Cahaya matahari menyinari pasar Serpong. seorang pedagang menurunkan karung sayur, suara plastik beradu, motor lewat pelan di sela orang-orang yang berjalan. Bau sayur basah, sampah, dan asap knalpot bercampur di udara.
Rizal terbaring miring di emperan toko, lengannya tertekuk dibawah tindihan kepala. Pintu rolling toko di belakangnya bergetar saat ditarik dari dalam. Seorang pria kurus melangkah keluar, keningnya mengerut begitu melihat tubuh di depan tokonya.
"Bangun lu!" sentak Delon pemilik toko. Kakinya menghantam betis Rizal.
Tubuh Rizal tersentak, mata terbuka. Tangannya menangkap kaki Delon, Tubunyanya memutar lalu bangkit, mendorong bahunya mengenai dada Delon.
Delon mundur dua langkah, punggungnya menghantam rak. Botol-botol plastik bergetar, beberapa jatuh ke lantai.
"Anjing! "Maling! Maling!" teriak Delon. Suara itu pecah di tengah pasar. Beberapa kepala menoleh. Langkah kaki mendekat dari berbagai arah.
Rizal berdiri, tangannya terbuka di depan dada, telapak menghadap keluar.
"Gue bukan-"
Sebuah pukulan mendarat di pipinya, memotong ucapan Rizal. Satu tangan menarik bahunya. Yang lain mendorong dari belakang.
Rizal menahan satu pukulan, siku naik menutupi wajah. Tendangan datang dari samping mengenai pahanya.
Rizal mundur setengah langkah, punggungnya bersandar pada tembok toko. Tangannya masih terbuka, bergerak cepat menepis dan menahan.
"Udah, hajar!"
"Telanjangin!"
"Bakar!"
Teriakan dan pukulan datang dari berbagai arah. Satu ke pipi, satu lagi ke pelipis. Kepala Rizal terayun, lalu jatuh ke aspal. Debu menempel di kulitnya yang basah oleh keringat.
Tangannya mencengkeram tanah. Satu tendangan mendarat di rusuk. Tubuhnya tergeser sedikit. Tangannya terangkat jari-jari mengepal, lalu berhenti. Ia menarik napas pendek.
Langkah kaki mendekat dari belakang kerumunan. Bang Dedi, seorang pedagang tahu yang juga dikenal sebagai ustadz.
"Ada apa ini?" Suara Bang Dedi memotong riuh. Beberapa orang menoleh.
"Ini, Tadz... maling," sahut seseorang, menunjuk ke arah Rizal yang tergeletak.
Rizal mengangkat kepala sedikit. Bibirnya pecah, napasnya pendek. "Saya bukan maling, Pak..."
"Sebentar. Jangan pada main tangan." Bang Dedi maju beberapa langkah, berdiri di antara kerumunan. Matanya menyapu satu per satu wajah di sekeliling.
Beberapa orang mundur setengah langkah.
"Siapa yang kemalingan?"
"Dia, Tadz," satu orang menunjuk ke arah Delon.
"Ente kemalingan, Lon?" tanya pria bersarung itu.
"Iya..." jawab Delon diam di depan rak.
"Barangnya apa?"
"Nggak ada... belum sempat." Matanya bergerak cepat, lalu kembali ke Bang Dedi.
"Berarti nggak ada yang diambil?" tanya seseorang, lalu saling pandang.
"Nggak..." Delon menelan ludah.
Bang Dedi menghela napas, lalu menatap kerumunan. "Kalau nggak ada yang diambil, kenapa dipukul?"
Rizal masih di bawah, satu tangan menahan tanah, satu lagi menutup perutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SATU TITIK #1.2 [SEGERA TERBIT]
Mystery / ThrillerIni novel bakal naik cetak. Jadi bab-bab di sini bakal ilang satu-satu kayak kerupuk di meja makan. Kalau lo tim gratisan, habisin sekarang. Kalau lo tim kolektor, siapin dompet.
![SATU TITIK #1.2 [SEGERA TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/220144956-64-k980413.jpg)