Sound of Your Heart

144 25 2
                                        



He would like to thank Ms. Jennifer Kim for being drunk that night

Sekretaris Senat itu membuat cerita hiperbola mengenai curhatan Johnny saat mereka minum di malam setelah seminar selesai, sehingga Thalia kembali memberi empati kepada seorang lelaki yang sudah berstatus mantan selama kurang lebih dua minggu.

Keduanya kembali saling menghubungi satu sama lain. Tidak se-intens sebelum putus, tapi setidaknya bisa membuat Yuko tidur tenang karena Johnny tidak rewel lagi karena galau tiap malam. Tidak saling menunggu siapa yang keluar lebih dulu dari ruang ujian seperti sebelumnya, tapi menghabiskan waktu mempelajari materi bersama.

She also bringing up about that lavender thing. And how she got another different bouquet the next day, the day after, and the rest of the week thinking it was from him. Johnny hanya bisa tersenyum. 

That's not him.

He also asked Natasha, but she said no.


Bisa apa kalau dia jujur saat ini juga?

Bisa gila.

Johnny bisa gila kalau Thalia akan menjauh lagi. Sudah cukup enam belas hari menyambangi status lonely boy, dia tidak butuh puluhan dan ratusan hari selanjutnya dilewati tanpa melihat Thalia Anastasia.

Sampai suara Matthew Healy berhenti untuk menyambung Encore, mata Johnny tidak berhenti menatap perempuan yang ikut bernyanyi bersama penonton lain semenjak 20 lagu sebelumnya. If other people saw how Johnny looked at her, it was certain to think that he really loved his girl. The way he strokes her hair, the way he always make sure their hands always holding each other, the way he listen whenever she talked.

God, Johnny is in love with her. Every. Single. Time.

"Jo, stop looking at me. We have arrived."

Suara lembut yang memasuki indera pendengaran lelaki tersebut membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia segera menyusul Thalia yang lebih dulu turun dari taksi online setelah memastikan sudah melakukan pembayaran non-tunai. Langkah kakinya bergerak cepat menyamai langkah Thalia yang sedang melihat sekitar, mencari tempat kosong diantara banyaknya pengunjung tempat makan bertenda di pinggir jalan malam ini.

"Kamu makan apa?" tanya Johnny begitu mereka mendapatkan tempat duduk.

Pandangan Thalia menyusuri satu kertas laminating berisi daftar makanan yang tersedia. "Pengen yang kuah... kayaknya suara aku besok bakal hilang."

Johnny tersenyum.

"Kesambet ya kamu? Daritadi senyum mulu."

"Lagian kamu sih."

"Lah aku?" Thalia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah kebingungan. Johnny semakin tersenyum lebar, terlalu gemas melihat perempuan di hadapannya.

Kalau bisa dikarungin, udah gue karungin lo. Batin Johnny.

"Aku mau ramen... tapi roti bakar kayaknya enak." gumam Thalia. "Johnny, kamu mau makan apa?"

"Pesen aja dua-duanya. Kalau kamu ngga habis, aku yang habisin. Aku mau... es buah? Iya."

"Es? Serius? Sekarang lagi dua puluh satu derajat loh?"

Johnny mengangguk. "Ngga apa-apa."

"Okay, aku pesen dulu ya ke sana."

Tangan gadis tersebut ditahan ketika bangkit, Johnny mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan ke tangan Thalia. "Pake kartu yang biru kalau ngga bisa tunai."

The Cognitive || johnnyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang