Rey membatalkan janji karena harus menemani sepupu kesayangannya itu. Key hanya tersenyum kecut, dia langsung pergi menuju tempat tujuannya yaitu Rumah Sakit. Tempat Rey sedang menemani Maya, jika mereka harus putus atau mereka harus berkelahi di Rumah Sakit. Key tidak peduli lagi, sampai terluka-luka juga tidak masalah karena itu adalah Rumah Sakit. Key sudah siap dengan segala apa yang menghadangnya disana.
***
"Boleh gue masuk ?"
Rey terkejut karena mendapati Key yang ada di dekat pintu ruangan Maya, Key dari tadi ada diluar ruangan Maya karena menunggu Rey keluar dari kamar tersebut. Dia tidak mau langsung masuk dan marah-marah.
"Key..."
"Boleh gue masuk ?"
"Jangan buat keributan disini ya."
"Wah, ternyata pikiran lo tentang gue selalu negatif ya ?"
"Bukan gitu..."
"Gue boleh masuk ? Tapi tanpa lo ?"
Rey hanya diam, dia takut salah bicara. Tapi Key mengangguk perlahan dan mendorong pintu ruangan Maya.
"Lo diluar aja, masuk kalau gue udah ngeluarin pisau."
"Key..."
Key hanya terkekeh, melihat pacarnya yang ketakutan seperti sedang ketahuan selingkuh.
Pacar ya ? Apa masih iya, setelah ini ?
"Rey..." Maya langsung murung saat tahu Key yang memasuki kamarnya. Key berjalan mendekat ke Maya.
"Apa lo ?!"
"Galak banget." Jawab Key sambil terkekeh.
"Gue bakalan ninggalin Rey." Lanjut Key.
Maya langsung duduk dan menatap sumringah, sedangkan Key hanya bisa tertawa remeh saat melihat sikap dari Maya. Key perlahan mendekat dan mulai berbisik.
"Asal dia yang mutusin gue." Key tersenyum dan menyilangkan kedua tangannya.
"Lo gila ! Tinggalin Rey sekarang juga, karena lo ! Rey jadi ninggalin gue, lo adalah pemisah antara gue dan Rey, lo jahat !"
"Gue gila ?! Lo yang gila !!! Lo itu sepupu Rey, lo keluarga dia. Lo ada hubungan darah !"
"Gue nggak peduli, Rey sayang gue dan gue sayang Rey ! Lo penganggu !"
"Kalau emang kalian saling sayang, suruh Rey mutusin gue bangsat !" Key sudah tidak tahan lagi, dia langsung mengeluarkan kata-kata kasarnya. Dia bisa jadi ikutan gila, jika terus berdebat dengan Maya.
Maya terkejut, dia terdiam sejenak. Dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi, tetapi dia langsung mencabut infusnya dan darah keluar dari punggung tangannya.
"Rey !!! Tolong aku !!!"
"Wah gue berhadapan sama psikopat..." Key menggelengkan kepalanya, ini sangat diluar ekspetasinya.
"REY SEPUPU LO YANG KAYAK SETAN PERLU BANTUAN LO !!!" Teriak Key sambil mengedor pintu kamar dari dalam.
Rey masuk dan mendapati Maya tertatih karena darah yang keluar dari punggung tangannya, Rey dengan segera keluar untuk mencari perawat.
Key masih menyilangkan kedua tangannya didada dan mengelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak habis pikir. Dia sudah mengira akan ada jambak-jambakan atau tampar-tamparan, ternyata lebih mengerikan dari perkiraannya. Lalu Key tersenyum kembali menatap Maya, sepertinya Key juga ikut-ikutan psikopat.
"Lo...Juga ragu kan kalau Rey bakalan putusin gue ?"
"Diam Lo !!!"
Key hanya menjulurkan lidahnya dan menjulingkan matanya untuk mengejek Maya, sampai akhirnya Rey datang dengan perawat untuk memeriksa kondisi Maya. Rey bukannya ke Maya, malah menatap Key.
"Gue sengaja cabut infusnya, biar mati sekalian." Ucap Key sebelum dicecar dengan berbagai pertanyaan oleh Rey.
"Ayo keluar dulu."
"Nggak usah, gue mau pulang aja. Malas gue kalau lo marah-marah."
"Suster, saya keluar dulu ya. Mohon bantuannya." Ucap Rey.
Rey membawa Key keluar dari ruangan Maya, Maya hanya terdiam karena dia tidak bisa berkata apa-apa. Rey sama sekali tidak mau melihatnya, dia malah fokus pada Key.
***
Sekarang Key dan Rey ada dikantin Rumah Sakit, mereka masih saling diam dan sesekali melirik satu sama lain. Sampai pada akhirnya, Key geram dan ingin memulai percakapan duluan.
"Arghhh---" Frustasi Key sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Sini tangan lo." Rey mengeluarkan sebuah salep luka, Key yang melihat itu langsung menarik tangannya.
"Nggak sudi gue, itu pasti punya Maya !"
"Gue baru beli, dari tadi gue udah liat tangan lo melepuh gitu. Kenapa ?"
"Kebakar api cemburu !"
"Masih sempat aja ngelawak."
"Biasa lah, kena oven. Habis bantuin bunda tadi, tapi lupa disalepin karena lo batalin janji. Langsung kebal tangan gue, nggak berasa apa-apa."
"Maaf..."
Key menatap Rey bingung, seharusnya Rey marah-marah dan murka dan apa saja bisa terjadi. Tapi kenapa dia malah biasa saja dengan Key, seakan tidak ada masalah apa-apa.
"Apa dipertahanin aja ya ?" Gumam Key.
"Apa yang mau dipertahanin ?"
"Dengar aja telinga lo!"
Key masih tetap jutek menjawab semua pertanyaan Rey, sementara itu Rey hanya terkekeh melihat kelakuan Key yang kesal melihat dirinya. Lalu pandangan Rey terfokus kepada orang yang tidak jauh darinya sedang melambaikan tangannya dengan raut wajah konyolnya, Rey mendengus dengan seseorang yang sedari tadi menemani Rey diluar ruangan Maya.
"Astaga!" Teriak Key.
"Gue tadi kesini bareng Wira." Lanjut Key.
"Udah pulang dia."
"Kok pulang ? Gue gimana ?"
"Gue usir, bikin sesak Rumah Sakit aja. Nanti gue antar pulang."
"Sembarangan banget sih lo jadi orang."
"Lo juga sembarangan."
(To Be Continue)
Pasti kaliannn menunggu baku hantam kan :)
Itu sudah ya, baku hantamnya terlihat estetik dengan Playing Victim :')
Masih kuat nggak dengan chapter² selanjutnya yang pastinya mungkin saja akan menyebalkan ?
😂😂😂
Terima Kasih yaa kepada kalean walaupun mungkin lupa sama cerita ini, tapi masih tetap bertahan 💛
KAMU SEDANG MEMBACA
ZONA NYAMAN
Kurzgeschichten"Berduri kayak kaktus. Kaktus nomor 1, gue nomor terakhir. Level gue lebih rendah daripada kaktus. Gue kalah saing sama kaktus nya yang penuh duri itu." -Key Melodi Putri- "Sampai kaktus gue mati gara-gara lo, gue botakin kepala lo. Bodo amat mau p...
