"Gimana nginepnya? Pastiiii kalian ngomongin cowok ya kan?" Goda Monika saat Davira tengah sarapan.
"Apasiih Mama. Enggak ih," Davira tertawa rikuh.
"Bohong nih. Mama ya dulu kalo nginep di rumah temen, pasti ngomongin gebetan. Cowok-cowok gitu. Biasalah abege. Lucu kalo diinget-inget. Apalagi kalo pas nginep ditelpon gebetan, uhh senangnyaaa minta ampun," celoteh Monika. Davira tersenyum menanggapi.
"Davira sama Kiana itu belajar kelompok Mama, sekalian tukeran novel. Enggak sempat ngomoning cowok. Lagian Davira enggak suka sama siapa-siapa,"
"Masa sih gak ada cowok yang nyangkut-nyangkut? Pasti ada, masa iya anak mama begini cantik gak ada yang dekatin," Monika menoel pipi Davira.
"Beneran Mamaaa, ih jangan ngomongin itu ah Davira marah nih,"
"Mmm... kalo begini biasanya ada nih. Mana sini cowoknya biar mana bilangin untuk suka balik sama Davira, masa cewek secantik ini dianggurin. Rabun kali ya,"
Davira hanya tertawa dan kembali melanjutkan sarapan. Sejujurnya, dia sudah tidak terlalu peduli dengan cowok-cowok diluaran sana. Mana ada cowok yang mau menerima apa adanya kondisi Davira sekarang?
Setelah makan, Davira menuju ke kamarnya dan membuka ponsel. Ada beberapa pesan baru yang masuk. Seseorang me-add id Line Davira.
Archer Hill
Hi, ini Archer
Masih di rumah Kiana?Davia mengerutkan kening. Darimana Archer dapat id Line nya? Tapi itu tidak terlalu penting. Toh cowok seterkenal Archer bisa dengan cepat mendapat id Line seseorang dari siapa saja.
Davira Friska
Hi Archer
Engga, udh di rmh sendiri
skrgBelum berapa lama terkirim, Davira sudah mendapat balasan dari Archer.
Archer Hill
Syukur deh
Gw kira msh di sanaDavira bergumam tidak jelas walau sadar Archer tidak akan mendengar. Jemarinya mengetikkan sesuatu, lalu di hapus. Dia mengulangi hal tersebut sebanyak tiga kali hingga akhirnya dengan ceroboh mengirimkan pesan tersebut. Bodoh.
Davira Friska
Cher, di sekolah kita biasa aja ya
Kaya kita biasanya
Bisa kan?Sudahlah, terlanjur. Davira berharap hal ini tidak menyinggung perasaan Archer. Davira hanya takut jika perubahan interaksi yang sangat mendadak di antara mereka akan menimbulkan persepsi yang macam-macam. Karena Davira paham, Archer siapa dan dia siapa.
Sekitar lima menit pesan tadi sudah berubah tanda. Archer membacanya, namun belum kunjung membalas. Davira bertanya-tanya, apa yang ada dalam pikiran Archer?
Archer Hill
Oke, gw usahain
See yaDavira Friska
Thx Cher :)
See yaDavira meletakkan ponsel di atas tempat tidur. Dia lantas berjalan menuju lemari, berdiri cukup lama di depan cermin dan menurunkan kerah kaus yang dia pakai.
Terlihatlah bercak-bercak merah di bagian bawah leher dekat dada. Davira tidak bisa melupakan hal-hal yang terjadi semalam. Dia masih sangat takut. Sangat terpukul. Tapi sebisa mungkin Davira menyembunyikan semuanya. Berlagak kalau dia baik-baik saja. Sangat baik-baik saja, sama seperti Davira yang dulu.
Ponsel Davira kembali berdering. Kali ini Kiana yang menelpon. Malihat nama itu, hati Davira berdenyut sakit. Apa gue sudah menghianti Kiana? Apa kalau Kiana tahu dia bakal ngertiin posisi gue? Maaf Kiana, ini kecelakaan. Davira mengangkat panggilan tersebut.
"Daviraaaa maafin gueee. Gue mabuk, gue lupa kalau lo sama gue," ucap Kiana histeris.
"Gak papa kok. Gue aman, tapi maaf ya gue pulang duluan,"
"Lo tidur di mana semalem? Bibi bilang pagi ini lo pulang di anter cowok. Siapa?"
Deg.
Mampus gue."Ahh itu, gue tidur di kamar club semalem. Dianter mbak-mbaknya. Gila gue ngantuk banget kayaknya kebanyakan makan," Davira mengutuk dalam hati. Kini, ia tidak bisa berhenti berbohong.
"Astagaaa Dav. Tapi emang enak banget sih makanannya. Hati-hati ntar gendutan loh," goda Kiana, Davira berhasil mengalihkan fokusnya.
"Enggak laah, emm udah ya. Mama manggil,"
"Oke deh, gue cuma mau mastiin keadaan lo aja. Bye Dav,"
"Bye Ki,"
Klik.
Davira mengucap syukur karena Kiana tidak bertanya lebih lanjut tentang siapa yang mengantarnya pulang. Harapannya Kiana akan lupa dan tidak lagi membahas hal itu besok di sekolah.
Davira berbaring di atas tempat tidurnya sembari menatap ke langit-langit. Membayangkan ada berapa hati yang akan terluka jika mereka tahu akan keadannya sekarang. Mama, Papa, Kiana, bahkan orang tua Archer. Davira siap kalau mereka memaki-maki dirinya, tapi Davira tidak pernah siap kalau mereka meninggalkannya seorang diri. Davira tidak akan pernah siap untuk itu.
Untuk menghapus segala pikiran-pikiran negatif yang sedari tadi meneror Davira habis-habisan, cewek itu memilih untuk membuka buku pelajaran besok. Mencoba mengerti materi demi materi yang akan dipelajari.
Ekor mata Davira menangkap puluhan buah medali yang digantungkan di sisi tembok. Selama ini Davira dikenal sebagai siswi berprestasi. Beberapa kali dia menggaet penghargaan karena memenangkan berbagai perlombaan sains di kancah internasional.
Davira tersenyum kecil. Memutar memori demi memori saat namanya dipanggil maju ke podium. Menerima berbagai macam penghargaan, medali, hadiah, dan ucapan selamat. Davira Friska berharap, orang-orang hanya mengenalnya sebagai 'si pemenang olimpiade' bukan sebagai 'putri yang mahkotanya dicabut'.

KAMU SEDANG MEMBACA
Twitterpated
RomanceTentang Davira dan mahkotanya yang hilang. Tentang Davira dan mimpi-mimpinya yang pupus. Tentang Davira dan sayap-sayapnya yang patah. Lo berhak bahagia atas hidup lo sendiri. Lo berhak mencintai diri lo sendiri enggak peduli sehancur apapun hidup...