Special Chapter: How You Get The Girl

214 19 0
                                        

Everything went naturally

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Everything went naturally.

Jef mengambil kelas yang sama dengan Natasha Benavent.

Menjadi mahasiswa tingkat tiga diantara mahasiswa tingkat satu tentu saja membuat Jef canggung untuk berinteraksi, terlebih beberapa anak secara blak-blakan mengagumi ketampanan wajahnya. Risih. Setiap memasuki kelas Bahasa Jepang Profesi, Jef selalu memanjatkan doa kepada Tuhan agar para perempuan barisan depan berhenti bertingkah aneh dan fokus pada materi yang disampaikan.

Natasha tidak termasuk pada barisan depan. Anak ini lebih memilih tempat duduk kedua dari belakang, bersembunyi di balik tubuh tegap Jevano. Terkadang dia hanya bermain ponsel, atau menopang dagu sambil mendengar materi, mengobrol via telepati dengan Nicole yang duduk persis di sampingnya. Buku catatan berwarna krem itu hanya ditulis saat 30 menit pertama. Setelahnya, konsentrasi dia buyar. Tapi setiap kali ditanya Sensei, dia selalu bisa jawab.

Emang sama aja kayak abangnya. Seringkali Jef melihat raga Johnny berada di dalam kelas, namun jiwanya berada di lain tempat. Satu SKS pertama masih aktif menyaut omongan dosen, dua SKS sisanya tidur. Tidak pernah belajar selain ujian akhir. 

Mereka berdua sama persis. Bahkan jika Johnny tidak membeberkan rahasia terbesar dia saat itu, Jef mungkin akan percaya bahwa sepasang kakak dan adik itu adalah saudara kandung. 

She enjoy walking. 

Kala itu Jef sedang menikmati udara pagi di bukit, dengan sisa tenaga ia miliki setelah tidak bisa tidur selama dua malam. Hanya bermodalkan jaket hitam tanpa tudung yang dapat menghangatkan telinganya dari hawa dingin. Gadis itu muncul dengan satu termos kecil berisi minuman hangat, mengarahkan ke hadapan Jef tanpa berkata apapun. Matanya hanya melihat hamparan hijau di hadapan mereka, memperhatikan sang fajar yang kembali hadir.

"Gue kira lo ngga suka jalan pagi."

Perempuan di sebelahnya hanya tersenyum simpul. "You're stereotyping me again."

Jef ikut menarik ujung bibirnya ke atas. Ia kembali menghadap depan, menyicip minuman yang membuat tubuhnya sedikit menghangat.

Those beautiful eyes. Beautiful lips. Cheeks. Everything. 

He swear to God, Jef tidak akan pernah berhenti menatap wajah Natasha. Membayangkannya saja akan membuat dia tersenyum seperti orang yang baru menang lotere. Semuanya berjalan begitu saja dengan Natasha. Bagaimana ia berakhir di hideaway berbentuk apartemen studio yang terletak tidak jauh dari kampus, menikmati makanan yang mereka pesan melalui ponsel selagi menonton series yang tiada hentinya.

Jika diberikan pertanyaan, apa yang membuat seorang Jefrian Haditama tertarik kepada Natasha? Sebuah alasan sederhana, namun menyentuh hati lelaki itu tiap kali mengingatnya.

Natasha tidak akan berpikir dua kali untuk membantu orang-orang yang ia sayangi. Entah dengan cara yang benar, atau cara yang tidak masuk akal.

Bisa dilihat dari bagaimana cara ia mendukung sang Ibu, bagaimana cara ia bertanggung jawab atas peristiwa yang menimpa Johnny, dan hal lain dimana gadis itu akan memastikan orang-orang kesayangannya akan bahagia.

Natasha selalu meletakkan kebahagiaan orang lain diatas kebahagiaan dirinya.

Dan Jef merasa, perempuan itu harus mendapatkan timbal balik yang sesuai.

Namun pada akhirnya, pemikirannya mengenai hal tersebut menjadi kontradiksi sendiri baginya. Apakah selama ini dia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk gadis tersebut, atau perasaan yang selama ini dia alami merupakan rasa ketertarikan dimana ia ingin memiliki gadis itu seutuhnya?



The Cognitive || johnnyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang