BAB 35

57.2K 1.8K 135
                                    

"Apa-apaan kamu Auden?" pekik Delisha berlari melihat Auden yang sedang mengamuk.

Ayla hanya menunduk sembari memungut piring pecah dan juga makanan yang tersebar di lantai. Entah sampai kapan dia harus makan hati seperti ini.

"Aku hanya ingin istriku, di mana dia?"

"Kamu sendiri yang bilang akan terima konsekuensi apa pun, jadi ini risiko yang harus kamu terima. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Begitu, bukan?" tanya Delisha.

"No, Mami! Tidak bisa begini. Aku tidak akan sanggup jauh dari Sandra. Rasanya aku hancur saat teringat wajah kecewa dan benci itu. Aku tak sanggup dibenci istriku."

Delisha menarik napas panjang. Kepalanya ikut sakit dengan kerumitan rumah tangga rumah tangga putranya.

"Ayla, tolong ambilkan air dan bubur tadi lagi," pinta Delisha.

Gadis lugu hanya menunduk, dan kembali menyiapkan makanan untuk laki-laki ini. Entahlah, dia bingung harus menganggap Auden itu seperti apa.

Di satu sisi dia merasa bersalah telah jadi perusak rumah tangga orang, tapi di satu sisi Ayla merasa jika dia adalah korban. Tidak ada yang pernah mau diperkosa, hamil, dan ditempatkan pada keadaan serba sulit seperti ini.

Gadis itu menarik napas tidak lega sama sekali, hanya diam tapi dia memikirkan banyak hal.

Ayla tahu, sampai kiamat juga Sandra tidak akan sudi melihat wajahnya. Wanita yang dia hormati itu pasti sangat membenci dirinya.

"Aku harus bagaimana biar Sandra maafkan aku?" tanya Auden terisak seperti anak kecil.

Delisha kembali menarik napas panjang. Dia juga tak punya solusi untuk ini.

"Fokus sembuh dulu, setelah itu susul dia di manapun. Bicara baik-baik, walau tidak ada yang baik-baik saja di sini. Mami bisa mengerti perasaan Sandra yang hancur, Mami juga mengerti perasaan kamu, bagaimana perasaan Ayla," papar Delisha.

Ayla masih terdiam mencoba untuk mencuri dengar pembicaraan rumit ini. Akhirnya dirinya sadar. Dia adalah biang masalahnya.

"Apa aku memang pembawa sial?" Gadis itu menggigit bibir kuat. Demi apa pun dia tidak berbuat untuk merusak rumah tangga orang, jika bisa berlari sejauh mungkin dia akan melakukan itu, tapi lihatlah dia sekarang. Ayla merasa jika kakinya sedang dibelenggu dan hanya bisa bertahan dengan keadaan hati yang berdarah-darah.

"Terima kasih, Ayla."

Ayla hanya menunduk, tidak berani menatap siapa pun dalam ruangan karena rasa bersalah. Dia merasa jika semua kesialan dan musibah yang terjadi karena dirinya.

"Minum dulu," tawar Delisha pada putranya yang hanya diberi gelengan oleh Auden.

Delisha menghela napas. "Berat memang. Mami pun seperti tak bisa mencari solusi untuk ini."

Keadaan kamar itu kian hening. Ayla terus meremas tangannya dengan perasaan bersalah yang terus menyelimuti dada. Seharusnya dia yang pergi bukan Sandra, seharusnya dia yang hilang ditelan bumi, jadi tidak ada yang pusing untuk mencari dirinya karena Ayla tahu eksistensinya di dunia ini tidak ada yang menginginkannya.

BENIH MAJIKAN DI RAHIMKU (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang