Semua murid-murid dan guru-guru sekarang sudah berkumpul di aula, aula sekolah mereka besar, jadi tidak terlalu desak-desakan ditambah aula ini ber-AC.
Sekumpulan Lucas dan Yuqi tiba di aula, benar benar ramai, seperti kejadian beberapa waktu lalu yang disebabkan oleh Lucas juga.
“Baiklah, tampaknya sudah cukup ramai, jadi saya mulai saja. Selamat pagi anak-anak,”
“Pagi bu!” seru murid membalas sapaan kepala sekolah mereka tercinta.
“Ibu rasa kalian sudah tau kenapa kalian semua dikumpulkan seperti ini di aula, sejauh ini, kami guru-guru serta beberapa satpam belum mendapatkan pelakunya setelah beberapa minggu belakangan ini kami patroli dan sering memantau.”
“Tapi hari ini terjadi lagi kejadian seperti kemarin. Ibu hanya ingin mengatakan, pelaku sepertinya tau letak CCTV-CCTV yang ada di sekolah ini, jadi, tolong bagi pelaku jika sedang berada disini, mengaku secepatnya ke ruangan saya! sebelum saya yang akan menangkap basah kamu secepatnya, dan bagi kalian semua yang sudah tau pelakunya siapa dan membantu menutupi, kalian juga akan mendapat hukuman bersama pelaku.” Jelas Ibu Kepala Sekolah.
Kalimat-kalimat yang terlontar dari kepala sekolah ternyata mampu membuat semua murid terdiam, mengira-ngira siapa pelakunya, bahkan ada beberapa yang saling tuduh.
Disaat seperti inilah, Mark, Xiaojun dan Hendery merasa bersalah. Tapi yang lebih merasa bersalah disini adalah Lucas. Ia tau perbuatannya salah, ia tak akan mengulanginya lagi. Saat melakukannya, Lucas tidak bisa memikirkan cara lain untuk bisa masuk ke kelas. Memang agak nekat, tapi masih tetap ia lakukan.
“Gua harap lu tobat,” kata Mark menepuk pundak Lucas.
Xiaojun dan Hendery pun menatap Lucas penuh harap, berharap sehabis ini Lucas tidak lagi membuat kekacauan besar semacam ini. Ini pasti akan menyulitkan Lucas begitu juga dengan mereka. Tapi Mark, Xiaojun dan Hendery tidak mungkin melaporkan Lucas. Teman macam apa jika begitu? itulah pikir mereka.
Lucas mengangguk, “Gua paham, gua berubah kok, ga akan gua lakuin lagi,” jelas Lucas.
Mark, Xiaojun dan Hendery bernapas lega, setidaknya dengan kalimat Lucas tadi membuat mereka merasa tenang walaupun misalnya itu hanya menjadi rasa tenang sementara karena mereka tidak tau Lucas akan menepatinya atau tidak.
“Baiklah anak-anak, kalian boleh kembali ke kelas sekarang dan lanjut belajar.” Tutup kepala sekolah.
Semua murid mulai berjalan keluar aula, sementara Lucas dan teman-temannya menunggu sebentar. Begitu juga Yuqi dan Mina, mereka tidak mau berdesak-desakan dengan yang lain.
Yuqi melirik jam tangan yang melingkar di tangannya, “Udah mau jam olahraga nih,” kata Yuqi.
Mina menoleh ke arah Yuqi dan melihat situasi yang sudah mulai sepi, murid-murid hampir semua sudah keluar dari aula ini.
“Udah mulai sepi, balik kelas yuk! ntar susah lagi ganti bajunya.” Ajak Mina. Yuqi mengangguk kemudian mereka berjalan keluar aula sekolah.
---
“Selamat pagi anak-anak!” seru pak Sehun begitu muridnya sudah berkumpul dan membentuk beberapa barisan.
Memang, pelajaran olahraga adalah pelajaran yang paling disukai oleh siswi di kelas Lucas, ya karena gurunya adalah Pak Sehun.
“Pagi pak!” balas mereka, suara murid perempuan lebih mendominan. Tidak termasuk Yuqi dan Mina, mereka bersikap biasa saja, memang mereka mengakui pak Sehun tampan, tapi mereka tidak seheboh siswi lain.
Pak Sehun mulai menjelaskan materi mereka hari ini, dibuatlah sebuah permainan berkelompok yang sebelumnya sudah Pak Sehun buat dengan mengundi semua nama murid-muridnya. Kemudian mereka mulai memainkan permainan berkelompok sesuai dari aturan yang dibuat Pak Sehun.
Sekitar jam istirahat, mereka diberi waktu lima belas menit untuk bubar lebih dulu dan mengganti pakaian olahraga mereka.
“Yuqi cepetan! ntar ruangannya penuh! YUQI!!” teriak Mina dari luar kelas, tidak sabaran.
“Suara lo kaya toa banget,” kata Lucas yang keluar kelas diikuti Mark, Xiaojun dan Hendery yang sudah membawa baju seragam mereka, hendak berganti pakaian seragam.
“Biarin.” Balas Mina ketus.
“YUQI AH!” teriak Mina lagi.
“Iya iya bentar!” teriak Yuqi dari dalam kelas, tak kalah besar suaranya dengan Mina. Yuqi bersusah payah mengambil bajunya di laci meja karena hari ini Yuqi membawa banyak sekali barang untuk kerja kelompok di dua jam pelajaran kedepannya.
Akhirnya, Yuqi keluar dengan membawa baju olahraganya dan segera berjalan menuju ruang ganti pakaian bersama dengan Mina. Letak ruang berganti pakaian tidak jauh dari toilet perempuan. Begitu juga ruang ganti pakaian laki-laki yang tak jauh dari toilet laki-laki.
Setelah berganti pakaian, mereka semua—murid kelas Yuqi— keluar dari ruang ganti yang sudah dipenuhi oleh siswa-siswi lain yang baru datang, yang jam olahraganya sama dengan mereka. Mereka semua harus gantian memakai ruangan sesuai jamnya.
“Eh gua ke toilet dulu deh.” Ucap Lucas, mengingat tadi pagi ia menyimpan jaketnya sementara di toilet.
“Buruan balik, nih kerjaan masih banyak, awas lu kabur, gua coret nama lu.” Ancam Hendery. Lucas mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu Lucas pergi keluar kelas.
“Gue nulis, lo cariin digoogle ya materinya,” kata Mina.
Yuqi mengangguk dan meraba laci mejanya untuk mengambil ponselnya. Tangannya sudah menelusuri semua sudut laci mejanya, tapi tak kunjung ia temukan.
“Min, lo liat hp gue gak?” tanya Yuqi pada Mina yang sedang fokus menulis materi dari buku sebagian.
Keningnya berkerut, “Hah? hp lo ga ada di laci apa? coba cari yang bener.” Kata Mina lagi.
“Ga ada Minaaa,” ucap Yuqi lemes.
Mina mencari-cari di bagian lacinya, tapi tidak ada juga. Kembali mengingat-ingat dimana ponselnya.
“Lo bawa ke ruang ganti gak sih?” tanya Mina.
Yuqi diam, berpikir, “Engga deh kayanya.”
Kemudian Mina teringat sesuatu, “Tadi kan anak kelas sebelah ada minjem hp lo, berarti ada lo bawa kan ke ruang ganti?”
“Eh iya!”
“Udah dibalikin belum?” tanya Mina.
Yuqi mengangguk, “Udah, cuma gua taroh di meja,” ucap Yuqi lemas.
Akhirnya Yuqi berdiri dan pergi ke ruang ganti sendirian untuk mengambil ponselnya. Sesampainya disana, Yuqi bisa langsung menemukan ponselnya. Ia menghela napas lega.
“Untung ga ilang,” monolognya, dan ia langsung mengambil ponselnya kemudian segera keluar dari ruang ganti.
Dan setelah di dekat perpustakaan, di depannya Yuqi ada Lucas yang berjalan sedang membawa jaket hitam(?), Yuqi tidak begitu yakin.
Akhirnya Yuqi berjalan mendekati Lucas.
“Cas, bentar deh,” kata Yuqi menahan lengan Lucas.
Lucas kaget, lalu berusaha mengondisikan ekspresinya lagi, “Kenapa?” tanya Lucas.
Setelah memastikan, Yuqi langsung menatap mata Lucas lekat-lekat, “Oh jadi itu lo?” tanya Yuqi.
“Maksud lo?” Lucas bertanya balik.
“Ini,” Yuqi mengambil jaket hitam Lucas dan mengangkatnya, Lucas terkejut.
“Jaket lo kan?” lanjut Yuqi.
♡♡♡
maaf yaaa aku lama update, makasih buat yang nunggu cerita ini dan baca cerita ini 💚
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] Without You
Fanfictionberkisah tentang lucas yang pantang menyerah untuk bisa menjadi teman yuqi [nonbaku] start : 5 May 2020 end : 27 June 2020 ©gommoon, 2020
![[✓] Without You](https://img.wattpad.com/cover/223836517-64-k402027.jpg)