Bagian 13

49 8 0
                                        

"Ra, lo repot-repot segala sih nyuruh orang untuk ngirimin obat sama makanan" ucap rahma

Yap kini mereka sedang duduk berdua di samping lapangan basket, mereka berdua bosan dengan ruang kelas dan perpustakaan.

"Disuruh ayah" ucap ansara

"Ayah? Katanya orang tua lo udah meninggal" tanya rahma bingung

"Ayah tiri" jawab ansara

"Baik banget ayah tiri lo itu hehe, tau aja makanan favorit gue waktu jaman banyak duit" ucap rahma

"Eh iya btw lo gak mau cerita alasan lo bekerja?" tanya ansara

"Kalau gue cerita, lo juga cerita ya, gue percaya sama lo" ucap rahma

"Gue juga percaya sama lo" ucap ansara

"Oke bagus, jadi siapa dulu nih yang mau cerita?" ucap rahma

"Lo dulu deh" ucap ansara

"Gue di usir dari rumah, karena gue pake hijab, gila kan ortu gue, Astagfirullah gaboleh ngatain" ucap rahma

"Kok gitu? "tanya ansara penasaran

"Ya dia ga setuju untuk gue berhijab, katanya malu-maluin, harusnya gue yang malu punya mama kaya dia yang sudah berumur tapi masih buka aurat, jujur gue sedih sekali harus bercerita ini sama lo, ini aib sih sebenarnya, tapi gue juga belum cerita ke siapa-siapa sampai saat ini belum ada orang yang gue percaya untuk menyimpan cerita gue, tapi karena gue sudah cerita ke lo gue butuh doa lo ra, semoga mama gue cepat sadar" ucap rahma

"Kenapa gak lo lepas aja saat di rumah?" tanya ansara

"Di rumah gue lepas krudung, tapi mama tau setiap gue keluar rumah pasti gue selalu pake, katanya keluarga besar gue juga heran sama keputusan gue untuk berhijab setelah masuk SMA"

"Hm gue juga bingung kalau kaya gini, gue juga jadi merasa gimana ya, gue mau membela lo tapi gue juga belum berhijab" ucap ansara

"Hm apa lo belum tahu dasar perintah berhijab ra?" tanya rahma

Ansara menggeleng, ayahnya pernah bilang tapi ia lupa, intinya perintah berhijab itu wajib untuk muslimah

"Jadi perintah berhijab itu sudah Allah tuliskan dalam Al-Quran, surat yang gue tau adalah surat Al-Ahzab ayat 59 bunya gini:

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59)

"Hm ma, gue jadi malu, menurut gue ketika gue sudah ibadah salat dan membaca quran gue sudah dikategorikan sebagai hamba yang taat, tapi gue mengabaikan perintahNya yang lain, doakan gue ya supaya gue juga segera menutup aurat" ucap ansara

"Selalu gue doakan yang terbaik untuk lo, tapi lo gak tersinggung kan?" tanya rahma

"Tentu enggak, eh tapi sampai sekarang orang tua lo gak mencari lo? Hampir setahun loh lo keluar dari rumah itu" ucap ansara

"Gak tahu tuh, asyik sama dunianya kali, sampai lupa kalau masih punya anak, padahal aset yang paling berharga buat orang tua ya anak yang shalehah ya ra, seperti yang selalu lo bilang" ucap rahma sambil terkekeh sedikit, tiap kali berdua dengan ansara ia selalu bilang ingin jadi anak yang baik agar pahala untuk orang tuanya selalu mengalir walaupun sudah meninggal.

"Eh tapi ma, maaf gue tanya lagi, papa lo gak membela lo saat lo diusir?" tanya ansara

Rahma terkekeh pelan

"Papa gue lebih duniawi dari mama ra, mungkin dia baru sadar ketika pulang ke indonesia nanti, dan melihat rumah kosong tanpa manusia" ucap rahma sekenanya

Ansara baru tahu sisi lain rahma, rasanya tiap kalimat yang ia lontarkan disertai sisipan emosi-emosi yang tidak bisa ia luapkan.

"Jadi papa lo kerja di luar negeri? Bukannya ada mama lo di rumah ya?" ucap ansara

"Mama gue itu sama gila kerjanya, gak ada waktu untuk gue dari kecil, kadang gue suka dititipin di rumah nenek, tapi sekarang nenek sudah tua, gue gak ingin merepotkan nenek dengan tinggal bersamanya, bahkan gue baru tinggal full serumah saat gue SMP, karena menurut mama gue udah cukup dewasa untuk mengurus diri gue sendiri" ucap rahma

"Kadang gue gak mengerti, hubungan apa yang sedang dijalani oleh kedua orang tua gue, terikat pernikahan tapi seperti bebas dan asyik dengan dunianya sendiri, kadang gue bertanya-tanya, gue anak mereka atau bukan sih" ucap rahma berkaca-kaca

Ansara merasa bersalah, dia sudah memancing rahma bercerita, apa yang bisa dia lakukan saat ini, ansara bukan tipe orang yang bisa menghibur, mungkin dengan menepuk-nepuk punggung rahma dia bisa menjadi lebih tenang.

"Eh maaf kok gue jadi mellow gini ya, sekarang giliran lo bercerita" ucap rahma sambil menghapus air matanya

"Gue keluar rumah sebenarnya untuk menenangkan diri, mama gue meninggal karena kecelakaan saat pergi keluar kota sama ayah, kalau papa meninggal saat gue umur 6 tahun, papa sakit kanker paru saat itu, kata mama dulu papa perokok berat" ucap ansara

"Tapi kenapa lo harus bekerja, bukankah ayah tiri lo sangat baik?" tanya rahma

"Sebenarnya gue masih belum menerima keteledoran ayah yang membuat mama meninggal, setiap kali ingat itu rasa benci gue ke ayah membuncah, tapi rasanya rasa benci ini hanya bisa muncul saat gue gak lagi sama ayah, ketika ada bersama ayah gue bertindak seperti ansara yang dulu, gue tidak pernah bisa menunjukkan rasa benci gue ke ayah, dia terlalu baik untuk gue benci dan gue bekerja karena gak ingin memakai uangnya aja, tapi pada akhirnya juga gue selalu gagal untuk menolak pemberian ayah" ucap ansara.

"Gini deh ra, setahu gue semua itu udah di atur sama Allah, ajal itu termasuk takdir mubram, Takdir Mubram adalah ketetapan Allah SWT yang sifatnya adalah MUTLAK. Mutlak dalam hal ini artinya tidak bisa dipengaruhi oleh apapun itu termasuk usaha atau ikhtiar dari manusia yang paling sungguh-sungguh sekalipun. Adapun contoh takdir mubram ini antara lain adalah KEMATIAN, JENIS KELAMIN, TERBITNYA MATAHARI, ADANYA SIANG DAN Malam"
Ucap rahma

Ansara diam, ia mungkin terlalu asyik dengan dunia tanpa meperdulikan akhirat, bahkan banyak hal yang belum ia ketahui sendiri tentang islam, dan beruntungnya dia bertemu rahma.

"Iya tapi ma,  gue hanya berusaha untuk menerima takdir itu" ucap ansara

"Gue percaya ayah lo itu orang baik dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang anak selain bersyukur" ucap rahma

Ansara harus bersyukur

"Terimakasih ya ma, karena lo sudah membuka pikiran gue dan mau memberi saran atas masalah gue,  maaf untuk saat ini gue belum bisa kasih saran apa-apa ke lo" ucap ansara

"Iya gak apa-apa ra, seiring berjalannya waktu juga semua ini akan berakhir, eh btw ini gue bawain puding, gak semahal makanan lo ,tapi kata ustadz gue, kalau kita diberi suatu kebaikan oleh seseorang, misalnya semangkuk bakso, mencuci mangkoknya saja tidak cukup, kalau ada rizki bisa dikembalikan dengan isi yang lain, jadi gue kasihkan puding gue untuk lo" ucap rahma tersenyum

Dan bagi ansara, rahma adalah salah satu kebaikan lain yang Allah berikan untuknya

"Makasih sekali lagi ma" ansara mengambil puding rahma, dan membukanya

"Makan bareng aja yuk" tawar ansara

"Udah makan dulu aja, siapa tau kurang, puding gue enak loh" ucap rahma sambil terkekeh

ANSARA JOURNEYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang