Lima Belas

18 5 0
                                    

Dahi Davira mengerut kebingungan saat mobil yang dikendarai Archer malah lurus melewati sekolah. Tapi Davira belum mau bertanya, perasaan kesal, kecewa, dan takut masih bercokol dalam benaknya.

Mobil berhenti di basemen sebual mal ternama. Archer memarkirkan mobil dan melepas safety belt. Davira masih bengong memperhatikan tindak tanduk Archer.

"Kita bolos aja. Gue mau ajak lo ke pantai, sekarang kita beli baju dulu," Archer menyerahkan sebuah hoodie oversize miliknya pada Davira. "Kayaknya ini bakal nutupin rok lo, coba deh,"

Archer mengambil sesuatu dari kursi penumpang. Sebuah sweater hitam lalu memakainya. Archer mengeluarkan kerah bajunya hingga tampak dari leher sweater.

Davira memalingkan wajah, Archer terlihat sangat tampan. Tanpa sadar tangannya mengelus perut. Ya ampun nak, ayah kamu ganteng banget.

"Lo pake hoodienya diluar aja. Gue mau ganti celana," kata Archer cuek.

Wajah Davira memerah. "Harus banget ya bilang gitu? Yaudah nih gue keluar,"

"Tapi kalau lo masih mau di dalem juga enggak apa-apa," goda Archer.

"ARCHEEER!" Davira merengut kesal namun tak ayal tertawa juga. Melupakan pertengkaran mereka tadi.

Archer mengacak rambut Davira. "Jangan marah lagi ya Dav, nanti gue ceritain semuanya. Gih keluar,"

Bagai sihir, Davira melangkah keluar dan memakai hoodie yang jelas kebesaran. Anehnya dia kepayah dalam menelan ludah. Jantungnya juga berdebar kencang namun terasa menyenangkan. Apa ini salah satu efek hamil di bawah umur?

Tidak lama, Archer keluar dari mobil dengan celana pensil warna cokelat muda yang mengekspos kaki jenjangnya. Davira menunduk, menatap lututnya yang tertutup hoodie

"Yuk,"

Archer mengandeng tangan Davira masuk mal. Archer mengajak Davira masuk ke konter Zara dan memilihkan beberapa helai pakaian yang terdiri dari sebuah baju kaus lengan pendek, cardigan, dan sebuah rok.

"Enggak kebanyakan ini?" Tanya Davira tidak enak.

"Udah coba aja," kata Archer.

Davira mengangguk. Dia mencoba pakaian tadi di kamar pas. Davira mengangkat kausnya sebatas perut. Sudah jalan empat bulan, dan perutnya sudah mulai maju. Davira menggigit bibir, rasa khawatir perlahan muncul. Bagaimana kalau ada yang memperhatikan secara detail perubahan bentuk tubuhnya?

Davira menggelengkan kepala. Mendatangkan pikiran-pikiran positif. Tidak ada yang akan begitu memperhatikan bentuk tubuhnya selain dia dan orang-orang terdekat.

Setelah itu, Davira keluar, menunjukkan penampilan barunya kepada Archer. Sepuluh detik pertama, Archer terhenyak. Menyadari betapa imutnya Davira dakam balutan pakaian berwarna pastel yang tadi dia pilihkan.

"Gimana? Bagus enggak,"

"Bagus kok. Lepas dulu, gue bayar dulu,"

oOoOo

Ini hari kerja dan jam kerja, Ancol jadi sangat sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang berkunjung. Davira berjalan di bibir pantai, menikmati deburan ombak kecil yang menerpa telapak kakinya.

Rasanya menyenangkan. Semilir air pantai menerbangkan sebagian beban di pundak Davira. Archer berjalan tepat beberapa langkah di belakang Davira. Kacamata hitam bertengger di hidung tinggi Archer, membuat cowok itu terlihat semakin keren.

Kini langkah Archer dan Davira sejajar. Mereka bahkan bermain kejar-kejaran hingga betis mereka terendam air. Archer menangkap Davira dengan melingkarkan kedua tangan di perut Davira. Jantung Archer seperti diremas saat menyadari jika perubahan pada tubuh Davira mulai terjadi. Maafin gue Dav, gue benar-benar menyesal.

"Cher, gue capek. Mau duduk," pinta Davira.

"Kita ke tepi ya," saat Archer ingin melepas  pelukannya, tangan Davira menahan.

"Gue mau begini aja boleh?" Pinta Davira sembari menatap Archer.

Archer terdiam sebentar. "Boleh,"

Akhirnya mereka berjalan seperti orang aneh dengan kedua tangan Archer yang masih melingkar di perut Davira. Setelah mendapat posisi yang pas, mereka duduk bersebelahan.

"Amanda itu adik gue, tepatnya adik kesayangan gue. Dia udah meninggal, bunuh diri. Gara-gara bokap selingkuh sementara dia sayaaang banget sama bokap. Belum lagi selingkuhan bokap itu ibu dari temannya, dia harus menanggung rasa malu dan kecewa secara bersamaan," Archer melepas kacamata. Membiarkan sinar mentari menubruk netranya.

Davira mengelus punggung Archer. Walau tidak punya adik atau kakak, Davira tahu jika kehilangan orang terkasih adalah hal yang paling sulit dilewati.

"Masa itu masa paling kelam di hidup gue. Ortu gue pisah dan besoknya adik gue bunuh diri. Rasanya harapan gue untuk hidup udah enggak ada. Harusnya gue mati aja, karena kalau gue mati lo pasti enggak akan begini. Lo pasti bahagia, mimpi lo bakal tercapai. Semuanya gara-gara gue,"

Deg!
Ini sudah tidak benar.

Davira memeluk lengan Archer. "Ini bukan sepenuhnya salah lo. Gue juga salah karena udah melanggar peraturan dari mama papa. Anggap aja ini hukuman sekaligus hadiah. Enggak apa-apa Archer, gue mulai bisa menerima kondisi gue sekarang kok,"

Archer tersenyum, kisahnya belum usai. "Malam itu, gue bener-bener enggak sadar. Waktu pertama kali lo masuk club, gue serasa udah mati karena gue bisa lihat Amanda lagi. Tapi ternyata itu bukan dia. Gue tertarik buat ajak ngobrol lo tapi gue udah mabuk duluan. Selanjutnya, gue bener-bener enggak sadar,"

"Archer. Kalau misalkan lo suka sama gue, lo mandang gue sebagai Amanda atau Davira?" Tanya Davira harap-harap cemas.

"Jelas Davira. Amanda dan Davira itu serupa tapi kepribadiannya jauh banget," Archer mencubit hidung Davira gemas.

"Emang kepribadian kita gimana?"

"Gak mau jawab ah ntar lo ngambek lagi!"

"Jawab!"

"Gak!"

"Jawab!"

"Gak!"

"Archeeeer!"

"Enggak, sayang,"

Pipi Davira memerah saat itu juga.

TwitterpatedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang