"I'm sure I put my notebook here." Nicole berhenti menjelajah isi tasnya sendiri. Dia menghela nafas pasrah karena tidak menemukan barang yang dicari. "Ih kemana ya? Ketinggalan di mobil apa?"
"Just call Steven." saran Natasha.
"Oh iya. Kamu pinter."
Dengan tanggap Nicole segera menghubungi asisten pribadinya perihal urusan buku-buku yang tertinggal. Membiarkan Natasha menatap gadis itu tidak percaya, kenapa Nicole bisa sependek itu logikanya padahal bisa saja dia langsung menghubungi Steven.
Gadis dengan balutan blus biru dongker dipadukan dengan celana bahan berwarna putih sepanjang betis tersebut memilih menyenderkan tubuh pada dinding selagi Nicole berbicara lewat sambungan suara. Kelas mereka dimulai dalam 30 menit, jadi mereka bisa bersantai sejenak --setidaknya jika Nicole tidak menghilangkan bukunya.
Bosan menunggu, Natasha memilih memainkan ponselnya. Mengecek berita terbaru, lalu hendak membaca artikel kesehatan begitu lengannya ditarik seseorang sehingga ia masuk ke dalam ruang penyimpanan barang-barang kebersihan.
"What the--"
"Ssst."
Johnny meletakkan jari telunjuk di depan bibir Natasha selagi matanya bergerak ke kanan dan kiri, lalu menutup pintu kayu di belakangnya.
Begitu sadar dari keterkejutan, Natasha segera menepis tangan Johnny. Cowok itu menoleh, menatap tangan kanan yang ditepis Natasha. Lalu berganti menatap Natasha yang sudah bersidekap, menatap Johnny dengan sinis.
"Mau apa?" tanyanya.
"Mau ngomong."
"Ngomong aja."
Hening.
Tidak ada satupun yang bersuara setelah Natasha mempersilahkan Johnny untuk berbicara. Lelaki dengan jaket bomber hitam yang melapisi kaos putihnya ini hanya mengusap tengkuk beberapa kali, dengan pandangan tertuju pada sepatu, lalu ia menggeram.
"Ah.. Aku ngga tau mau ngomong apa!" ucap Johnny frustasi.
Natasha menaikkan satu alis, dengan tangan masih bersidekap ia bersandar pada dinding.
"Kalau ngga tau ngapain ajak aku kesini?"
"Natasha.." lirih Johnny begitu mendengar nada terlampau sinis milik Natasha. Terdengar helaan nafas Natasha sebelum akhirnya dia bersuara.
"Jujur, selama ini aku ngga tau kamu kemana. Aku ngga tau kalau ternyata kamu lanjut kuliah disini. Dan selama ini aku selalu berusaha bicara sama kamu, kamu selalu menghindar. Ngga mau lihat aku, bahkan tiap aku sama kamu ada di tempat yang sama kamu selalu pergi. Ketara banget tau ngga? Kamu lihat aku udah kayak lihat musuh bebuyutan."
"I'm sorry.." kata Johnny pelan, hampir terdengar seperti bisikan. Kepalanya tertunduk, takut untuk menatap Natasha. "Aku ngga maksud. Aku... bingung mau menghadapi kamu kayak gimana."
Ada hening diantara mereka sebelum akhirnya Natasha tekekeh. Tawa kecil yang terdengar mengintimidasi Johnny.
"I do understand, it must be awkward to live in the same roof with someone who have no blood relations with yourself."
Seperti dihentikan oleh mesin waktu. Jantung Johnny seolah berhenti berdetak saat kalimat Natasha mengalir dalam telinga. Perlahan ia mendongak untuk menatap gadis di hadapannya dengan penuh keterkejutan.
"Kamu tau?"
"Emang kamu pikir Mama sama Papa bakalan bohongin semua orang dengan bilang 'Johnny lanjutin sekolah di Boston' gitu? Keluarga kita bukan keluarga Eric van der Woodsen, Sergio." jawab Natasha sarkastik dengan menyebut nama tengah sang kakak. Lalu gadis itu menyenderkan kepala pada dinding, belum pukul sepuluh dan kepalanya sudah pening. Pandangannya membalas tatapan Johnny dengan raut yang Johnny tidak pernah sekalipun lihat. Terlalu mengintimidasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Cognitive || johnny
Fanfic[Bahasa] Completed Definition of Cognitive: Relating to, being, or involving conscious intellectual activity (such as thinking, reasoning, or remembering). Johnny survived his live with thinking, doing things with his reasons, and tried to remember...
