Bagian 5

89 18 0
                                        

Sebenarnya sore ini cukup melelahkan untuk rayyan,  tapi ia tidak sanggup jika harus pulang tanpa membawa kabar tempat tinggal ansara saat ini, ia tak ingin melihat ayahnya kembali sedih dan merasa bersalah.

Kini ia tengah duduk dibelakang kemudinya, menunggu seseorang yang ada di dalam toko, toko kue itu berdinding kaca, membuat siapa saja yang lewat bisa melihat kegiatan di dalam toko itu.

Sementara ansara, kini ia tengah bersiap-siap untuk pulang, berbeda dengan rayyan yang kelelahan karena habis berolahraga, ansara justru lelah karena sedari siang pengunjung tokonya sangat ramai.

Ansara tidak tahu, bahwa rayyan tengah menunggunya di dalam mobil, rayyan pun begitu, niatnya ingin mengikuti ansara diam-diam.  Dan akhirnya ansarapun mulai melangkahkan kakinya keluar toko, rayyan pun mulai bersiap mengikutinya.

Setelah berjalan 15 menit rayyan dan ansara sudah melewati gang sempit dekat sekolah, rayyan tidak pernah menduga bahwa disebelah sekolah mewahnya ada jalan menuju sebuah perkampungan.

Rayyan terus mengawasi ansara, ia takut ketahuan, yang ada hubungannya dan ansara tidak akan menjadi baik. Setelah memastikan bahwa ansara benar-benar masuk ia pun melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah ansara. Tapi ketika hendak berbalik ada yang memanggilnya dan refleks iapun menoleh.

"Rayyan"

Dan yang memanggilnya adalah ansara, ia tahu bahwa ada yang mengikutinya, karena takut ia pun langsung masuk ke dalam rumah dan melihat dibalik jendela siapa yang mengikutinya, akhirnya rayyan pun berbalik

"Eh iya sar" ucap rayyan dengan senyum kaku

"Lo ngikutin gue? " ucap ansara dengan mata melotot andalan setiap cewek yang sedang emosi

"Iyaa, gue kira lo mau kemana.. Eh ternyata ini rumah lo ya? " tanya rayyan

Ansara hanya diam, tak peduli, lagian rayyan hanya orang lain, tak penting baginya juga. Ia langsung pergi kembali menuju rumahnya tanpa memperdulikan ucapan arayyan.

"Sara tunggu, hmm karena ini rumah lo, lo gak mau gitu ngajak gue mampir, btw lo tinggal sama siapa?" tanya rayyan

"Bukan urusan lo, mending lo pulang sekarang " ucap ansara dengan nada tinggi

Menyerah... Akhirnya rayyan memutuskan untuk pulang.

****
Setibanya di rumah rayyan langsung menghampiri bastian di kamarnya, ia tahu jam segini ayahnya pasti sedang beristirahat.

"Assalamualaikum ayah" ucapnya sembari mengetuk pintu kamar

"Waalaikumsalam, masuk aja ar" ucap bastian, rayyan langsung masuk lalu duduk disamping bastian

"Maaf rayyan telat pulang yah, tadi rayyan habis lihat-lihat sekolah, dan main bola sampai sore, terus mampir ke toko kue tempat ansara bekerja, dan ngikutin ansara sampai ke tempat tinggalnya" jelas rayyan

"Apa? Ansara bekerja?" tanya bastian terkejut

"Iya ayah" jawab rayyan, rasanya ia menyesal baru memberitahu ayahnya, padahal dari kemarin ia sudah tahu keadaan ansara.

"Besok ayah akan ketemu sama ansara rayyan, ayah akan bicara, ayah tidak bisa membiarkan anak ayah seperti itu" ucap bastian merasa bersalah

"Jangan dulu ayah, biar rayyan yang memberi tahu ansara perlahan-lahan, rayyan takut dia malah akan semakin menghindari ayah"ucap rayyan

"Dimana dia tinggal sekarang rayyan? " tanya ayahnya

"Gang kecil samping sekolah ayah" ucap rayyan

"Mungkin ayah akan bicara baik baik dulu dengan dia, ayah takut sebenarnya dia menunggu ayah untuk menghampirinya tapi ayah tak kunjung datang" ucap bastian

"Baiklah ayah, rayyan mau bersih-bersih dulu terus istirahat yah ayah" ucap rayyan

Setelah itu iapun kembali ke kamarnya. Menurutnya kamar ini telalu luas untuk dirinya sendiri, sehingga keheningan begitu terasa sekali.

Ia mencoba mencari tahu apa yang membuat ansara menjadi pendiam, perubahan drastis dalam waktu singkat.

****
Ansara kini telah siap untuk belajar, dia sudah menyiapkan buku-buku pelajaran yang akan dipelajarinya malam ini, pikirannya kini benar-benar fokus, walaupun sedikit terngiang oleh bayangan rayyan

Besok ia harus kembali seperti ansara yang dulu yang tidak bisa didekati oleh siapa-siapa

Hingga akhirnya setelah belajar hampir 3 jam, matanya sudah tidak kuat lagi untuk menahan kantuk dan iapun tertidur.

Kali ini tidurnya tidak begitu tenang, pukul 3 malam akhirnya iapun terbangun, dulu sewaktu masih tinggal di rumah bastian, ayah tirinya itu tidak pernah absen untuk membangunkannya shalat malam. Meskipun ia hanya memicingkan mata sebentar, lalu tertidur lagi.

Dan kini, hatinya terketuk, ia pun berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, sebelumnya ia sangat malas untuk melaksanakan ibadah tersebut, tapi karena ayahnya bilang, jika seseorang yang sudah meninggal memiliki anak yang sholeh dan mendoakannya akan menjadikan amalannya tidak terputus.

Sejak saat itulah ansara rajin untuk shalat, berdoa dan bangun di malam hari, semua itu untuk mendoakan mama dan papa nya, setidaknya itu yang bisa ia lakukan sekarang.

Setelah melaksanakan shalat malam, ansara memutuskan untuk tidak tidur lagi dan membaca al-quran sampai subuh, ayah bastian berkata, Al-Quran adalah penolong, teman dan segala yang kita butuhkan, semua ada didalamnya

Dan ajaibnya hati ansara menjadi tenang setiap kali membaca al-quran.

Ayahnya itu memang selalu ajaib, beruntungnya ansara sempat tinggal bersama ayah tirinya tersebut.

ANSARA JOURNEYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang