Cher?" Chiko mengelap darah yang keluar dari hidungnya.

"Gak usah sok polos lo! Lo kan yang nempelin poster-poster itu?!" Archer berhasil menyingkirkan Ghiza dan mencengkram kerah baju Chiko.

Melihat Ghiza yang kepayahan menahan Archer, Davira maju. "Archer udah, kasihan Chiko,"

"Gak usah sok baik lo Dav! IYA GUE YANG NEMPELIN SEMUA POSTER ITU!"

Archer kembali melayangkan tinjuan dan tendangan bertubi-tubi sampai akhirnya Chiko terbaring dengan keadaan yang lumayan parah. Namun bukannya mengaku salah, Chiko malah meludah.

"Gue muak sama tingkah lo Cher! Dari SMP, tiap cewek yang gue deketin itu pasti milih lo! Tapi lo dengan songongnya bilang kalau mereka bukan tipe lo!" Chiko mengelap ujung bibirnya, "Sampai pas SMA gue dekatin Kiana! Dan lo tau, Kiana malah lebih tertarik ke lo! Gue udah berusaha ikhlas dan malah comblangin lo sama Kiana. Tapi Davira perek itu menghancurkan semuanya!"

Chiko menunjuk Davira yang ada dalam pelukan Kiana. Cewek itu bergeming, merasa terkejut dan bersalah atas pengakuan Chiko.

"Sekarang gue tahu tipe cewek lo Cher," Chiko tersenyum miring. Tatapannya jelas menunjukkan penghinaan.

"Lo jangan sembarangan bawa-bawa nama Davira!" Kiana maju. "Yang nyebabin gue gak suka sama lo bukan karena Archer apalagi Davira! Sifat lo! Gue gak suka sama lo karena sifat lo yang selalu mengkambing hitamkan sesuatu! Dan sekarang dengan bagusnya lo mengkambing hitamkan sahabat gue. Selamat, lo udah bikin gue sangat benci sama lo!"

"ADA APA INI RAMAI-RAMAI!" Teriak Pak Ramli–kepala sekolah. Beliau datang bersama beberapa jajaran guru.

Pak Ramli memelotot ketika membaca poster dan menyadari kondisi Chiko serta Archer. Tanpa ragu beliau menyobek poster tersebut dan membawa Archer serta Davira ke ruang kepala sekolah. Sementara Chiko digotong oleh guru-guru lain menuju UKS.

TwitterpatedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang