"Rasanya aku mau muntah." kataku sambil memeluk selimut lebih erat. Posisiku duduk di atas kasur hotel dengan kaki tertekuk ke atas. Wajah serius Jeff yang membaca pesan-pesan di ponselnya semakin membuatku gugup. Ia tidak tahu asal bocornya foto pra pernikahanku dengan Harry dan masih menyelidikinya.
Sedangkan Harry, semenjak pulangnya kami dari Pinkberry ia tak banyak berbicara. Hanya menanyaiku jika perlu, sibuk dengan ponselnya, yang mana aku yakin bahwa ia tidak suka akan masalah ini. Hingga sekarang ia masih mengerutkan alisnya sembari menatap layar ponsel di kursi dekat televisi menggantung.
Kami baru sampai di Las Vegas satu jam yang lalu dan singgah di hotel bintang 5 seperti biasa. Sebentar lagi, waktunya Harry dan band-nya harus melakukan gladi bersih di T-mobile Arena. Aku tidak ingin ikut.
"Kalian yakin bukan kerabat kalian yang membocorkan?" tanya Jeff.
Aku melihat ke sembarang arah, berpikir jika kerabat yang membocorkan mana mungkin media menyebut-nyebut hacker dan leak.
"Tidak ada yang menyimpan foto itu kecuali keluarga." kata Harry.
"Dan... kalian." kata Jeff. "Benar?"
Lagi-lagi aku tidak ingin melihat reaksi Harry. Astaga, mengapa keadaan menjadi canggung?
"Hey, aku bicara dengan kalian!" protes Jeff. Oh, jadi Harry tidak menunjukkan reaksinya juga?
"Ya." kataku pada akhirnya, masih enggan menatap Harry. "Meski aku tidak yakin Harry menyimpannya."
"I do." jawab Harry.
Ada perasaan lega saat pria itu mengakuinya. Saraf senangku menari-nari mengakibatkan kontrolan pada otot pipiku hilang kendali. Aku melipat bibirku ke dalam untuk menahannya.
"Kalian yakin tidak pernah mempostingnya dimana pun?"
"Kamu pasti bercanda dengan pertanyaanmu." kataku mencemooh. Yang benar saja, jelas-jelas dia tahu sejarah perjodohan kami.
Tidak sengaja mataku mendapati Harry yang menatapku dengan tatapan—entahlah. Aku tidak dapat mengartikan arti dari tatapan tersebut. Datar namun ada aura tersembunyi yang sulit diartikan.
"Kalian tahu, seharusnya kalian membantuku—sedikit." Jeff menekan kata terakhirnya. Memasukkan ponselnya pada kantung jeans belakang, "jujur, apa kalian keberatan karena foto itu tersebar luas?"
Kami diam.
"Oh, come on! Ada apa dengan kalian?"
Cepat-cepat aku menimpali. "Bagaimana ya, Jeff? Permasalahan intinya bukan kami, tapi dari mana foto itu tersebar. Bukankah itu mengerikan? Jika kamu ada di posisi kami apakah kamu tidak merasa privasimu terancam?"
Jeff mendengus. "Ya sudah, nanti aku lanjutkan. Ayo, Har, ini sudah waktunya."
Dengan begitu Jeff meninggalkan ruangan kami. Penglihatanku mengikuti punggungnya hingga ditelan pintu yang tertutup membuatku mendapati Harry (lagi) satu-satunya makhluk bernapas di sekitaranku. Kali ini ia—berusaha—tersenyum, kemudian menghampiriku dan duduk pada pinggiran kasur. "Kamu ikut?"
Aku menggeleng.
"Jetlag?"
"Mungkin?"
"2 jam penerbangan dan kamu jetlag? Tumben sekali."
Aku menggindikkan bahu.
Tatapannya... aku benci tidak dapat mengartikan tatapan itu. Ia tidak pernah menatapku seperti orang yang—astaga, aku tidak tahu dan bersumpah sangat ngeri akan hal ini. Pasti sesuatu terjadi. Tapi apa? Apa hanya karena foto pra pernikahan yang disebar luaskan secara ilegal? Rasanya aku ingin menangis saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE END
FanfictionAku bersamamu karena sebuah ikatan, bukan landasan. H ✎ 𝘰𝘯 𝘨𝘰𝘪𝘯𝘨 ... 「written in bahasa 」 Copyright ©2020 by 𝘁𝗮𝗸𝗶𝗻𝗴-𝗮𝗹𝗹𝘁𝗵𝗲𝗿𝗶𝘀𝗸
