Half Human, Half Evil

133 23 0
                                        


Johnny masih berusaha menahan bibir pada satu garis lurus. Tangan kanannya memutar bolpoin, sementara tangan kirinya menjadi penopang kepala yang dia rasa akan pecah jika ia masih bertahan dalam ruang rapat selama dua jam ke depan.

Definisi bos setengah setan memang sangat cocok disematkan pada Bethany. Wanita gila kerja sangat cocok untuk mendeskripsikan staff Resonance. Ambisi mereka sangat kuat terhadap pekerjaan, hingga para staff magang benar-benar mengalami culture shock.

Wanita berbalut dress hitam itu menurunkan letak kacamata. Dengan kepala sedikit melenggak, Bethany membaca rencana strategi digital marketing yang Johnny presentasikan sebelumnya.

Sebuah satu pertanyaan yang dilontarkan pada pukul sepuluh malam namun membuat Johnny, Jef, Emily si kepala marketing dan dua anak buahnya kelimpungan. 

"Gimana kalau kita perluas target pasar melalui digital marketing?"

Cukup bagi Johnny untuk menyeduh dua gelas kopi hitam yang membuatnya terjaga hingga pukul empat pagi.


"Dante, gimana menurut kamu?"

Kedua mata Dante membulat. Semenjak rapat dengan tim marketing mulai, cowok itu tidak berbicara banyak. Hanya tangan kanan yang sibuk menulis catatan. Tugasnya saat ini menggantikan Stephanie yang tengah mengecek sesi pemotretan untuk perilisan minggu depan.

"Menurut saya, Ma'am?" tanya Dante balik. "Menurut saya.. lebih baik kalau mendengarkan penjelasan tim marketing hingga selesai dulu, Ma'am."

Johnny menggigit bibir bawah sebagai upaya menahan tawa. Dia benar-benar ingin memberi applause kepada Dante karena diantara pekerja lain, hanya Dante yang berani berkata seperti itu kepada Bethany.

Terbukti saat Bethany terkejut mendengar balasan tersebut. Namun, wanita itu tidak berkomentar lebih dan memberi isyarat untuk melanjutkan presentasi yang sempat terpotong. Emily mendesak lengan Johnny agar cowok itu kembali berdiri menjelaskan hasil brainstorming mereka semalaman.

"Kita bisa buat sebuah native content yang merujuk ke produk. Maksudnya disini adalah dari konten itu, kita lebih fokus ke interaksi dengan konsumen hingga mereka merasa nyaman. Jadi mereka ngga akan merasa bahwa kita lagi menjual, tapi akan lebih menjadi interactive content that lead to things. When their curiosity increased, kita bom."

Tangan kiri Bethany ia gunakan untuk menopang dagu selagi memperhatikan layar proyektor. Wanita itu menatap Johnny yang berdiri tidak jauh dari layar.

"Resonance itu sudah ada semenjak tahun 1983. Let's just say, dari sebelum jaman serba digital seperti sekarang ini. Sementara kita tau, pelanggan rata-rata old money yang lebih suka media konvensional. Apa yang buat kamu yakin kalau strategi ini bakal berhasil?" tanyanya.

Johnny kembali memijit tombol pada remote hingga layar berubah menjadi sebuah grafik. "Privilege kita disini itu produk yang kita punya sudah cukup besar untuk pelanggan. Jadi, kalau memang ingin beralih pada digital target kita akan bergeser kearah anak-anak high-fashion jaman sekarang dan para pengguna sosial media aktif. Let's just say, Instagram celebrities. They're all up for contents."

"Boy, Jawaban kamu tidak menjawab pertanyaan saya." Bethany menggelengkan kepala. "Itu sama saja kamu ingin merubah target pasar Resonance, dan itu artinya kita mulai dari awal."

"Ngga gitu Tante." Johnny menghela nafas lelah. Ia tidak sadar telah menyebut Bethany dengan panggilan yang tidak seharusnya ia sebut pada saat jam kerja berlangsung. "Kalau memang ingin beralih ke new media, kita punya plus dan minusnya."

Lelaki itu belum menyadari pandangan seisi ruangan yang menatapnya terkejut. Johnny dan Bethany terlalu asik berdebat, hingga rasanya melupakan staff lain yang sejak tadi hanya memperhatikan perdebatan mereka tanpa berniat mengakhiri. 

The Cognitive || johnnyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang