Pagi-pagi sekali Kiana datang ke rumah Davira dalam rangka melarikan diri. Kiana sedang misuh-misuh perihal kedatangan Sang Oma yang menurutnya merepotkan.
"Kenapa mesti dateng sih tuh nenek tua, ngerepotin gue aja. Udahlah kerjaannya ngoceh mulu enggak ada faedah," kesal Kiana.
Davira terkekeh, "Udah-udah gue ambil sarapan sebentar,"
"Iya gih sana,"
Davira keluar kamar. Baru berjalan beberapa langkah dia bertemu dengan Bi Imas, asisten di rumah Davira yang tengah membawa nampan berisi roti selai cokelat dan dua gelas susu.
"Sini bi, biar Davira yang bawa," kata Davira.
"Udah biar bibi aja," tolak Bi Imas.
"Enggak apa-apa bi, lagian cuma berapa langkah doang,"
"Beneran enggak apa-apa nih?"
"Beneran bibi sayaaangg" Davira meraih ujung nampan.
"Yaudah deh, hati-hati ya Dav, nanti pecah,"
"Siap bibi, Davira bawa ke kamar dulu yaa,"
Davira kembali ke kamar dan meletakkan nampan tersebut di atas meja rias. Dia agak terkejut melihat Kiana yang tiba-tiba berdiri di depan nakas.
"Kia lo nga–"
"Jelasin ke gue ini apa," potong Kiana sembari menunjukkan sebuah tespek.
Davira terkejut bukan main. Dia segera menutup pintu kamar dan mencoba merebut kembali tespek dari tangan Kiana. Tapi Kiana tidak sedikitpun melonggarkan pegangannya pada tespek milik Davira.
"Kia lo nemu ini di mana?"
"Jawab pertanyaan gue dulu Davira! Jelasin maksud semua ini!" Tekan Kiana, dia menahan bahu Davira.
"Itu punya gue! Puas lo?!" Mata Davira berkaca-kaca. Kiana spontan melepaskan bahu Davira.
"Siapa? Siapa Dav? Siapa? Kenapa?" Lirih Kiana.
Tanpa diduga-duga, Davira menjatuhkan dirinya di depan Kiana. Davira menangis tertahan namun bahunya berguncang hebat. Kiana ikut berlutut dan menenangkan Davira.
"Maafin gue Ki, maafin. Maafiin gue," isak Davira.
"Kenapa minta maaf? Siapa ayahnya Dav?"
"Archer Ki, Archer."
Seluruh cerita memilukan terjun bebas dari mulut Davira tanpa dikurangi ataupun dilebihkan. Lutut Kiana seketika lemas. Ini semua salahnya. Coba saja kalau dia tidak memaksa Davira untuk ikut, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Davira tidak akan hancur seperti ini.
Kiana memeluk Davira sembari membisikkan kepada Davira kalau ini semua bukan salahnya. Kiana meyakinkan kalau dia lah yang bersalah karena memaksa Davira.
"Archer tahu?"
"Tahu, dia ngakuin kalau ini anaknya dan dia bilang akan ngasih tau ortu kita saat dia udah siap,"
"Saat dia siap? Kapan Dav? Bisa-bisa dia kabur duluan! Pokoknya gue harus ngomong sama Archer! Hapus air mata lo, kita ke sekolah sekarang," tegas Kiana.
oOoOo
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Archer. Cowok itu pasrah saja saat Kiana menghujaninya dengan kata-kata makian. Archer paham, Kiana pasti sangat terluka. Lagipula mereka ada di dekat kolam renang sekolah jadi tidak akan ada yang mengamati.
"Udah Kia udah. Ini semua bukan salah Archer, dia mabuk waktu itu," Davira menarik Kiana menjauh dari Archer.
"Gue gak mau tau, lo harus tunjukin kalau lo bener-bener laki-laki! Lo harus tanggung jawab secepatnya," tuntut Kiana.
Archer menyugar rambutnya frustasi. "Lo tuh gak paham! Gue bakal tanggung jawab kalau waktunya tepat, tapi enggak sekarang,"
"Terus kapan? Pas perut Davira udah buncit? Pas anak lo lahir? Iya?" Napas Kiana tersengal-sengal. "Pokoknya gue akan ikut ke pertemuan orang tua kalian. Ini salah gue."
"Jangan bikin runyam segalanya!"
"DIAM! PLEASE STOP!" Davira tiba-tiba muncul di antara keduanya.
"Stop... awh,"
Davira perlahan dudukkan tubuhnya sembari memegangi perutnya. Davira tiba-tiba merasa perutnya kram, sakit sekali. Tak kuasa menahan sakit Davira sampai meneteskan air mata.
Panik, Kiana membuka ponselnya untuk googling apakah situasi yang dialami Davira wajar atau tidak. Archer jongkok di sebelah Davira, memastikan keadaannya.
"Cher sakit. Perut gue sakit banget, ini gimana?" Davira memegangi perutnya sembari mengaduh.
"Lurusin kakinya dulu,"
Archer mambantu Davira meluruskan kakinya dan membukakan sepatu Davira. Dengan tangan bergetar, Archer ikut mengelus perut Davira. Walau masih rata, perut Davira sudah mulai terasa keras.
"Dav, kondisi lo wajar. Di awal kehamilan memang akan terasa kram, coba tarik napas pelan-pelan," instruksi Kiana. Davira mengikutinya perlahan.
Sedikit demi sedikit, Davira merasa kram di perutnya mulai menghilang. Dia mengelap keringat dengan lengan bajunya. Archer menghela napas lega.
"Kalau nanti ditengah pelajaran lo ngerasa gak enak, langsung bilang gue atau Kiana ya. Jangan dipaksa," Archer menatap Davira dalam-dalam.
"Iya,"
"Bisa berdiri?"
Davira mengangguk. Meskipun agak kepayahan, tapi Davira berhasil berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Melihat kondisi itu, Kiana memalingkan wajah. Nyawanya seperti direngut paksa. Sahabat kesayangannya, Davira, seperti ini karena dia.
Setelah memastikan kondisi Davira baik-baik saja, mereka segera kembali menuju kelas masing-masing secepatnya agar tidak ada yang curiga.

KAMU SEDANG MEMBACA
Twitterpated
RomanceTentang Davira dan mahkotanya yang hilang. Tentang Davira dan mimpi-mimpinya yang pupus. Tentang Davira dan sayap-sayapnya yang patah. Lo berhak bahagia atas hidup lo sendiri. Lo berhak mencintai diri lo sendiri enggak peduli sehancur apapun hidup...