26

1.8K 187 28
                                        

Seharusnya aku bahagia.

Seharusnya dan semestinya.

Tetapi, kesedihanku lebih menggerogotiku dibandingkan kebahagiaan yang menyelimuti.

Untuk pertama kalinya aku berhasil mengandung.

Tomato tidak jadi menghampiri atau Tuhan menunda segalanya.

Aku mengetahui bahwa aku tidak mandul, kebalikannya mantan suamiku-lah yang mandul.

Tetapi, aku akan kehilangan Zedith. Yap. Aku mengandung anak yang tidak diinginkan olehnya, tentu saja.

Mengandung bayi dan menaruh hati kepada Pria yang kucintai tetapi bertepuk sebelah tangan.

Hahah!

Sungguh lelucon apa yang sedang Tuhan berikan kepadaku sebetulnya? 

"Honeybunch?" Ugh, bayi yang ada di dalam tubuhku meronta-ronta menginginkan aku dipeluk oleh Ayahnya kemudian meminta ia mengelus perutku atau menciumku atau apapun itu. Tetapi hatiku berkata untuk bersikap dingin dan pura-pura tidak tertarik kepada Zedith.

"Aku membuatkanmu makan malam, kau ingin makan di meja makan atau di ruanganmu?" Aku hanya terdiam dan tidak membalasnya. Pura-pura melanjutkan bab dari buku yang kutulis. Padahal semenjak satu bulan yang lalu aku sama sekali tidak mendapatkan ide untuk melanjutkan kisah ini.

"Baiklah, aku akan membawakannya ke ruang kerjamu ya?" Argghh!! Kenapa dia begitu baik?

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

Sudah hampir tiga bulan aku bersikap dingin, sangat-sangat dingin kepadanya. Aku juga telah diceritakan olehnya mengenai keluarganya yang ada di Dubai. Walaupun aku setengah percaya kepada hal tersebut, karena aku tidak benar-benar mendengarkannya. Aku hanya menatap layar komputerku pada waktu itu.

Zedith kini tidur di kamar yang ada di lantai bawah dan aku tidur sendirian. Vila memohon kepadaku untuk tidak terlalu keras kepada Zedith namun, aku tidak bisa mengabulkan permintaan Vila.

Sudah hampir tiga bulan juga aku tidak menengok binatang peliharaanku yang ada di belakang halaman rumah.

Tubuhku semakin berat rasanya dan aku sangat-sangat moody.

Hobiku juga mengunyah dan mengunyah kemudian menangis dan menangis kemudian mengacak-acak buku yang sudah dirapikan Vila lalu entahlah... aku menjadi manusia yang sangat menyebalkan.

Apakah aku berubah menjadi Tasha?

Ah, Tasha! kembaranku yang sangat-sangat tidak tahu malu. Dia menjaid sering kemari untuk mengunjugi Zedith, ketika tahu bahwa hubungan kami hanyalah berdasarkan kontrak semata. Namun, setahuku Zedith selalu menolaknya. Tetapi, entah apa yang terjadi di balik pintu ketika aku hanya berdiam diri saja di ruang kerjaku.

Editorku selalu menanyakan keadaanku dan memintaku untuk mempercepat pengumpulan script novel yang baru, sedangkan kini satu kata-pun sulit kukeluarkan dari benakku. Rasanya imajinasiku rusak begitu saja.

Inikah yang dinamakan writer's block? Kukira dulu hanya sebuah mitos saja atau alasan seorang penulis yang malas melanjutkan tulisannya.

Argh! Ternyata memang benar ini terjadi kepadaku.

Apalagi Seth Owen ingin aku terjun langsung dalam produksi seri yang sedang digarap oleh Netflix berdasarkan cerita yang kutulis. Namun, karena kehamilan ini berikut juga kehidupanku yang sangat rumit, aku sendiri tidak dapat fokus dalam penulisan skenario. 

SHIT HAPPENED (#5 THE SHIT SERIES)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang