[05]

439 64 31
                                        

flashback on

Yang terjadi tadi malam....

Lucas sekarang sudah berdiri di depan pagar rumah Yuqi, ragu-ragu untuk masuk, tapi ia niatkan dalam hati untuk bertemu Yuqi.

Sebenarnya, keingannya untuk berteman dengan Yuqi bukan agar Yuqi tidak mengatakan kesalahannya pada kepala sekolah, tapi sejak ia masuk di kelas yang sama dengan Yuqi. Lucas sudah memperhatikan Yuqi.

Ingin sekali rasanya berteman dengan Yuqi, apalagi Yuqi bukan tipe yang langsung menjadi orang temannya. Itu yang membuat Lucas merasa ia pasti akan senang jika ia bisa dianggap teman oleh Yuqi, biarpun cuma teman.

Lucas melangkahkan kakinya, sangat singkat, ia sekarang sudah berdiri di depan pintu rumah Yuqi, kemudian ia membunyikan bel rumah Yuqi. Berharap yang membukakan pintu untuknya adalah Yuqi. Tapi ternyata itu hanya sebuah harapan.

“Siapa?” tanya Papanya Yuqi, dengan wajah dinginnya.

Tak lama kemudian, tampak wanita paruh baya, cantik seperti Yuqi, berdiri di samping Papanya Yuqi yang lucas yakini adalah mama Yuqi. Bukan berhadapan dengan Yuqi, Lucas malah berhadapan dengan kedua orang tua yuqi.

Kaya mau lamar aja pikirnya.

Lucas tersenyum, “Malam, om, tante.” Sapa Lucas.

Lucas lalu mengulurkan tangannya kepada Papa Yuqi terlebih dahulu, “Kenalin saya Lucas.” Ucapnya berjabat tangan dengan papanya yuqi disambung dengan berjabat tangan dengan mamanya yuqi.

“Masuk dulu nak,” ucap mamanya yuqi ramah, kemudian Lucas mengikuti kedua orang tua yuqi yang masuk lebih dahulu.

Mereka duduk di sofa, Papanya Yuqi duduk di sofa tunggal, melihatnya seperti itu, Lucas melihat aura berwibawa dari papanya Lucas.

“Ada apa kesini?” tanya papanya yuqi to the point.

Lucas meneguk ludah. Ia sudah tau jika Papanya Yuqi pasti akan seseram ini. Dalam otaknya berpikir dengan cepat untuk mengubah suasana seram ini.

“Ada yang ketinggalan om,” balas Lucas sopan.

“Yuqi ninggalin sesuatu?” tanya mamanya. Lucas mengangguk.

Papanya Yuqi mengangguk-angguk, kemudian menatap lucas dari atas kepala sampai bawah kaki.

“Pacar atau temennya Yuqi?” tanya papanya lagi.

Lucas menunduk, agak cemberut. Kemudian ia mengangkat kepalanya memberanikan diri.

“Jadi teman Yuqi aja belom om.”

Balasan Lucas sontak membuat papa Yuqi tertawa, ditambah ekspresi yang benar benar cemberut. Karena papanya tidak pernah berpikir ada yang mengatakan bahwa dia masih belum menjadi teman anaknya, bagaimana bisa?

Papanya Yuqi mengulum bibir, meredakan tawanya yang sempat pecah, “Kamu bercanda?” tanya papa Yuqi kembali dingin.

Lucas menggeleng kuat, “Engga kok om! serius!” kata lucas.

“Kok bisa belum jadi teman?” kata mamanya yuqi yang masih tersenyum, bekas tertawa tadi. Memang lucu, bagi mereka.

Ia mengangkat kedua bahunya, seperti anak kecil, “Ga tau om, tante, yuqi sendiri yang bilang.” kata Lucas.

“Gimana bilangnya?” tanya mamanya lagi.

Kemudian lucas mulai menirukan, “Kita belum jadi teman kali,”

“Gitu katanya,” lanjut lucas.

Papanya yuqi tertawa kecil, sambil menggelengkan kepalanya tak percaya bahwa anaknya bisa berkata seperti itu.

[✓] Without YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang