Chapter 29 (EPILOG)

19.7K 1.6K 173
                                        

Tanpa sadar, aku ketiduran ketika menonton film Bumi Manusia. Film garapan Hanung Bramantyo yang memiliki durasi tiga jam tersebut sukses membuatku terlelap di pertangahan jalan cerita.

Mataku mengerjap beberapa kali. Membiaskan cahaya lampu kamar yang menyorot nyalang indra pengelihatanku. Tampaknya, karena terlalu lama tertidur, aku jadi tidak sadar ketika sudah malam.

Berapa lama aku tertidur?

Ah, entahlah. Ketika berada di rumah Demitrio, aku mengalami insomnia lantaran menangis semalaman.

Membahas seputar Demitrio, aku baru menyadari ternyata cowok itu sudah tidak ada lagi di sebelahku.

Aku merenggangkan tubuh, lalu mulai bangkit dari sofa dengan rambut awut-awutan. Kesadaranku belum pulih seutuhnya ketika beringsut ke meja belajar untuk mengintip kamar Demitrio yang menghadap tepat di jendela kamarku.

Namun, alih-alih mendapati seorang pemuda yang sedang belajar Sejarah di dalam kamar tersebut, indra pengelihatanku justru disambut keabsenan tanda-tanda kehidupan di rumah bernomor 19.

Alisku sontak naik sebelah

"Demitrio ke mana?"

Ketika kesadaranku kembali normal, kemungkinan terburuk itu tebersit di pikiranku. Dengan cepat, langkahku beranjak dari kamar lalu menuruni anak tangga.

Ibu yang melihatku berlarian di dalam rumah, berseru penasaran, "Ada apa, sih, Ron?"

"Demitrio udah pulang? Kapan?" tanyaku, panik. Tanpa mengindahkan pertanyaan beliau, aku segera keluar dari pekarangan. Melenggang cepat ke rumah bernomer 19.

Ibu mengekor di belakang. "Kamu mencari Demitrio? Dia udah pindah, Sharon," ucap beliau dengan nada sendu.

Langkahku sontak membeku. Lututku melemas. Hilang sudah pertahanan untuk tidak menangis lagi. Kristal bening menggenang di kelopak mataku siap dimuntahkam. Semua berjalan terlalu cepat. Sulit kupercaya.

"Tapi...." Lidahku teramat kelu. Semua kalimat yang ingin kuucapkan hanya menggantung di pangkal lidah.

Bukan perpisahan seperti ini yang kuharapkan.

Bahkan, kami berpisah tanpa mengucap selamat tinggal? Pelukan hangat persahabatan? Atau bahkan satu-dua kata?

Padahal, siang tadi kami masih sempat menonton film Bumi Manusia berdua.  Tetapi, keadaan berubah saat malam telah menjelang. Sosok pria misterius itu sudah tidak ada lagi di sampingku ketika membuka mata.

Setidaknya, walaupun kutahu perpisahan itu pahit, masih ada perayaan perpisahan untuk kami berdua.

Namun, saat ini tidak.

Kami adalah dua sosok yang berpisah tetapi berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Semudah itu Demitrio meninggalkanku setelah rangkaian peristiwa yang terajut bersama.

"Maafin, Ibu, Sharon. Demitrio yang minta tolong supaya nggak bangunin kamu saat dia pindah ke Solo. Demitrio cuma nggak mau kamu nangis lagi. Maka dari itu, dia menciptakan perpisahan seolah-olah tidak terjadi apa pun di antara kalian."

Seketika, tangisku meledak. Tanpa pikir panjang, aku segera membalikkan badan lalu berlari tergesa memasuki kamar. Setelah memastikan pintu telah tertutup rapat, tubuhku perlahan merosot pada daun pintu dengan kepala terbenam dalam lipatan lutut. Dadaku sesak seakan dhimpit sebongkah batu besar. Tangisku menjadi di sana.

"Tega banget, sih, lo, Dem," gumamku parau seraya mengedarkan pandangan. Tepat setelah itu, tanpa sengaja indra pengeliahatanku  bersirobok dengan sebuah kotak putih tulang berbalut pita biru langit yang tergeletak di dekat DVD.

Alisku sontak bertaut.

Milik siapa, ya?

Perasaan, aku tidak pernah mempunyai kotak tersebut.

Atau jangan-jangan barang Demitrio yang ketinggalan?

Karena rasa penasaran yang tidak bisa diajak berkompromi, akhirnya aku beranjak dari posisi semula. Langkahku terseok menuju keberadaan benda asing tersebut.

"Apaan, tuh?" celetukku penasaran sembari membuka kotak berpita biru langit.

Pandangan mataku membulat sempurna tatkala mengetahui isi di dalamnya. Tangisku sontak kembali meledak. Terlebih, ketika membaca secarik surat dari Demitrio.

To : Sharon
From : tetangga sebelah rumah lo yang hobi nyetel musik rock.

Terima kasih, Sharon, telah menjadi teman pertama gue. Gue bersyukur bisa kenal sama lo. Berkat bantuan lo, gue bisa berdamai dengan masa lalu. Meski belum sepenuhnya pulih ... gue sadar nggak sepantasnya meninggikan ego dan memperbesar gengsi untuk bertemu orang-orang tersayang selagi mereka masih hidup.

Pada akhirnya, meskipun gue benci sama mereka, gue sadar hal itu bukan mutlak perasaan benci. Hanya gengsi dan ego saja yang membuat gue enggan mengakui rasa sayang sama Ryan dan bokap.

Ah, damn! Kayaknya gue juga harus berterima kasih dengan Miss. Shopie setelah ini. Itu loh ... psikater berjasa yang udah membantu gue menulis paragraf sepanjang ini dan memberanikan diri bersekolah ke SMA Tetra Nusa. Hahaha. Berkat dia, gue jadi bisa deket sama lo.

Sharon ... lo jaga diri baik-baik ya di Jakarta. Jangan lupa cari temen baru. Jangan lupa juga berusaha menerima keadaan kalo lo sebagai anak IPS. Nggak ada salahnya, kok, jurusan  IPS atau jurusam IPA. Semua balik lagi ke individu masing-masing. Gue percaya, lambat laun lo pasti bakal suka sama Sejarah.

Sejarah itu asik, Ron. Di Sejarah, lo bakal dituntut untuk menjadi investigator ulung untuk mengungkap tabir alam.

Berkat sejarah pula, kenangan kita akan menjadi abadi. Karena pada dasarnya, manusia adalah subjek pembuat sejarah. Mereka yang menciptakan sejarah, menikmati sejarah, dan mengabadikan sejarah itu sendiri. Maka dari itu, di dalam kotak tersebut gue lampirkan beberapa foto kita berdua ketika trip di Sangiran sebagai saksi bisu kalau kita pernah menjelajah bareng ke sana. Jaga baik-baik, ya, fotonya. Siapa tahu lo lupa kenangan itu.

Ah, ya. Satu lagi. Gue emang sengaja nggak memberitahukan kalo mau pindah ke Solo. Gue cuma nggak mau, Ron, menciptakan sejarah yang buruk di kehidupan lo. Anggep aja, kita tetep temenan tapi lewat jarak jauh, oke? Jarak bukan pembatas andai lo inget itu.

Berbahagia di sana, Sharon. Tetap ciptakan sejarah-sejarah baru di hidup lo, ya. Sejarah yang bahagia. Awas aja yang buruk-buruk.

Regards,
Demitrio.

TAMAT

a/n

Tunggu bonchapter yaaaa. Supaya nih story genap 30 awokawok.



Incredible FeelingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang